Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Senandung Rezeki

Sore selepas hujan, masih terdengar suara tetesan air dari atap rumah Parjo yang bocor di beberapa sisi. Wadah-wadah penampung dari seng yang mulai berkarat membuat suara tetesan-tetesan itu semakin jelas terdengar, bersahut-sahutan menciptakan alunan merdu. Parjo menamainya senandung rezeki.  Sang istri membawa dua cangkir kopi lalu mendatangi Parjo yang sedang duduk di sofa panjang. Sofa hijau yang mulai lapuk dan robek sebagian kulitnya dimakan usia serta pincang salah satu kakinya hingga diberi kertas tebal agar berdiri seimbang itu merupakan tempat yang nyaman untuk duduk bersantai sepasang suami istri yang tak lagi muda.  Parjo asyik membaca koran yang dia pinjam dari sekolah tempatnya mengajar tadi. Sang istri penasaran, berita apa yang sedang sang suami baca hingga ia tak menyadari kedatangannya bahkan tak mencium aroma kopi yang menyeruak di ruangan berukuran lima kali tiga itu. Perempuan itu duduk di samping suaminya, mencondongkan tubuhnya ke koran lalu memicingkan ...

Hujan Memang Tak Pernah Berkabar

Menjelang azan magrib berkumandang, Honda Brio merah berhenti di depan rumah kos elite bergaya Eropa. Sebagian besar penghuninya adalah anak para pejabat maupun para pengusaha kaya yang berkuliah di kampus bergengsi yang terletak hanya tiga ratus meter jauhnya. Dara, sang pengendara Brio merupakan anak seorang pengusaha konstruksi di kota itu. Dia mengantar pulang sahabatnya, Mona, yang merupakan anak seorang petani kaya raya di kota sebelah. Mereka berdua seharian tadi berbelanja di mall dan melakukan perawatan di salon kecantikan. Meski sudah beraktifitas seharian, kelelahan tak tampak di raut wajah keduanya, mereka tetap ceria dan penuh semangat.  Mona turun dari mobil setelah berpamitan. Ritual cium pipi kanan kiri sebelum perpisahan memang biasa mereka lakukan sejak mereka bersahabat di awal kuliah. Mereka sangatlah dekat, selalu bersama kemanapun pergi hingga seolah tak ada rahasia diantara keduanya. Setelah memastikan Mona masuk melewati pintu gerbang kosan, Dara langsung me...

Cinta Pertama (Pentigraf)

Dina tercengang. Wajah yang dulu dengan angkuhnya meruntuhkan mahligai pernikahannya dengan Salman sedang berdiri tepat di hadapannya. Mereka tak sengaja berpapasan di sebuah toko roti, mengantre pembayaran. Tak sendiri, Sisil, perempuan yang akhirnya dipilih mantan suaminya itu menggandeng buah cinta mereka, balita berusia tiga tahun. Balita tampan dengan tubuh gendut menggemaskan itu benar-benar mirip Salman. Lagu Swing It Bob dari Mocca yang diperdengarkan di cafe sekaligus toko roti itu serasa tak mampu mengembalikan keceriaan di hati Dina. Nutella latte yang telah tersaji indah dengan motif hati yang tersusun rapi tak mampu menata hatinya yang kembali terhanyut dalam kenangan pahit tiga tahun yang lalu. Pernikahannya dengan Salman selama setengah dasawarsa dan belum hadirnya buah hati di dalam keluarga awalnya dianggap sebab Salman mendua. Nyatanya, setelah ada balita mungil itu, Salman tetap saja meninggalkan keluarga barunya dan menemui wanita lain yang telah bersuami. Dalam sad...

Secret Admirer

Nita terkejut. Sepucuk surat beramplop merah muda kembali tergeletak di atas meja tempatnya duduk, kejadian yang sama seperti dua minggu yang lalu. Dia mulai melihat ke sekitar, belum ada satu muridpun yang datang. Dialah orang pertama yang datang karena memiliki jadwal piket hari itu.  Seperti tebakannya, surat itu berisi pengakuan kekaguman dari seseorang yang belum mau menunjukkan dirinya. Kali ini suratnya juga berisi ucapan selamat atas prestasi Nita yang baru saja memenangkan olimpiade sains tingkat provinsi. Nita tak habis pikir, kenapa pengagum rahasia ini tak berani mendatangi dirinya langsung seperti Gafur dan Willy, anak kelas sebelah ataupun Fadil, adik kelas sebelas. Mengapa dia tetap bersembunyi dan tak bernyali untuk tampil? Padahal surat merah muda itu mengusik hatinya. Nita terbuai dengan kata-kata biasa, cerita biasa yang dituliskan di dalamnya, tanpa puji-pujian yang melambung tinggi. Isi surat pertamanya yang bercerita tentang bagaimana dia dengan sederhana meny...

Penolong Rahasia

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua belas menit. Suara pukulan tongkat Pak Dal ke tiang listrik besi terdengar lirih. Artinya dia sudah jauh melewati gang Borobudur enam. Suara tiang besi yang dipukul itu memang terasa menyeramkan, memecah kesunyian malam di area pinggiran kampus yang mulai lengang. Sosok pak Dal juga tak kalah seram. Sorot matanya yang tajam, berkumis tebal dengan jaket kulit lusuh dan training hitam serta topi hitam berbordir gambar pisau. Dia selalu tepat waktu, jam sepuluh malam memukul tiang listrik besi di sebelah pintu gerbang rumah kos Borobudur nomor satu. Ketiadaan Pak Dal di depan kosan memang melegakan, artinya Desy tak perlu bertemu sosok menyeramkan itu sekaligus menimbulkan masalah baru, gerbang kos dikunci tepat pukul sepuluh malam. Desy harus mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah kos. Dia mencoba menelepon Fina teman sekamarnya, tapi tak ada jawaban. Mungkin saja dia sudah tidur lelap. Desy lalu menelepon Gina, teman kamar se...

Untuk Guruku

Hari itu cuaca begitu cerah hingga bisa mengeringkan jemuran hanya dalam waktu tiga jam. Mr. Agus tetap menjalankan hukuman sesuai kesepakatan awal, belajar Bahasa Inggris di tengah lapangan. Danu, Farel dan Hilman sudah meminta maaf dan berjanji tak akan mengulang kesalahan yang sama. Janji memang selalu terasa manis. Tugas yang semestinya dikumpulkan dua minggu sebelumnya, belum ada niatan untuk mereka selesaikan.  "Kalian mau pakai alasan apa lagi sekarang?" Mr. Agus bertanya kepada ketiga muridnya di tengah lapangan. "Anu..., Sir. Lupa," Jawab Danu sambil cengengesan. "Kan saya sudah bilang. Meski bukan bahasa sehari-hari, Bahasa Inggris itu penting. Setidaknya kamu bisa bahasa Inggris untuk tanya alamat Old Trafford Stasiun biar gak kesasar. Masa nonton bola cuma di TV aja," Kata Mr. Agus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat lembar kerja siswa ketiga muridnya yang masih kosong.  Tak ada yang tahu, perkataan singkat itu melekat kuat da...

Ojek Online (Pentigraf)

Minggu sore yang mendung, Vita menerima notifikasi di gawainya. Ada seorang perempuan yang membutuhkan ojek online. Vita segera merespon untuk menjemputnya. Biarlah meski nanti pada akhirnya gerimis atau hujan deras datang, dia sudah menyiapkan mantel yang bisa dia pakai untuknya dan sang penumpang.  Vita menjemput perempuan cantik berkulit kuning langsat itu dari sebuah salon kecantikan. Alisnya yang diberi warna cokelat muda, lipstik merah hati dan bulu mata lentik menambah pesona kecantikan yang ia miliki. "Mbak, jangan ngebut ya. Ini pertama kalinya aku naik ojol lho," Katanya sambil tersenyum ramah hingga mengagetkan Vita yang sibuk mengagumi kecantikannya. Sambil memacu beat dengan kecepatan sedang, Vita bergumam di dalam hati, siapakah laki-laki yang begitu beruntung akan mendapatkan perempuan ini. Perlahan menerobos dinginnya suasana menjelang hujan, Vita menuju play ground yang jaraknya sekitar lima kilometer dari salon itu.  Sesampainya di tempat tujuan, perempuan i...

Sesal

Azan subuh baru saja berkumandang tujuh menit yang lalu tapi Anas sudah mengakhiri zikirnya selepas shalat. Dia diburu waktu. Lima menit lagi biasanya bis antar kota akan melintas di depan rumahnya yang terletak di pinggir jalan raya antar kota. Dia tak boleh ketinggalan bis. Dia harus menaiki bis itu meski penumpangnya dipastikan penuh. Bis itu akan mengantarnya ke kota sebelah, tempat dia berkuliah di jurusan ekonomi. Motor yang biasa dia bawa, semalam mendadak mati, sehingga naik bis adalah cara terakhir yang diambil agar tak terlambat mengikuti kuliah pagi jam tujuh nanti. Bis subuh itu sungguh penuh sesak. Lebih dari lima belas orang berdiri memenuhi bis mini berwarna merah muda itu. Sebagian besar adalah mahasiswa dan mahasiswi yang juga menuju ke kota sebelah. Anas tahu itu karena ini bukan kali pertama dia naik bis subuh. Tapi kali ini ada sesuatu yang menarik hatinya. Seorang perempuan berkerudung biru muda berdiri satu langkah berhadapan dengan tempat dia berdiri. Wajahnya be...

Mantan (Pentigraf)

Ruri menerima sepucuk undangan pernikahan berwarna biru langit dengan aroma bunga. Undangan itu dari Jack, mantan kekasih yang telah meninggalkannya karena berselingkuh dengan Tea, calon istrinya kini. Bukannya sebal, Ruri malah berjingkrak riang luar biasa. Dia ingin hadir dan menunjukkan penampilannya kini yang jauh lebih cantik setelah ditinggalkan Jack. Ruri mempersiapkan banyak hal agar tampil memukau di acara resepsi itu. Dia sempatkan membeli gaun baru, sepatu baru yang senada dengan warna tas pesta dan tentu saja perawatan ke salon kecantikan untuk spa dan laser.  Tibalah hari yang dinanti. Acara resepsi di rumah sang mantan diadakan sore hari namun hujan sejak pagi belum juga reda. Ruri tak patah semangat. Dia masukkan tas pesta, berbagai aksesoris termasuk make up untuk touch up ke dalam jok motornya, khawatir jas hujan menipiskan riasannya yang tampak wow. Ruri memacu Honda New Lead 125 dengan kecepatan sedang dan menerobos hujan. Ruri berhenti di masjid yang terletak ha...

Tentang Aku

Perkenalkan, namaku Bima. Usiaku belum genap dua tahun. Tak seperti Bima di tokoh pewayangan, aku lemah, kurus dan sering sakit. Tubuhku banyak sekali lebam akibat sentuhan ibu yang katanya sebagai ungkapan sayang padaku. Nyatanya, aku tetap tak mengerti mengapa sentuhan itu terasa menyakitkan. Sakitnya bisa berhari-hari.  Siang ini aku terbangun dari tidur siangku. Aku mendengar ibu berteriak keras kepada ayah. Mereka bertengkar lagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Ibu lalu menangis dan aku yang ketakutan juga ikut menangis. Ibu menenangkanku tapi dia tetap tak bisa menghentikan air matanya.  Setengah jam berlalu, ibu menggendongku sambil menyuapiku nasi dan garam. Aku bosan. Rasanya tak enak. Aku tak mau makan. Aku menutup rapat bibirku dan menundukkan wajahku agar ibu tak memaksaku memakannya. Tapi ibu tak menyerah. Ibu kembali menyentuh paha dan betisku hingga ada luka dan lebam baru. Dia menekan kedua pipiku hingga mulutku terpaksa terbuka dan nasi asin itu masuk ke mulu...

Ideal (Pentigraf)

Bu Susi adalah seorang istri dari salah satu pejabat tinggi di perusahaan jaringan seluler terkemuka di Indonesia. Sebagai istri pejabat, wajarlah setiap bulan ada arisan ibu-ibu sosialita. Mereka memamerkan perhiasan yang dipakai, skincare dan treatment kecantikan termasuk juga tempat gym langganan. Bu Susi jelas tertarik. Dia rela merogoh kocek dalam untuk infus whitening agar kulitnya putih mempesona seperti artis idolanya, Han So Hee. Diapun mengkoleksi beberapa berlian dan tas Hermes serta menaiki Lamborghini merah. Semua dia lakukan agar tampak mempesona dan bersinar.  Hanya satu hal yang belum bisa Bu Susi lakukan, menurunkan berat badan. Tinggi badan bu Susi adalah seratus lima puluh sentimeter dengan berat tujuh puluh kilogram. Baginya itu bukan tubuh ideal yang dia impikan. Maka pergi ke gym pun ia lakukan.  Dengan penuh semangat, Bu Susi berlatih angkat beban dan sit up untuk membentuk tubuh dan perut six pack seperti foto yang dipajang di dinding tempat kebugaran. ...

Rona Senja (Pentigraf)

Senja telah datang bersama rona jingganya. Derasnya hujan siang tadi hanya menyisakan genangan namun serasa tak ada jejak kedatangannya di langit sore. Senja ini benar-benar cerah, secerah wajah Annisa yang tak bosan menunggu Farhan, kekasihnya yang telah mengisi hari-harinya selama dua tahun ini. Sudah dua puluh menit berlalu dari jam pulang. Teman-teman kantor Annisa sudah banyak yang meninggalkan kantor, hanya tersisa beberapa orang yang masih sibuk dengan pekerjaan yang belum terselesaikan.  Iphone Annisa berdering. Farhan memberi kabar bahwa dia tak bisa menjemput karena ada rapat mendadak di organisasinya. Annisa memakluminya tapi terkadang di dalam hatinya ada rasa khawatir, kapan Farhan akan fokus menyelesaikan skripsi yang telah tertunda selama satu tahun karena dia terlalu sibuk di organisasi. Annisa dan Farhan sebenarnya adalah teman sekelas di jurusan Hubungan Internasional tapi hati Farhan yang terlalu mementingkan organisasi membuatnya tak bisa menyelesaikan skripsi d...

Gelang Kaki (Pentigraf)

Malam itu sosok perempuan berambut pendek dan berwajah pucat itu kembali hadir di mimpi Nadin. Entah sudah berapa malam dia mengalami mimpi serupa. Perempuan itu seolah ingin menyampaikan pesan namun dia tak mampu berbicara, dia hanya menangis tersedu-sedu. Kali ini Nadin tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia bertanya pada sosok itu tentang maksud kedatangannya di mimpi Nadin hampir setiap malam. "Kembalikan gelang kaki yang kamu pakai. Itu terjatuh di pinggir danau tepat di malam aku dibunuh disana." Perempuan itu menjawab singkat lalu pergi perlahan bersama desiran angin. Nadin terjaga dari tidurnya.  Bergegas ia mengambil gawai lalu mencari kasus pembunuhan di dekat danau di kota yang baru saja ia tinggali itu karena mutasi dari atasan. Berhasil! Kasus pembunuhan mahasiswi dengan motif cemburu oleh selingkuhan kekasihnya terjadi satu tahun yang lalu disana. Keesokan harinya, Nadin mendatangi rumah perempuan malang itu setelah mencari tahu dimana alamatnya. Dia menyerahk...

Padam (Tatika/ Cerita Tiga Kalimat)

Resti, istriku marah padaku hari ini karena tak membaca pesan teksnya sejak siang yang memesan es campur Pak Bontot, makanan favoritnya selama kehamilan delapan bulan ini. Di rumah, dia tetap saja diam sebagai tanda kecewa meski aku telah meminta maaf. Tiba-tiba saja listrik padam pada pukul delapan di malam jumat ini hingga membuat Resti yang ketakutan mendekapku dengan erat dan mengajak tidur lebih awal.  Bondowoso, 17 November 2021 #TantanganMenulis30Hari #HariKesepuluh

Ujung Rindu (Pentigraf)

Nadira sudah menjanda selama satu dasawarsa. Dia membesarkan kedua anaknya seorang diri. Bisnis online yang digelutinya selama beberapa tahun ini sangat sukses. Dia tak ada niatan untuk menikah lagi meski banyak laki-laki mendekat untuk mempersuntingnya. Ferdi, sang mantan suami yang telah lama merantau ke negeri seberang setelah sadar dari kebiasaan buruk menegak minuman keras dan berjudi, akhirnya pulang ke Indonesia. Diapun sama, perekonomiannya jauh lebih baik hingga mampu membeli sawah beberapa hektar dan mengumrahkan kedua orang tuanya.  Setelah mengumpulkan keberanian, Ferdi datang menemui Nadira. Dia meminta maaf atas perbuatannya dahulu dan kembali ingin meminang Nadira. Ferdi berjanji untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kedua anak mereka. Nadira terdiam, bulir-bulir air mata menetes membasahi hijab ungunya. "Mari kita mulai dari awal, Mas." Bondowoso, 16 November 2021 #TantanganMenulis30Hari #HariKesembilan

Panci

Bu de Risma adalah orang yang baik. Di usianya yang sudah menginjak tujuh puluh satu tahun, dia masih sehat dan sangat energik. Hampir setiap ada acara di tetangga sekitar, bu de Risma selalu membantu.  Setiap hari bu de Risma datang ke rumahku karena rumah kami dekat, hanya tiga ratus meter. Dia sering menemaniku memasak di dapur setiap pagi sebelum aku dan suami berangkat bekerja. Maklum, dia tinggal seorang diri. Suaminya sudah lama meninggal dan kedua anaknya tinggal di luar kota bersama suami dan anak-anak mereka. Mungkin karena kesepian dan ingin mengisi kesibukan, bu de Risma selalu menyempatkan diri membantuku. Pagi tadi bu de Risma meneleponku yang sudah berada di kantor.  "Nes, bu de pinjam pancimu yang gede itu ya, mau rewang di rumah Bu Nasrul untuk acara arisan nanti malam."  "Panci yang mana, Bu De?"kataku penasaran karena ada beberapa panci yang memang tidak biasa aku pinjamkan ke orang lain.  "Panci yang tebel tapi mereknya gak terkenal itu loh,...

Bintang (Bagian III - selesai)

Aku dan Dinda berboncengan di tengah gerimis yang kembali turun. Kami tidak memakai mantel karena alasan yang sama, ribet. Apalagi bioskop tempat kami akan menonton sudah satu kilometer di depan.  Di bioskop, kami menonton film Eternals yang sedang booming. Seperti biasa, Angelina Jolie selalu sukses memerankan tokoh dalam setiap film yang diperankannya. Begitu juga kali ini dalam memerankan tokoh Thena yang terlihat kuat dan tangguh sebagai salah satu pahlawan super di karya Marvel ini. Dinda dan aku sangat menikmati film ini hingga akhir.  Setelah menonton, aku mengajak Dinda makan di sebuah rumah makan franchise. Aku mengantri di depan kasir untuk memesan makanan. Saat orang di depanku berbalik setelah memesan menu yang diinginkan, betapa kagetnya aku.  "Ibu? Mau makan di sini?" Tanyaku serasa tak percaya bertemu ibu yang sedang bergandengan dengan suami barunya.  "Loh, Nak. Makan di sini juga? Sama siapa?" Kata ibu sambil menyentuh lengan kananku.  "Papa?...

Reuni (Pentigraf)

Akhir pekan kali ini aku menghadiri reuni kecil bersama teman-teman kelas dua belas IPS satu. Aku memutuskan datang sendiri, tidak bersama Vika kekasihku meski tak sedikit teman yang mengajak serta kekasihnya. Aku hanya khawatir Vika merasa tidak nyaman jika bertemu Desy, mantan kekasihku yang pernah menjalin hubungan denganku selama empat tahun sejak SMA hingga awal semester tiga di masa kuliah. Benar saja, Desy datang ke reuni, sendiri. Dia tak bersama tunangannya yang selama ini banyak diperbincangkan teman-teman sebagai pengusaha kuliner sukses di kota sebelah. Mereka putus!  Selama reuni, aku sering mencuri pandang pada Desy yang terlihat semakin cantik dengan rambut panjang bergelombang yang diombre cokelat muda. Dia sungguh sangat mempesona. Jari tangannya yang lentik dan dicat berwarna peach begitu serasi dengan gaun biru muda yang dikenakannya. Selain itu, jari jemari itu tak henti-hentinya memainkan gelang titanium steel bermata ungu, pemberianku dua tahun yang lalu. Ah a...

Kaca Ambulan

Betapa lelahnya aku saat ini. Sore tadi selepas shalat ashar aku mendapat telepon, ada korban kecelakaan yang harus segera dilarikan ke rumah sakit. Bergegas aku ambil kunci ambulan dan mengantar korban ke rumah sakit. Alhamdulillah dia segera tertolong meski kepalanya terus saja mengucurkan darah segar dan kakinya patah. Sepeda motor yang dia kendarai rusak parah di bagian lampu dan roda depan setelah menabrak truk yang terparkir di pinggir jalan.  Baru satu jam yang lalu aku sampai di rumah dan menyempatkan shalat magrib berjamaah di masjid, gawaiku kembali berdering. Ada pasien gawat darurat di puskesmas tempatku bekerja. Pak Anton, dengan penyakit asma yang dideritanya ditambah jantung yang semakin melemah serta tekanan darah tinggi di usianya yang tak lagi muda membuat dia semakin lemah tak berdaya hingga harus dirujuk ke rumah sakit kota. Aku nyalakan sirine, kecepatan di atas seratus sepuluh kilometer mengendarai ambulan itu seperti masih saja terasa lambat. Aku ingin segera...

Tetangga Ih Tetangga (Pentigraf)

Siang terik hari ini terasa begitu menyejukkan bagi Bu Narto. Betapa tidak, saat dia sedang menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumahnya yang berhadapan dengan sawah, tiba-tiba saja sebuah mobil bak terbuka masuk ke halaman rumahnya. Sang sopir turun dari kendaraannya dan hanya memastikan apa benar itu rumah pak Narto. Bu Narto mengangguk. Lalu dalam sekejap, dua orang laki-laki yang duduk di bagian belakang mobil menurunkan sebuah spring bed dan dimasukkan ke dalam rumah bu Narto. Bu Narto begitu kaget namun sangat bahagia.  Tak perlu menunggu lama, bu Narto langsung menelepon pak Narto yang sedang dinas di luar kota selama seminggu. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada suaminya yang telah mengirim kejutan di hari ulang tahunnya. Bu Narto berpikir betapa romantisnya pak Narto mengalahkan oppa di drama Korea. Tapi entah kenapa telepon tak diangkat juga oleh pak Narto meski sudah tiga kali panggilan. Bu Narto lalu berhenti menelepon dan fokus membuka market place di gawainya d...

Jamaah Terakhir (Pentigraf)

Pak Tohar pulang lebih akhir selepas shalat isya berjamaah di masjid yang berjarak dua ratus meter dari rumahnya. Dia tak sendiri. Masih ada Pak Burhan yang juga masih betah di masjid menyelesaikan zikirnya. Mereka akhirnya pulang hampir bersamaan.  Menyadari keberadaan pak Burhan di masjid, Pak Tohar bergegas memakai sandalnya dan segera pulang. Dia khawatir pak Burhan mendekatinya dan menyampaikan keinginan untuk meminjam uang lagi seperti minggu lalu. Pak Tohar tak meminjamkan uang saat itu dengan alasan uangnya masih dipakai untuk perpanjangan SIM motor kesayangannya. Kali ini dia bingung harus menggunakan alasan apa lagi jika Pak Burhan berkata ingin meminjam uang. Kabur adalah jalan terbaik. Pak Tohar mempercepat jalannya, mengangkat sedikit sarungnya dan melebarkan langkahnya. Tapi entah kenapa pak Burhan tetap saja mengikutinya, bahkan pak Burhan setengah berlari mengejar Pak Tohar dan memanggil namanya. Pak Tohar tetap tidak menoleh, pura-pura tidak mendengar meski akhirny...

Tangisan Malam (Pentigraf)

Jam sembilan malam ketiga anakku sudah tertidur pulas. Dengan penuh semangat aku mempersiapkan agenda yang sudah aku rencanakan sejak pagi. Aku siapkan tripod, gawai dengan baterai delapan puluh persen, tujuh siung bawang merah dan bawang putih, talenan, pisau yang sudah diasah, wadah serta sekotak tisu. Bawang-bawang ini memang biasa aku iris di malam sebelum tidur agar keesokan harinya tidak terburu-buru saat memasak.  Aku letakkan semuanya di ruang tengah. Dengan membaca basmalah, aku nyalakan gawai yang telah kuatur posisi horizontal di tripod. Drama Korea yang aku tunggu tayang tepat di pukul sembilan tiga puluh malam ini di chanel Telegram favoritku lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia yang begitu apik. Aku terhanyut dalam cerita yang begitu menarik hingga terbawa emosi dan menangis tersedu.  Suami mendatangiku dan bertanya ada apa. Aku hanya menjawab, "Kualitas bawangnya bagus." Sambil menunjukkan satu wadah bawang yang telah kuiris halus. Bondowoso, 9 November 2...

Taaruf (Pentigraf)

Hari itu tiba-tiba saja Arin meminta restuku untuk menikah. Aku kaget karena selama ini yang ku tahu dia belum punya kekasih meski usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Bukan karena tak laku tapi karena Arin, anak semata wayangku ini begitu pemilih. Wajahnya yang cantik mirip almarhumah ibunya membuat banyak lelaki mendekat tapi dia selalu menolak secara halus dengan alasan yang tak ku tahu.  Keesokan harinya, laki-laki itu datang melamar bersama kedua orang tuanya. Dimas namanya. Dia lebih tinggi dibandingkan aku yang berpostur seratus tujuh puluh sentimeter, wajahnya tampan, hidungnya mancung, berkulit sawo matang dan ada jenggot tipis di dagunya yang lancip. Profesinya sebagai dokter hewan memang cocok dengan Arin yang sangat menyayangi binatang. Apa mungkin karena ini Arin jadi setuju untuk menikah padahal mereka baru saling mengenal tak lebih dari dua pekan?  Hari ini, satu bulan setelah lamaran, aku menikahkan putri kesayanganku ini. Di hari ini pula aku mendengarkan lant...

Bintang (Bagian II)

"Ayo masuk saja, tunggu di dalam. Dinda sebentar lagi siap." Katanya  menyadarkanku yang tertegun entah berapa lama.  "Oh iya, Bu." Aku memasuki ruang tamu dan duduk di kursi kayu panjang berwarna cokelat pekat yang terdapat ukiran indah di bagian sandarannya. Bantalan duduk berwarna merah tua, senada dengan warna taplak meja yang dihiasi sebuah vas dengan beberapa bunga hidup di atasnya. Bunga mawar merah dan kuning, seperti yang ada di teras depan. Di sudut ruangan ada sebuah lemari buku dengan tinggi sekitar dua meter. Buku-buku tebal dan tipis berjajar rapi di dalamnya.  Bu Siti tidak menemaniku di ruang tamu tapi aku malah memikirkannya. Apa hubungan bu Siti dengan Dinda? Ibu dan anakkah? Jika benar, betapa malunya aku.  Teringat dulu saat kelas dua belas, aku sering ke ruang BK menemui bu Siti, bercerita tentang orang tuaku yang bertengkar hampir setiap hari karena perselingkuhan ibuku yang berakhir dengan perceraian kedua orang tuaku. Betapa bencinya aku pada...

Gerah (Pentigraf)

Siang itu begitu terik, Bu Samsul dengan semangat menggelora menjemur senampan kerupuk di halaman depan. Dengan telaten dia memisah kerupuk agar tak bertumpuk terlalu banyak. Kerupuk itu rencana akan digoreng besok pagi untuk acara arisan besok malam di rumahnya. Setelah dirasa pencahayaan matahari yang mengenai kerupuk bagus, Bu Samsul masuk ke dalam rumah untuk shalat zuhur.  Pak Samsul yang baru pulang dari shalat berjamaah di masjid tidak menyadari ada kerupuk yang dijemur di nampan karena terhalang pot bunga dari tempat ia berdiri. Merasa udara siang itu begitu panas, tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, pak Samsul menyalakan kran air dan menyiram seluruh halaman dengan selang air sambil bersenandung riang. Dia sangat menikmati aroma tanah yang begitu menenangkan saat bersentuhan dengan air, "Hmmm... Segar." Bu Samsul yang melihat kejadian itu kaget tapi hanya diam tanpa berkomentar. Dia lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut setelah tahu kerupuk yang dijemur...

Serupa (pentigraf)

Nova berlari menghampiri mbah kungnya yang sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi robusta. Seperti biasa, Nova meminta uang untuk membeli camilan di toko kelontong sebelah rumah. Mbah kung yang terkenal sangat irit, merogoh kantong baju koko sebelah kanan dan memberikan selembar uang kertas kepada Nova yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu. Nova berjingkrak bahagia melihat uang yang diterimanya dan langsung berlari ke toko. Beberapa menit kemudian, mbah uti menghampiri mbah kung dan meminta uang untuk membeli gula. Sekali lagi mbah kung merogoh saku kanannya dan memberikan tiga lembar uang kertas. Mbah uti tersenyum bahagia dan berkata, "Tumben." Setelah mbah uti pergi, Nova datang membawa kantong plastik besar berisi banyak makanan ringan. Mbah kung heran kenapa dengan uang dua ribu rupiah Nova bisa mendapatkan camilan sebanyak itu. Nova menjawab bahwa uang yang dia terima memiliki empat buah nol, tidak seperti uang yang biasa dia terima yang hanya ...

Duh

Segelas besar potongan-potongan alpukat dipadu dengan durian montong kupas serta susu kental manis dan es serut di atasnya menemani siangku di cafe ini, sendiri. Aku aduk perlahan es yang memenuhi gelas besar ini agar tak tumpah dan mengenai tumpukan hasil ujian semester yang sengaja aku bawa untuk diselesaikan di rumah.  Lee Min Ho belum datang juga padahal semestinya lima belas menit yang lalu dia sudah sampai di cafe ini. Tak seperti biasanya, dia terlambat dan tak memberi kabar. Aku hanya melihat keluar jendela sambil sesekali mengunyah es buah segar yang cukup fenomenal ini.  Tiba-tiba Lexus hitam berhenti di depan cafe. Sang sopir sepertinya kesulitan memarkir mobilnya karena ada beberapa traffic cone yang tak beraturan tempatnya.  Sopir Lexus itu akhirnya kehilangan kesabaran dan berkali-kali menekan klakson berharap petugas parkir segera memindahkan traffic cone tersebut.  Kriiiiing... Kriiiiinggg...  Aneh. Kenapa mobil mewah suara klaksonnya begitu?...

Spiderman

Suara ustaz Amar dan derap kakinya yang tergesa-gesa semakin mendekati kamarku. Dadaku berdegup kencang. Semakin lama, suaranya semakin jelas terdengar memanggil namaku dengan nada marah. Aku memutar otak bagaimana caranya kabur. Hanya ada satu pintu di kamar berukuran enam kali delapan ini dan jika aku melewati pintu lalu berlari kencang, pastilah ustaz Amar dan para santri akan mengejar dan menangkapku. Aku harus menemukan cara lain.  Ya, bersembunyi di dalam lemari. Aku tinggal duduk dan menekuk kakiku dan menutup pintu lemari dari dalam. Tapi ah, ternyata lemari kecil yang penuh sesak pakaian ini tak mampu menjadi tempat perlindungan bagiku yang bertinggi seratus tujuh puluh sentimeter.  Aku keluar lemari, melompat ke atasnya dan hap! Aku sudah berada di atas plafon. Tubuh tinggiku ini jelas menyulitkanku untuk bergerak menjauh dari lubang plafon tempatku naik tadi. Kepalaku tetap menyundul genteng meski sekuat tenaga aku menekuk tubuhku. Perlahan tangan kananku meraih pen...

Dompet

Sebuah truk melaju kencang. Lalu, "Gubrak.... !" Seorang pengendara sepeda ontel yang membawa keranjang makanan jatuh sekitar seratus meter di depanku. Truk itu menyerempet pengendara sepeda malang itu. Truk tak berhenti. Ia terus saja mengebut entah karena sang sopir tak tahu atau mungkin dia tak peduli. Tak ada satu orangpun yang menolong karena di kanan dan kiri jalan raya ini hanya sawah yang terbentang luas.  Aku percepat laju Innova, segera ku hampiri perempuan yang duduk di tengah aspal dengan keranjang tumpah dan makanan yang berserakan itu. Untung saja jalanan pagi ini begitu sepi, hingga perempuan muda itu aman meski tak segera beranjak dari duduknya. Aku membantunya berdiri. Dia tersenyum dan membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih. Aku lihat sebagian jubah panjang dan kerudungnya sobek terkena gesekan aspal, jari telunjuk dan jari manis di tangan kanannya juga terluka, lalu darah merembes dari lutut mengenai jubah biru muda yang dikenakannya. Dia berjala...

Mantra

Bondowoso pagi ini mendung, semuram wajah Tyas, istriku. Tak ada rona ceria di wajahnya meski ini tanggal muda. Padahal biasanya setiap awal bulan begini online shop nya sangat ramai pembeli hingga dia terlihat sangat bahagia mendengar riuhnya transferan melalui  notifikasi  gawainya. Dia pun begitu antusias membantu para karyawan membungkus pesanan di ruang sebelah yang memang kusediakan khusus untuknya. Aku tak mengizinkan Tyas bekerja di luar rumah, biarlah dia mengurusku dan anak semata wayang kami, Chandra yang baru berusia empat tahun. Akupun selalu memastikan semua kebutuhannya tercukupi. "Yank, gak enak badan tah?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya yang sedang membungkus paket pesanan. "Ndak," jawabnya ketus. "Habisnya kamu kayak surem gitu. Sayang dong wajah cantik tapi merengut," godaku dengan sedikit berbisik. "Ih...apa sih?" Dia malah duduk menjauh dariku. Akupun berpikir keras tentang kesalahan apa yang mungkin telah kuperbuat. Mung...