Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Memilih Bahagia (Bagian 11)

Menjelang sore, Erma kembali ke kosan. Hatinya yang tadi kesal, kini menjadi bahagia seolah pelangi baru saja datang setelah badai menerjang.  "Ciee... Ada yang lagi bahagia nih," Desti menggoda Erma yang akan membuka pintu kamarnya. "Dari mana sih? HP ketinggalan atau emang sengaja gak dibawa? Berisik tau. Tunangan cakep telepon melulu." "Lah tau dari mana kalau dia yang telepon?" Kata Erma menyelidik.  "Hei, gadis cantik yang pelupa. Pintu kamarmu gak dikunci. Nada deringmu heboh kayak bu kos nagih uang bulanan. Kabur kemana sih?" Desti memperhatikan Erma dari ujung kepala hingga ke kaki.  "Aku bete." Erma menjawab sambil membuka pintu kamarnya. "Mas Hendra telepon terus, capek aku nolaknya. Dia ngajak aku ke acara nikahan temannya." "Oo gitu. Tapi akhirnya jadi bahagia kan? Itu buktinya, sampe sini wajahmu jadi shining shimmering splendid." Desti terus saja menggoda sambil mengikuti Erma ke dalam kamar.  "Oh ...

Memilih Bahagia (Bagian 10)

Erma terlihat tak acuh pada gawainya yang berdering. Nama Hendra yang terpampang di layar semakin membuatnya enggan untuk menerima panggilan itu. Erma terus saja berbaring dengan wajah yang cemberut menghadap langit-langit kamar kos berukuran empat kali lima. Ia lalu meraih sebuah bantal besar di sisinya dan menutupkannya ke wajah. Dengan kedua tangannya, ia semakin menekan bantal ke wajahnya lalu berteriak keras penuh kekesalan.  Beberapa menit sebelumnya, sang bapak menelepon Erma dengan amarah yang tak terbendung. Laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun itu kecewa dengan sikap Erma yang menolak ajakan Hendra untuk menemaninya menghadiri pesta pernikahan temannya. Sibuk dengan tugas tentu adalah alasan logis yang bisa Erma katakan. Tapi sang bapak yang mendengar penolakan Erma dari sang istri menjadi berang. Erma harus hadir bersama Hendra tak peduli apapun alasannya.  Erma beranjak dari tempat tidurnya. Ia berganti pakaian. Rok span berbahan jeans biru selutut dan kemeja ...

Kursi Tunggu

Menunggu adalah sebuah proses sebelum sampai di titik yang dituju. Menunggu tak jarang mengundang ragu, tamu yang sesungguhnya tak diundang tapi intens datang entah dari mana. Ragu bagiku adalah kumpulan gelisah, resah dan bimbang yang berpadu membentuk koloni baru. Koloni yang mungkin awalnya kecil lalu kemudian merebak tak terkendali, memintaku mundur segera atau ia terus merongrong hingga berhenti menunggu sepenuhnya sebagai akhir cerita.  Jika engkau berpikir menunggumu setelah dua purnama berlalu adalah hal mudah, maka selayaknya engkau berpikir bahwa merubah air laut menjadi sirup ceri adalah hal yang lumrah. Lalu aku tak perlu terperangah dengan semua itu.  Menyapaku dalam diammu itu yang engkau katakan. Sedangkan bagiku, semua adalah pengabaian, sebuah titik yang tak pernah dapat ku terka karena bahasa hatimu belum pernah kupelajari di bangku sekolah.  Aku pernah terluka sebelumnya setelah berhasil menunggu seseorang selama dua pekan. Waktu yang tak singkat bagiku...

Memilih Bahagia (Bagian 9)

Setelah sempat terkesiap dengan kedatangan Hendra, Nelly lari mengejar Hendra yang sudah sampai di luar pagar hendak memegang gagang pintu fortunernya. Nelly meraih tangan Hendra agar menoleh padanya.  "Dra, jangan salah paham dong. Biar aku jelasin dulu kedatangan Robby ke sini." Nelly memandang Hendra dengan serius. "Kami sudah lama gak ketemu. Kami putus sehari setelah kita berdua putus." Hendra menepis tangan Nelly. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Ia hanya menatap ke dalam mata gadis cantik itu, berusaha menemukan kejujuran di sana.  Jika Sri Rama meminta Dewi Shinta untuk masuk ke dalam bara api demi membuktikan kesuciannya setelah lama hidup bersama Rahwana, lalu bagaimana cara Hendra membuktikan cinta yang katanya masih ada di dalam hati Nelly? Sedangkan Nelly dengan pasrah hati mau diculik hatinya oleh Robby, tak seperti istri Sri Rama itu. "Itu bukan urusanku. Aku cuma mau balikin jepit rambut. Kamu mau ngapain aja sama Robby, aku gak mau tau!...

Memilih Bahagia (Bagian 8)

Seperti pisau dapur, seseorang tak akan tahu tajam tumpulnya tanpa mencoba menggunakannya untuk memotong kentang. Begitu juga hati, tak akan ada yang tahu sedalam apa gejolaknya tanpa dipertemukan dengan sesuatu yang membuatnya gelisah.  Hendra yang awalnya hanya menerka sisa cintanya pada Nelly setelah pengkhianatan yang dilakukan sang kekasih, nyatanya tak dapat menolak sentuhan lembut perempuan yang pernah mendampinginya selama setengah windu itu. Degup jantungnya semakin kencang, tatapannya menjadi teduh, tenggorokannya tiba-tiba saja menelan ludah, saat wajah mereka begitu dekat hingga Hendra bisa merasakan hembusan nafas Nelly yang mulai tak beraturan.  Mendekat, Hendra semakin mempersempit jarak wajahnya dengan Nelly, ia memiringkan kepalanya, bibirnya sedikit terbuka. Gadis cantik itu terbawa suasana lalu menutup matanya.  "Pulang, aku ngantuk!" Bisik Hendra di telinga kiri Nelly. Gadis itu terkejut dan membuka mata. Ia tak sempat berkata-kata. Hendra menarik tang...

Memilih Bahagia (Bagian 7)

Butiran-butiran air dari langit tak lagi jatuh. Angkasa menjadi sangat cerah, seolah tak ada jejak gerimis yang mencumbunya. Bulan sabit terlihat jelas, tak ada awan yang menutupi pesonanya. Seperti pesona Erma yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam hati Hendra tanpa ia sadari.  Berbicara dengan Erma adalah hal yang menyenangkan, santai dan renyah, itulah yang Hendra rasakan sejak dulu. Mereka tetangga yang cukup akrab dan dekat. Beberapa kali Erma dan Hendra pergi bersama saat mempersiapkan acara selamatan desa atau sama-sama menjadi panitia agustusan saat masih sekolah. Terpaut usia tiga tahun, mereka tak canggung satu sama lain.  Tak terasa perut mereka bertiga mulai protes karena antrian tahu tek yang cukup lama. Lima belas menit sudah, tapi makanan yang mereka pesan belum juga tersedia. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di tempat sambil menikmati suasana yang nyaman.  Hendra yang duduk berhadapan dengan Erma, melirik jari manis perempuan dua puluh satu tahun i...

Luka Masa Lalu (Pentigraf)

Sulis duduk di sebuah kursi stainless panjang bersama ibunya yang telah tua renta. Sang ibu merebahkan kepalanya ke bahu Sulis yang dengan lembut membelai tangan wanita berusia tujuh puluh delapan tahun itu. Lebih dari tiga puluh orang juga tampak di sana. Mereka sama-sama mengantre untuk memeriksakan diri ke seorang dokter saraf di sebuah rumah sakit terkenal. Meski berada di luar kota dengan jarak tempuh lima jam, Sulis tetap mengajak sang ibu untuk berobat ke sana karena fasilitas rumah sakit di kotanya belum lengkap. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk kesehatan sang ibu.  Nomor antrean dua puluh empat membuat Sulis dan ibu menunggu cukup lama hingga lebih dari satu jam. Mereka sengaja datang lebih awal agar tidak terlambat. Untung saja saat ini Sulis mengajak seorang sopir untuk mengendarai Alphard miliknya, sehingga perjalanan jauh ini tidak begitu terasa melelahkan dan ia bisa selalu membersamai sang ibu. Nomor antrian sembilan belas dipanggil. Nama yang disebutkan petuga...

Memilih Bahagia (Bagian 6)

Saat bersantai selepas isya, Hendra menelepon Erma hingga lima kali tapi Erma tak menjawab. Ia membiarkan gawainya menyanyikan lagu wishes oleh Jamie Miller. Erma yakin Hendra akan membahas kedatangannya ke rumah Nelly pagi tadi. Dia percaya bahwa Nelly tak akan diam saja dan langsung menghubungi Hendra.  Pesan teks masuk.  _Kenapa teleponku gak diangkat, Dik? Apa dik Erma sibuk?_  Erma hanya membacanya tanpa ada keinginan untuk membalas. Dan benar saja, tak ada pesan teks ataupun telepon lagi setelah itu. Erma lega. Lalu ia mulai memejamkan mata meski jam belum menunjukkan pukul delapan malam dan teman-teman kosnya masih riuh bercanda. Suara Desti membangunkan Erma yang sempat terlelap sekitar satu jam. Ia memaksa Erma bangun dan mengajaknya keluar untuk membeli makan malam. Erma menolak. Namun setelah dirayu beberapa menit, akhirnya Erma menuruti permintaan sahabatnya itu. Di sebelah gerbang kosan, sebuah fortuner putih terparkir. Sang pengendara tampak masih duduk di k...