Postingan

Memilih Bahagia (Bagian 19)

  Sinar matahari menelusup dari sela-sela tirai jendela yang tertiup angin sore. Erma sudah bangun dari tidur siangnya yang entah sudah berapa lama. Tubuhnya terasa sangat lelah.   Semalam setelah pemakaman, Erma tak tidur, begitu juga ibu dan bibinya. Mereka bercengkrama di ruang keluarga setelah semua orang pulang. Tiga perempuan itu terkenang semua kisah tentang sang kepala keluarga. Sang bibi yang sudah delapan tahun tinggal bersama keluarga Erma masih tak percaya dengan kepergian sang kakak yang tiba-tiba. Baginya, Wahyu bukan hanya sosok kakak yang peduli dan sayang pada adiknya tapi dia juga bagaikan sosok ayah yang begitu perhatian.   Bibi Erma bercerai delapan tahun lalu, kemudian orang tua Erma mengajaknya untuk tinggal bersama mereka agar ia tak kesepian. Belum hadirnya keturunan dalam pernikahan, membuat suami sang bibi berselingkuh dan menikahi wanita lain yang telah mengandung anaknya. Perceraian tak dapat dihindarkan. Bibi Erma memilih berpisah mesk...

Memilih Bahagia (Bagian 18)

Erma tak habis pikir. Sudah tiga hari ia tak dapat menghubungi Uki. Pasti ada hal penting yang ia lewatkan. Tapi bukan berarti Erma tak berusaha. Ia sempat mendatangi kontrakan Uki. Gadis yang kini memotong pendek rambutnya empat sentimeter di bawah telinga itu berpikir mungkin saja Uki sempat kembali ke kosan sepulang kuliah. Nyatanya, teman-temannya berkata bahwa Uki sudah seminggu ini tak kembali ke kosan. Ia langsung menuju desa KKN sepulang kuliah.   Jam menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit. Erma belum mengantuk tapi ia enggan menyentuh tugas kuliah yang harus ia kumpulkan lusa. Erma memilih duduk bersantai di teras rumah bersama teman-teman KKNnya menikmati purnama hingga seorang laki-laki datang bertamu. Erma terperanjat bersamaan dengan jawaban salam yang ia ucapkan.   “Loh, bang Sodiq ada apa malam-malam ke sini? Sama siapa?” Erma berdiri sambil celingukan mencari orang lain yang mungkin datang bersama orang kepercayaan ayahnya itu.   “A...

Cinta yang Tak Pernah Usai (Bagian 1)

Wulan mengendarai Wuling dengan kasar. Jantungnya masih terasa berdentam keras, tulang rahangnya berdenyut, jari tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.  Lima belas menit yang lalu, ia melontarkan kata kasar setelah melihat Erick, kekasihnya menggenggam mesra tangan Dinda sahabat Wulan sejak SMA.  "Silakan lanjutkan kegilaan kalian!" Wulan masih berdiri di sisi meja bundar tepat di hadapan Erick dan Dinda yang juga berdiri kaget setelah caci maki yang Wulan ucapkan dengan lantang hingga menarik perhatian semua orang di cafe, "aku sudah puas dengan Erick. Kamu hanya mengais bekasku. Apa kamu tidak jijik?"  Sorot mata Wulan tajam menatap Dinda. Gadis berambut ombre kecoklatan itu seolah mengintimidasi lawan bicaranya hingga tenggorokan Dinda tercekat, tak ada kosakata apapun yang terucap dari bibirnya, bahkan sekedar kata maaf. Erick masih mengelap kemeja putihnya yang penuh noda cappucino setelah secangkir minuman hangat itu Wulan siram dengan asal ke dada bidangn...

Bahagia dengan Cara yang Berbeda

Sofi mengusap lembut perutnya yang mulai membesar. Usia kandungan delapan belas minggu masih sering menyiksa paginya dengan mual segala jenis aroma.  "Kamu gak mandi?" tanya Kania yang mengunjungi Sofi di akhir pekan.  "Jam segini sabun itu bikin aku enek. Nanti setelah zuhur, baru deh kerasa harum." "Kamu aneh!" Kania berdecak heran.  "Sama anehnya dengan pernikahanku. Aku capek," Sofi terus saja mengelus perut buncitnya. Ia menatap vas bunga di hadapannya dengan pandangan kosong, "Agung gak berubah. Dia gak mau kerja. Sukanya main game online sepanjang hari. Aku nyesel maksa dia bertanggung jawab dengan janin ini." Air mata mulai menuruni pipinya yang dulu mulus.  "Terus kamu maunya gimana?" Kania duduk mendekat sambil menyentuh telapak tangan Sofi, "kamu mau bayimu gak punya ayah?" "Iya. Itu lebih baik!" Isak tangis Sofi semakin tak terbendung.  "Terus gimana caramu merawatnya seorang diri?" ...

Memilih Bahagia (Bagian 17)

Erma kembali memeriksa pesan yang ia kirim kepada Uki. Sudah lebih dari dua puluh empat jam, kalimat singkat itu tetap saja bercentang satu. Entah karena ponsel Uki mati, paket datanya habis atau mungkin saja di desa tempat Uki tinggal terkendala sinyal, Erma tidak tahu pasti. Tapi Erma tak cukup berani membayangkan bahwa Uki sedang menghindarinya dengan mengganti nomor baru.  "Iiih... Uki! Kalau satu jam lagi HP mu tetap gak aktif, aku yang akan matikan HP!" seru Erma sambil memasukkan gawainya ke tas dengan kasar.  Ketakutan yang sebenarnya sedang Erma tepis itu bisa saja terjadi. Kemarin, Erma berkunjung ke desa Uki melaksanakan KKN. Jaraknya cukup jauh, hampir satu setengah jam perjalanan dari tempat Erma.  Sebuah balai desa yang terletak di kaki bukit terlihat sejuk dan asri. Cat tembok yang didominasi warna merah muda membuat bangunan itu tampak mencolok di antara hijau perbukitan sekitar. Terdapat pohon mangga, kelengkeng dan sawo kecik di halaman. Di sisi kanan, b...

Lelaki Pengayuh Sepeda

Khairul turun dari sepeda angin tua. Dengan kaki pincangnya, ia bergegas menuju sebuah kelas yang terdengar sangat riuh. Rupanya kelas belum dimulai. Beberapa murid berlarian, bercanda atau hanya berbincang santai. Guru mereka belum tampak hadir di kelas karena jam belum menyentuh angka tujuh.  Khairul melongok ke dalam kelas. Ia mencari sosok manis berambut panjang sepinggang.  "Sih... Darsih," panggilnya saat melihat seorang gadis duduk di deretan bangku tengah. Ia lalu mengacungkan payung yang ia bawa.  Gadis berusia sembilan tahun itupun bangkit dari kursinya, menghampiri lelaki yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya.  "Ngapain sih ke sini?" Wajah gadis itu cemberut, tanda tak suka. "Cuma mau nganterin payung. Tadi kamu lupa gak bawa," lelaki itu tersenyum melihat anak gadisnya yang tumbuh cantik seperti sang istri.  Darsih menyentak payung yang dipegang Khairul lalu segera pergi, kembali ke tempat duduknya semula. Lelaki dengan kaki panjang sebela...

Memilih Bahagia (Bagian 16)

Zidan mengerutkan keningnya saat ia menerima kiriman beberapa foto di gawainya. Tak terasa tangan kanannya mengepal kuat, membuat jari-jemarinya memutih. Pesan dari anak buahnya yang mengikuti Nelly dan Hendra membuat ia benar-benar kesal.  "Oh jadi mereka balikan?" Zidan melempar gawainya ke atas meja, "oke, mari kita lihat berapa lama kali ini kalian akan bersama." Kemarahan terlihat jelas di wajah Zidan saat ini.  Keesokan harinya, Fina, sekretaris Zidan menghubungi Nelly untuk urusan bisnis. Perusahaan Zidan, Gemilang Group yang mulai merangkak naik di bidang ekspedisi dan retail akan membuka lima cabang baru di kota yang berbeda. Acara makan bersama rekan-rekan bisnis akan diadakan di villa area kebun kopi milik keluarga Zidan. Tentu saja, catering Nelly lah yang ia pilih untuk acara istimewa ini.  "Jadi untuk menu dan sebagainya nanti pak Zidan sendiri yang akan menyampaikan ke bu Nelly," kata Fina di ujung telepon.  "Oh begitu." Nelly hera...