Memilih Bahagia (Bagian 11)
Menjelang sore, Erma kembali ke kosan. Hatinya yang tadi kesal, kini menjadi bahagia seolah pelangi baru saja datang setelah badai menerjang. "Ciee... Ada yang lagi bahagia nih," Desti menggoda Erma yang akan membuka pintu kamarnya. "Dari mana sih? HP ketinggalan atau emang sengaja gak dibawa? Berisik tau. Tunangan cakep telepon melulu." "Lah tau dari mana kalau dia yang telepon?" Kata Erma menyelidik. "Hei, gadis cantik yang pelupa. Pintu kamarmu gak dikunci. Nada deringmu heboh kayak bu kos nagih uang bulanan. Kabur kemana sih?" Desti memperhatikan Erma dari ujung kepala hingga ke kaki. "Aku bete." Erma menjawab sambil membuka pintu kamarnya. "Mas Hendra telepon terus, capek aku nolaknya. Dia ngajak aku ke acara nikahan temannya." "Oo gitu. Tapi akhirnya jadi bahagia kan? Itu buktinya, sampe sini wajahmu jadi shining shimmering splendid." Desti terus saja menggoda sambil mengikuti Erma ke dalam kamar. "Oh ...