Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Memilih Bahagia (Bagian 5)

Acara pertunangan bagi sebagian besar orang dianggap lancar dan membahagiakan, tapi tidak bagi Erma. Dia semakin menunjukkan rasa tidak suka dengan mengunci diri di dalam kamar, menjauh dari semua orang. Dia tak mempedulikan bapak dan ibunya yang telah beberapa kali mengetuk pintu kamar agar Erma keluar bergabung dengan para saudara atau duduk menemui Hendra dan orang tuanya. Sebelum memasuki kamar, Erma telah membawa cukup makanan, kue dan buah-buahan untuk bekal mengurung diri. Ia ingat pesan Uki untuk makan yang banyak agar tetap kuat menghadapi cerita baru dalam hidupnya.  Erma kembali mengingat perempuan yang tadi ia lihat di sebelah meja catering. Jelas dia adalah Nelly, mantan kekasih Hendra. Semua orang di desanya tahu bahwa mereka lama bersama dan entah mengapa hubungan itu berakhir begitu saja lalu Hendra memutuskan untuk melamar Erma dan semua terjadi dengan begitu tergesa-gesa. Padahal Nelly adalah seorang pebisnis kuliner yang sukses, cocok untuk seorang Hendra. Penamp...

Memilih Bahagia (Bagian 4)

Erma memasukkan beberapa kotak kecil es batu ke dalam sebuah gelas kaca di atas meja makan. Susu UHT putih ia masukkan setelahnya, tak lupa espresso cair dengan aroma yang menggugah selera. Warna yang berpadu itu ia tatap lekat sambiI menempelkan dagunya ke meja makan. Erma tak mengaduknya dengan sendok, ia hanya mengguncangnya perlahan agar warnanya semakin berbaur rata. Setelah embun-embun es itu mulai terlihat di permukaan gelas, Erma menempelkannya ke dahi.  "Heh, kenapa wajahmu memelas begitu?" Suara Desti mengagetkan Erma hingga ia menoleh.  Desti menarik kursi di meja makan lalu duduk berdekatan dengan Erma. Erma tak merespon. Ia terus saja menempelkan espresso dingin itu ke dahi dan pipinya.  "Kamu besok pulang kan untuk persiapan acara minggu?" Desti melanjutkan pembicaraannya.  "Ini malah bahas acara pertunangan lagi. Pening nih kepala, puyeng. Siapa tau jadi dingin pikiranku kalau ditempel es begini." Jawab Erma lalu meneguk segelas espresso tan...

Memilih Bahagia (Bagian 3)

Setelan kebaya cantik dan elegan tergeletak di atas kasur. Kerudung, aksesoris dan sandal berwarna perak dengan hiasan manik-manik juga berserakan di sekitarnya. Erma, sang pemilik kamar merebahkan diri di kasur itu dengan wajah kusut. Dia belum punya keinginan untuk mencoba setelan kebaya itu meski acara pertunangan akan dilaksanakan pekan depan. Sekali waktu, ia melirik kebaya itu lalu meremasnya dengan penuh amarah. Sandal berhak lima sentimeter itu juga tak luput dari kegusarannya. Entah sudah berapa kali alas kaki cantik itu terlempar ke tembok kamar seolah ia punya kesalahan yang tak termaafkan.  Pintu kamar diketuk. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya melongok ke dalam kamar.  "Sudah dicoba kebayanya? Gimana? Pas?" Kata perempuan itu tetap dalam posisinya tanpa melangkah sedikitpun ke dalam kamar.  "Males ah. Biarin aja kegedean, gak minat juga!" Jawab Erma sambil menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya.  Wanita paruh baya itu menutup pintu lalu ...

Anggrek vs Kucing (pentigraf)

Betty sebal, bunga anggrek yang baru ia beli kemarin patah. Seekor kucing tetangga melompat tanpa permisi ke atap rumahnya lalu jatuh menimpa anggrek seharga ratusan ribu itu. Mulut Betty mengomel tanpa jeda sambil memandang benci pada kucing kuning gendut yang memilih kabur sebelum sandal Betty melayang tinggi bak roket NASA.  Belum selesai ia merapikan tanah dari pot anggrek yang berceceran, tiba-tiba saja seorang laki-laki mengucap permisi di pagar besi sambil menggendong kucing kuning si tersangka utama. Dia tersenyum lalu meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukan kucing kesayangannya. Ia pun bersedia ganti rugi dan membeli anggrek baru untuk Betty.  Mendengar laki-laki itu berbicara, Betty hanya tertegun tanpa suara. Matanya berbinar melihat visual di hadapannya. Laki-laki dengan kaos oblong dan celana pendek itu mampu merubah bad moodnya menjadi bahagia luar biasa. "Gapapa kok, Mas. Anggreknya cuma sedikit patah saja. Cukup ganti rugi segelas Tea Break saja." Kata...

Kado Tak Terduga (Pentigraf)

Niken baru saja menginjakkan kakinya di teras rumah saat ia melihat sekotak paket yang cukup besar tergelatak di atas meja. Ia mulai mengernyitkan dahi, tak merasa berbelanja online meski nama yang tertulis di sana adalah namanya. Nama pengirimnya tak cukup jelas juga, hanya tertulis "Sahabat." Lalu siapa? Ada rasa khawatir benda itu adalah barang mencurigakan seperti bom yang bisa saja meledak secara tiba-tiba, tapi ternyata rasa ingin tahu Niken lebih besar dibandingkan ketakutannya.  Perlahan, Niken membuka paket yang datang di hari ulang tahunnya itu. Kardus cokelat yang cukup tebal dengan banyak sekali lakban. Lapisan kedua merupakan bubble wrap yang cukup menggelembung melindungi produk di dalamnya. Lapisan ketiga adalah kotak tertulis Adidas. Dan benar saja, di dalamnya adalah sepasang sepatu Adidas running boujirun yang diimpikannya beberapa waktu yang lalu. Terdapat sepucuk surat berwarna biru di sampingnya.  "Dear Niken, selamat ulang tahun. Maafin aku ya gak a...

Derap Kaki Di Bawah Rembulan (pentigraf)

Seorang laki-laki dengan kaos hijau tua yang telah pudar warnanya di bagian bawah tengkuk berlari kencang melewati gang sempit. Sesekali ia menoleh ke belakang, lalu mempercepat larinya. Nafasnya tersengal, mulutnya terus saja terbuka untuk menghirup oksigen yang lebih banyak. Derap kakinya memecah kesunyian malam dengan bulan yang masih separuh. Tumpukan kardus di belakang pertokoan yang sudah tutup tak jarang tercecer ke tengah jalan yang ia lalui. Ia pun melompat atau menyingkirkannya dengan kaki yang mulai gemetar setelah berlari lebih dari tujuh menit. Di ujung lorong buntu langkahnya terhenti lalu ia melompati tembok setinggi dua meter di hadapannya hingga mendarat di halaman belakang sebuah rumah. Sebuah lampu sepuluh watt tergantung di bawah pohon mangga yang berada di sisi kiri. Sisi kanan yang cukup gelap, membuat laki-laki itu memutuskan untuk bersembunyi di sana.  Beberapa detik kemudian, dua orang laki-laki dengan tubuh tegap atletis juga melompati pagar tembok yang sa...

Pesawat Kertas

Suasana kelas 12 IPA 2 begitu riuh selepas lomba tarik tambang dan lompat karung hari ini. Tak ada satupun dari para murid itu yang meninggalkan ruangan. Mereka masih mengobrol santai, memakan camilan bersama teman bahkan berkejaran sambil bersenda gurau seperti anak taman kanak-kanak. Arjuna tak kalah sibuk. Ia menulis sebuah pesan di lembaran kertas yang kemudian ia lipat menjadi pesawat. Ia terbangkan di dalam kelas. Tiupan angin dari jendela yang telah kehilangan kacanya kadang memang tak sejalan dengan pemikiran manusia. Pesawat kertas itu berbelok arah, jatuh ke tempat yang tak semestinya. Opang memungut pesawat kertas yang mendarat di sepatu ketsnya. Penasaran, ia buka setiap lipatannya lalu membaca isinya dengan keras hingga menarik perhatian semua orang di dalam kelas.  "Teruntuk gadis berpita ungu. Tatapan matamu meredakan gerimis dalam kalbu. Kau laksana senja yang tak pernah bosan untuk ku tunggu di setiap penghujung hariku." Katanya dengan mimik bahagia.  "C...

Kasturi

Pekat diantara gerimis Ku hirup petrichor yang beterbangan Tak ada jeda,  Ku hirup lekat, tamak, penuh Berharap ada aromamu yang tersisa diantara beku Ah rintik..bukankah kau selalu meninggalkan jejak? Bondowoso, 11 Februari 2018

Rindu Berbalut Luka (Pentigraf)

Bibirku tak mampu bergerak apalagi berucap. Aku tak sanggup mengatakan kepada ayah dan ibu bahwa mas Dito telah menceraikanku. Malam itu kami bertengkar tentang masalah sepele, penanak nasi yang lupa aku nyalakan hingga nasi belum juga masak selama dua jam. Padahal mas Dito sangat lapar sepulang kerja dan sangat lelah dengan deadline di kantornya. Pertengkaran tak terelakkan. Caci maki, kata-kata kasar sebagai istri yang tak becus dengan pekerjaan rumah terlontar mulus dari mulutnya yang tiga tahun lalu mengucap janji suci pernikahan denganku. Lalu, kata talak itu keluar seperti truk yang mengalami rem blong.  Malam itu aku pergi dari rumah kontrakan hanya dengan membawa pakaian yang melekat di tubuhku dan sebuah dompet yang berisi uang dua puluh ribu. Uang itu cukup untuk membayar ojek online menuju rumah orang tuaku. Sesampainya di sana, aku hanya mampu memeluk ibu dengan air mata deras yang tak mampu aku kendalikan.  Dua tahun berlalu setelah perceraian itu. Aku sudah memaa...

Nazar (Pentigraf)

Gontai, Esti mendaki Gunung Ijen dengan sisa tenaga yang ia punya. Bagi sebagian besar orang, menapaki jalan ke kawah Ijen adalah hal yang mudah tapi tidak bagi Esti yang baru saja mengalami cedera kaki akibat terjatuh dari tangga di lantai dua satu bulan yang lalu. Ia memaksakan diri menyusuri jalan terjal itu demi nazar yang ia ucapkan. Esti berjanji pada diri sendiri untuk mendaki Gunung Ijen jika ia berhasil menjadi juara tiga besar olimpiade bahasa Inggris di kotanya. Sukses, Esti dengan begitu mudahnya menjadi juara pertama karena kemampuan bahasa Inggris yang luar biasa seperti orang asli Eropa. Namun karena terlalu bahagia, dia tak sadar berjingkrak bahagia di dekat tangga setelah pengumuman pemenang lomba. Tubuh Esti menggelundung hingga ke lantai satu. Patah kaki tak terelakkan terjadi. Esti menangis keras, dia benar-benar kesakitan.  Tapi entah mengapa, Esti tetap saja menjalankan nazarnya menuju kawah cantik itu meski tubuhnya sudah berkata tak sanggup. Pijakan kakinya ...