Senandung Rezeki
Sore selepas hujan, masih terdengar suara tetesan air dari atap rumah Parjo yang bocor di beberapa sisi. Wadah-wadah penampung dari seng yang mulai berkarat membuat suara tetesan-tetesan itu semakin jelas terdengar, bersahut-sahutan menciptakan alunan merdu. Parjo menamainya senandung rezeki. Sang istri membawa dua cangkir kopi lalu mendatangi Parjo yang sedang duduk di sofa panjang. Sofa hijau yang mulai lapuk dan robek sebagian kulitnya dimakan usia serta pincang salah satu kakinya hingga diberi kertas tebal agar berdiri seimbang itu merupakan tempat yang nyaman untuk duduk bersantai sepasang suami istri yang tak lagi muda. Parjo asyik membaca koran yang dia pinjam dari sekolah tempatnya mengajar tadi. Sang istri penasaran, berita apa yang sedang sang suami baca hingga ia tak menyadari kedatangannya bahkan tak mencium aroma kopi yang menyeruak di ruangan berukuran lima kali tiga itu. Perempuan itu duduk di samping suaminya, mencondongkan tubuhnya ke koran lalu memicingkan ...