Taaruf (Pentigraf)

Hari itu tiba-tiba saja Arin meminta restuku untuk menikah. Aku kaget karena selama ini yang ku tahu dia belum punya kekasih meski usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Bukan karena tak laku tapi karena Arin, anak semata wayangku ini begitu pemilih. Wajahnya yang cantik mirip almarhumah ibunya membuat banyak lelaki mendekat tapi dia selalu menolak secara halus dengan alasan yang tak ku tahu. 


Keesokan harinya, laki-laki itu datang melamar bersama kedua orang tuanya. Dimas namanya. Dia lebih tinggi dibandingkan aku yang berpostur seratus tujuh puluh sentimeter, wajahnya tampan, hidungnya mancung, berkulit sawo matang dan ada jenggot tipis di dagunya yang lancip. Profesinya sebagai dokter hewan memang cocok dengan Arin yang sangat menyayangi binatang. Apa mungkin karena ini Arin jadi setuju untuk menikah padahal mereka baru saling mengenal tak lebih dari dua pekan? 


Hari ini, satu bulan setelah lamaran, aku menikahkan putri kesayanganku ini. Di hari ini pula aku mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan begitu merdu oleh menantuku, sungguh menenangkan hati. Aku dengar dia adalah seorang yang hafal Al-Quran, entah apa istilahnya. Aku menjadi sangat bersyukur, Arin mendapatkan suami yang baik dan taat beragama. Tak seperti diriku yang sibuk bekerja setiap hari hingga meninggalkan shalat dan mengaji. Oh Tuhan, maafkan aku. Aku ingin berubah.


Bondowoso, 8 November 2021


#TantanganMenulis

#Hari1

Komentar