Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Rindu

Gerimis masih saja menetes setelah hujan deras mengguyur sejak siang tadi. Daun-daun mangga mulai rontok, berserakan di halaman yang ditutupi batu kerikil untuk mengurangi genangan air saat hujan deras datang. Paralon di samping rumah masih saja mengeluarkan air sisa hujan dari atap, konsistensinya menyuburkan lumut yang tumbuh di sekitarnya. Suasana dingin menyeruak masuk ke dalam ruang tamu berukuran empat kali lima meter melalui jendela krepyak kaca yang telah pecah beberapa bagian. Gorden bunga berwarna hijau yang tampak lusuh dengan beberapa tambalan berwarna senada menutupi sebagian jendela.  Di dalam ruang tamu, tampak seorang perempuan duduk bersila seorang diri di atas sebuah kursi rotan yang tak lagi rapi anyamannya. Sehelai kain sarung usang menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Matanya yang sayu menatap sendu ke luar jendela, ada gurat kesedihan yang jelas terlihat di wajahnya yang masih belia. Terkadang senyum tipis terbentuk di bibirnya saat melihat beberapa orang di ...

Angkuh

Meniti semesta melalui netramu Menerka rindu dalam setiap detak jantungmu Apakah masih aku, Edelwis yang kokoh berakar di tepi tebing rasamu? Separuh windu engkau biarkan ragu bertalu Menyisakan aku dan hati yang membisu Kini, izinkanlah aku  Meminang rindu yang enggan muncul di sudut senyummu Menggilas bimbang yang selalu berseteru dalam hatimu Lalu biarkan cinta itu mengembang, angkuh Laksana layar di tengah samudera jauh Bondowoso, 28 Desember 2021

Guru Honorer

Tanggal tua di akhir tahun seperti saat ini, sebagian besar orang telah memiliki rencana untuk berlibur ke luar kota, tapi tidak bagi Rasyid. Jangankan untuk bertamasya bersama keluarga, beras untuk makan besok saja dia tak punya. Sang istri sudah beberapa kali mengingatkan bahwa tak ada stok beras yang tersisa. Rasyid meminta istrinya untuk bersabar, mungkin saja hari ini ada keajaiban rezeki untuk membeli beras.  Sebagai seorang guru honorer dengan gaji yang tak sampai tiga ratus ribu sebulan, Rasyid berjualan bensin eceran di depan rumahnya untuk menambah penghasilan. Namun tiga hari ini berbotol-botol bensin itu belum laku terjual.  Di tengah kegalauannya menunggu uang datang, tiba-tiba seorang teman menelepon memberi kabar bahwa tunjangan guru honorer sudah masuk rekening dan bisa segera dicairkan. Mendengar kabar yang sangat membahagiakan, Rasyid bergegas menyalakan motor Astreanya lalu menuju bank. Nomor rekening itu tidak dilengkapi kartu ATM sehingga mengecek saldo ya...

Kawin Lagi

Ibu telah bercerai dengan ayah saat aku masih duduk di bangku TK. Saat itu aku belum mengerti apa yang membuat mereka berpisah. Pada akhirnya beberapa tahun setelahnya aku tahu semua karena ayah berselingkuh dan dia menikahi perempuan itu yang kini aku panggil sebagai mami. Di pernikahan keduanya, ayah memiliki dua orang anak laki-laki kembar dan aku sangat menyayangi mereka.  Berbeda dengan ayah, ibu baru menikah lagi saat aku berusia sepuluh tahun. Bapak, begitu aku memanggilnya. Di pernikahannya ini, ibu memiliki anak perempuan cantik bernama Nesya. Bapak adalah sosok yang sangat baik dan begitu perhatian kepadaku seperti anak kandungnya. Tapi aku tak lama merasakan kasih sayang itu. Gagal ginjal yang dideritanya membuat ia semakin lemah lalu ia meninggal lima tahun setelah menikahi ibu.  Hari ini, Nesya berulang tahun yang kedelapan. Aku menjemputnya dari tempat lesnya. Sengaja aku luangkan waktu meski akhir-akhir ini aku begitu sibuk try out persiapan ujian masuk pergurua...

Mama Cumlaude

Seperti biasa sebelum jam setengah enam pagi, pak Har sudah mangkal di depan rumah bu RT. Para ibu kompleks berkumpul untuk membeli sayur, daging dan bahan makanan lain untuk dimasak. Tak jarang juga pak Har membawa masakan yang tinggal dihangat saja di rumah agar sarapan pagi bisa ringkas tanpa sibuk memasak.  "Loh tumben, Bu Warso beli sayur lodeh hari ini?" Kata bu Yayak yang tangannya kalah cepat untuk meraih sayur lodeh yang hanya tersisa satu bungkus.  "Iya nih, lagi males buat kuah. Jadi tinggal goreng ikan nila saja." Kata bu Warso sambil memilih ikan nila segar.  "Iyalah ibu-ibu, sekali waktu gapapa dong kita beli masakan yang udah jadi, sedikit males gapapa asal gak tiap hari kayak bu Tofan itu." Kata bu Lia ikut nimbrung sambil berpura-pura memilih kemangi. "Ih, kok kemanginya banyak yang kurus sih, Pak, gak kayak badan saya." "Eh bener banget kata bu Lia. Bu Tofan itu ya hampir tiap hari beli masakan jadi. Ya sayur lodeh, ya kuah...

Pria Tamagotchi

Pagi itu, lima belas Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, embun pagi yang begitu tebal membuat semua orang menggigil kedinginan. Ayu kecil yang sedang flu semakin sering bersin namun ia memaksa datang ke sekolah meski badannya juga sedikit demam. Dengan memakai sweater Joger berwarna merah bata yang menutup seragam putih merah, gadis yang duduk di bangku kelas satu itu turun dari sepeda motor ayahnya. Bergegas ia masuk ke kelas dan mencari seseorang yang membuat tidurnya tak nyenyak semalam. Namun hingga bel masuk sekolah berbunyi, sosok itu belum datang juga.  Bu Ratri, sang wali kelas memasuki ruang kelas. Sebelum memulai pelajaran, ia memberi pengumuman bahwa Dio, salah satu murid di kelas itu pindah sekolah ke Singapura. Semua anak di dalam kelas riuh bertanya, dimana itu Singapura. Sebagian dari mereka menjawab bahwa itu adalah tempat yang sangat jauh, tak bisa ditempuh hanya dengan angkot yang biasa lewat di depan sekolah. Diantara keriuhan para murid yang bertan...

Setangkai Mawar Merah (pentigraf)

Setangkai mawar merah berdiri kokoh di dalam sebuah botol kaca. Dengan sedikit air di bagian dasar botolnya, mengisyaratkan sang pemilik tak ingin ia cepat layu dan mengering. Warna merah sang mawar begitu kontras dengan kamar tempat ia berada. Dinding bercat putih salju, kelambu dan sprei polos berwarna biru langit dan taplak meja berwarna putih membuat sang mawar tampil dominan diantara semuanya.  Mawar itu datang dua hari yang lalu di siang gelap dengan petir dan hujan deras. Teddy tergopoh-gopoh turun dari sedan tuanya lalu masuk ke dalam rumah dan memberikan setangkai mawar merah itu kepada Mayang, istrinya. Beberapa hari sebelumnya Mayang merengek karena sang suami tak bisa romantis, tak pernah sekalipun dia menerima mawar bahkan sejak dulu mereka berpacaran. "Ini, Bun, mawar merah untukmu. Nah, apa aku sudah bisa dibilang suami romantis sekarang?" Dia tertawa keras lalu menuju meja makan untuk makan siang. Sang istri bahagia tak terkira. Setangkai mawar merah di tengah...

Bule Hongkong

Sudah lebih dari lima menit angkot yang ditunggu Rena tak juga lewat. Ia lalu berjalan kaki santai. Sesekali ia menoleh  berharap mobil berplat kuning itu melintas. Cukup jauh dia melangkah dari tempat les bahasa Inggris tapi kendaraan umum yang diharapkan belum juga muncul.  Lelah berjalan, warung degan ijo di pinggir jalan membuatnya tertarik untuk mampir dan melepas dahaga. Tak disangka, ada seorang bule yang sedang duduk di sana.  Setelah memesan segelas es degan, dengan penuh semangat ia menerapkan ilmu bahasa Inggris yang baru saja ia terima. Ia menyapa sang bule dengan ramah.  "Hello, Sir. Good afternoon (Hello, Pak. Selamat sore)." Sapa Rena penuh percaya diri dengan logat bahasa Inggris Madura.  "Oh, hi, good afternoon! (Hai, selamat sore!)" Sang bule membalas dan tersenyum ramah.  "Mm...you like coconut young or gorengan? It is delicious (Apakah kamu menyukai degan dan gorengan?)" Rena memperpanjang obrolan sambil membuka kamus di gawainya. Dia t...

Memilih Bahagia (Bagian 2)

Mata Erma masih bengkak. Isak tangisnya belum juga reda meski sepuluh menit telah berlalu. Soto babat dan soto ayam yang tersaji di meja tak juga disentuh. Aromanya yang tajam dan tampilan kuah pekat serta koya yang berlimpah serasa tak mampu membangkitkan selera dua insan itu.  Cerita Erma membuat Uki terkesiap, tak ada komentar yang mampu dia ucapkan, tak ada bayangan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menenangkan hati Erma sekaligus hatinya sendiri. Lama, hingga adzan isya hampir berkumandang, teh botol dingin di genggaman mereka akhirnya diteguk namun dinginnya tak mampu menjernihkan pikiran kacau yang sedang mendera keduanya. "Ayo kita makan lalu lanjut pulang. Perjalanan kita cukup jauh." Hanya kalimat singkat dan sangat sederhana ini yang mampu diucapkan Uki.  Dalam perjalanan pulang, tak ada canda tawa diantara kedua insan itu. Mereka sibuk dengan pikiran dan rencana masing-masing. Uki merasa masih ada kesempatan untuk meyakinkan keluarga Erma. Beberapa bulan s...

Selingkuh Dari Selingkuhan

Sepekan setelah putus, Gun mengirim pesan teks kepada mantan kekasihnya, Dila. Dia meminta Dila untuk mengembalikan semua barang pemberiannya dan dikirim via paket.  Dila kaget dan tak mengerti dengan jalan pikiran Gun. Bagaimana bisa barang yang sudah jadi hak miliknya diminta kembali hanya karena mereka putus. Tak ingin memperpanjang urusan dengan mantan pacar yang over protective, pencemburu namun ternyata punya selingkuhan, Dila mengirim semua barang pemberian dari Gun, tak terkecuali skincare yang masih tersisa separuh botol.  Paket sampai di rumah kontrakan Gun tepat di saat kekasih baru Gun sedang berkunjung. Gun tak mampu menutupi bahwa paket itu berasal dari Dila karena tertulis jelas nama pengirim di kardusnya. Sang kekasih penasaran barang apa yang dikirim oleh mantan kekasih Gun itu padahal yang ia tahu mereka telah putus hampir setahun yang lalu. Sang gadis membuka paket dengan kardus berukuran besar itu. Dia melihat jaket Dust berwarna merah muda yang masih sanga...

Afgan KW

Sepulang dari mengaji sore di surau, Vigo disambut oleh ibunya di depan pintu. Setelah memastikan anak sulungnya yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu masuk kamar, sang ibu lalu pergi ke belakang untuk memandikan anak bungsunya yang masih berusia delapan bulan. Tak lama setelahnya, Vigo berjalan pelan ke luar rumah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti James Bond yang sedang beraksi agar tak ketahuan musuh. Tak lupa ia membawa uang sepuluh ribu yang sebelumnya ia dapatkan dari mencungkil celengan ayam di kamarnya. Sesampainya di teras, Vigo langsung berlari kencang ke luar gang rumahnya. Di pintu masuk gang, seseorang yang menjadi idola barunya telah standby. Ya, Hamim sang penjual siomay yang baru satu minggu berjualan ini tengah viral di kalangan warga. Tentu saja karena rasa siomay yang benar-benar menggugah selera dan wajah sang penjual yang mirip Afgan. Tak sedikit gadis SMA bahkan ibu-ibu di perkampungan itu yang menjadi fans setianya.  Vigo riang bukan kepalang...

Sambal Cinta Level Sepuluh

Saat sebagian besar warga di minggu pagi sibuk berolahraga atau membersihkan area rumah, bu RW malah sibuk mengurus pak RW yang bolak-balik ke toilet. Diare yang dialaminya disinyalir akibat makan di warung Zulaikha semalam. Berbagai cara dilakukan untuk mengobati pak RW, dari minum obat yang dibeli di warung pak Tedjo yang begitu keberatan warungnya diketok di pagi buta, hingga minum air seduhan daun jambu biji yang bu RW minta ke tetangga sebelah rumah. Semuanya nihil! Pak RW masih saja mengeluh sakit perut dan kembali ke toilet setiap sepuluh menit.  Tak bisa menahan emosi yang semakin memuncak, bu RW mendatangi Zulaikha ke rumahnya. Ia menyatakan keluhan tentang masakan Zulaikha yang membuat pak RW diare parah. Bu RW marah dan menuduh kemungkinan masakan Zulaikha tidak terjamin kebersihannya. Zulaikha kaget tapi ia berusaha menenangkan bu RW.  "Mohon maaf, Bu RW. Semalam bapak ke sini waktu warung saya sudah mau tutup, menunya sudah habis, tersisa sambal dan nasi saja tapi...

Pangeran Kodok

"Claraaaaa.... Aku cinta kamu!" Teriak Radit di depan kelas. Suaranya mampu membuat seisi kelas bertepuk tangan sekaligus tertawa terbahak-bahak, ingus kental kuning kehijauan mengalir dari kedua lubang hidungnya. Ia pun langsung mengusapnya dengan lengan kanannya. Merasa risih, ia pun kembali membalurkan tangan basahnya itu ke seragam putih merah yang ia kenakan.  "Hiii... Jijiiiik!" Teriak Clara sambil berlari ke luar kelas. Godaan Radit pada Clara, adik kelasnya tak berlangsung lama. Ia pindah sekolah ke luar kota mengikuti ayahnya yang merupakan kepala bidang pemasaran produk roti nusantara.  Kejadian sembilan tahun yang lalu itu masih melekat di ingatan Clara. Ia masih tertawa geli mengingat anak laki-laki tambun berlepotan ingus yang begitu setia mengunjunginya setiap jam istirahat ke kelas dan tak pernah bosan mengatakan cinta meski berulang kali Clara berteriak jijik padanya. Gadis manis keturunan Sunda - Madura itu sungguh penasaran seperti apa Radit saat i...

Bukan Aku

Tiga puluh menit berlalu dari jam pulang sekolah, hujan belum juga reda. Aku menunggu mas Reza yang masih saja berdiskusi tugas kelompok bersama teman-temannya. Membuka media sosial sambil makan sebungkus keripik di depan kelas seorang diri lama-kelamaan membuatku bosan. Kantuk mulai menghampiri.  "Yas, kok belum pulang?" Suara lembut itu mengagetkanku. Senyumnya yang manis dengan mata sipit dan alis tebal mirip artis Korea itu selalu menarik perhatian banyak gadis di sekolahku. Roy, teman sekelas yang selalu aku perhatikan dari bangku tempatku duduk. Aku mengaguminya dalam diam tanpa bisa menunjukkan dengan jelas seperti kebanyakan gadis yang sering memberinya cokelat di hari Valentine atau sekedar memberinya semangat saat dia bertanding basket. Aku terlalu pengecut untuk mengakui kekagumanku, kebahagiaanku saat memandang fotonya yang aku ambil diam-diam di dalam kelas lalu kutempel di buku harianku.  "Mm... Aku nunggu mas Reza," Jawabku sambil tertunduk. Aku tak s...

Memilih Bahagia (Bagian I)

Pagi itu matahari belum begitu tinggi, masih jam sepuluh pagi. Erma turun dari kereta api Logawa dengan hanya menggendong sebuah tas ransel berisi dompet, mukenah dan satu kaos oblong. Berjalan tanpa semangat, dia menuju pintu keluar stasiun Gubeng lalu duduk di deretan kursi menghadap loket tiket.  Stasiun Gubeng begitu riuh, seramai pikiran yang membelenggu Erma. Dia tak tahu harus kemana, mau membeli tiket tujuan kota lain lagi kah atau cukup diam saja di Surabaya dan mencari hotel untuk bermalam nanti. Dia hanya ingin pergi, menepi dan menenangkan diri. Kedatangan orang tuanya kemarin ke Jember untuk memintanya menerima lamaran mas Hendra, tetangga yang sudah dia anggap seperti saudara bagai meluluh lantakkan harapannya untuk hidup bahagia bersama Uki, kekasihnya. Bapak ibu Erma hanya ingin dia bahagia bersama mas Hendra yang sudah mapan secara finansial sebagai seorang pegawai bank swasta.  Suara azan zuhur mengagetkan Erma yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia lalu me...

Banjir Lokal

Raihan berangkat ke sekolah dengan bersungut-sungut. Bocah kelas tiga sekolah dasar itu masih mengantuk tapi sang bunda memaksanya berangkat pagi agar tak terlambat seperti kemarin. Sesampainya di sekolah, Raihan masih saja merengut, apalagi Bagas, teman se-bangkunya belum datang. Ia hanya meletakkan tas sekolah di mejanya lalu berjalan ke halaman. Di sana, matanya melihat sesuatu yang menarik.  Kantong-kantong plastik bergelantungan di sebuah sepeda motor yang terdapat etalase kayu kecil di atasnya. Di dalam setiap kantong transparan itu terdapat seekor atau beberapa ekor ikan. Ada ikan mas koki, cupang dan nila. Raihan mendekat. Wajah masamnya memudar berganti senyum merekah.  Raihan merogoh kantong celananya. Uang saku sepuluh ribu dari sang bunda masih utuh. Bundanya hanya berpesan tak boleh dibelikan mainan. Ikan bukanlah mainan jadi Raihan membelinya. Seekor ikan cupang seharga uang sakunya berhasil ia dapatkan.  Khawatir wali kelas marah karena Raihan membeli ikan ...

Nyaris

Sudah lebih dari tiga puluh lima menit Rika melihat pemandangan jalan tol Probolinggo - Surabaya dari dalam Innova. Siang yang begitu terik di jalan beraspal panjang itu menciptakan fatamorgana yang terlihat seperti air berlimpah. Struktur jalan yang kadang naik turun, membuat perut Rika yang terasa penuh semakin tak karuan.  Rika tak bisa duduk dengan tenang. Dinginnya AC membuat tubuhnya semakin gemetar. Entah berapa kali ia memperbaiki posisi dan merapatkan kedua pantatnya hingga duduknya semakin rapat. Ia juga memeluk erat boneka boba besar lalu duduk miring coba ia lakukan dan ternyata semua terasa lebih nyaman. Calon Ibu mertua yang duduk di sampingnya bertanya apa ada masalah. Rika menjawab semua baik-baik saja lalu dia kembali melihat ke luar jendela, berharap bisa mengendalikan diri.  Rika tak mengirim pesan kepada Rois, kekasihnya karena dia anggap percuma, Rois sibuk menyetir di depan sana. Tubuh Rika semakin bergetar. Ia tak lagi memeluk boneka tapi beralih memegan...