Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Bintang (Bagian I)

Malam minggu ini aku memilih tak pulang karena ada janji nonton dengan gebetan baru, Dinda namanya. Dia teman beda jurusan tapi satu fakultas denganku di FKIP. Aku mengenalnya di kuliah umum dan kami berada di kelompok yang sama. Dari sanalah aku tahu dia anak yang sangat rajin dan bertanggung jawab. Selain itu, kulit nya yang sawo matang dan tahi lalat di sudut kanan atas bibirnya semakin mempermanis wajahnya, membuatku ingin lebih mengenalnya.  Selepas magrib, hujan reda. Bergegas ku rapikan rambut dengan pomade, menyemprotkan Bvlgari, memakai Casio di pergelangan tangan kiri, merapikan krah Lacoste dan merapatkan resleting jaket Eiger. Ku cek sekali lagi kumis dan jenggot ku, sudah bersih. Kulit pun lembab dengan Dear Klairs. Fix, aku cakep.  Tutwit... Gawaiku berbunyi.  "Bin, sudah berangkat? Hujan disini sudah reda." Pesan teks dari Dinda. Segera ku jawab, "Meluncur... " Disertai emoji  senyum.  Ku berkaca sekali lagi untuk memastikan penampilan ku karena i...

Daisy Marc Jacobs

Sudah sepuluh menit aku duduk di kursi stainless ini menunggu giliran vaksin massal di kantor tempatku bekerja. Nomor antrian tiga puluh tujuh sudah dipanggil, artinya enam nomor lagi sebelum giliran ku. Agar tak bosan, ku isi dengan dengan bermain gim cacing yang begitu rakus memakan aneka makanan berwarna-warni di hadapannya.  Tiba-tiba konsentrasi ku terpecah saat kucium aroma parfum vanilla berpadu dengan white woods dan sedikit musk. Hmmm... Ini Daisy Marc Jacobs, favorit mantan pacarku. Aromanya yang ringan tapi menyegarkan, melambangkan jiwa muda yang ceria. Ku toleh siapa yang memakainya hingga bisa merasuk ke hidungku yang tertutup masker. Oh, seorang nakes yang memakai double mask tapi bisa ku lihat mata cantiknya dengan bulu mata yang lentik. Ah siapakah namanya? Akan ku tanya nanti saat dia menyuntikkan vaksin padaku. Tapi sepertinya vaksin itu tak cukup kebal untuk menghindarkan rasa suka yang menginfeksi hatiku.  "Heh, Bro! Tu cacingmu mati!" Agus benar-benar me...

Jam Sibuk

 Alarm ayam di kamar mengagetkan ku. Aku bangun tergesa, ternyata sudah pukul enam. Itu artinya alarm pertama jam lima tadi tak terasa ku matikan begitu saja dan melewatkan subuh dengan penuh sesal. Aku bergegas mandi, berseragam rapi dan melewatkan sarapan lagi untuk kesekian kali. Panggilan ibu dengan nada tujuh oktaf untuk makan serasa hanya kereta api lewat, ku abaikan begitu saja sambil berlari ke luar gang, mencari bis atau angkot yang lewat di jam sibuk seperti ini.  Benar saja, sudah lima belas menit aku menunggu, tak ada satupun bis yang lewat. Angkot pun selalu penuh penumpang ditemani gerombolan kambing. Iya, hari ini selasa. Pasar hewan di kotaku adalah selasa dan itu artinya kami para murid yang mepet berangkat sekolah harus berjejal dengan para pedagang kambing dan hewan dagangan mereka. Jam tujuh kurang lima menit, aku sampai di sekolah. Detak jantung yang sedari tadi berirama cepat menunggu angkot yang tak kunjung ku dapatkan serasa semakin berpacu tak beratura...

Kurir (Pentigraf / Cerpen Tiga Paragraf)

Semua orang di sekolah tempat ku mengajar tahu kalau suamiku ganteng dan baik. Setiap pagi dia menyempatkan diri mengantarku dan anak-anak ke sekolah sebelum dia berangkat ke pabrik tempatnya bekerja. Tak pernah ku dengar dia mengeluh meski jarak dari sekolah ke pabrik sekitar dua puluh kilometer seringnya harus dia tempuh tak lebih dari lima belas menit. Waktu yang begitu singkat karena seringnya jam setengah tujuh aku baru selesai memasak.  Pernah suatu pagi aku kurang enak badan sedangkan di sekolah akan diadakan kegiatan maulid nabi besar-besaran yang akan diselenggarakan pada malam harinya. Kue sebanyak dua ratus buah yang sudah kubuat tak bisa ku antar ke sekolah. Suami yang sedang libur di hari minggu itu berniat mengantar kue ke sekolah tanpa perlu kutemani. Dia memintaku istirahat saja di rumah karena pusing ku belum juga reda meski koyo cabe sudah ku tempel di pelipis kanan dan kiri.  Setelah suami mengantar kue dan sampai di rumah, Bu Nana salah seorang guru yang ba...

Peka (Pentigraf / Cerpen Tiga Paragraf)

Gendhis terlihat tak tenang duduk di sampingku. Dia terus saja menggaruk-garuk jempol tangan kirinya hingga kulihat memerah. Dia juga sering memegang perutnya, merapikan rok panjangnya dan bolak balik menggeser posisi duduknya, padahal kulihat tak ada yang salah. Duduknya juga sering condong ke arah Pak David yang berada di sisi kanannya. Apa mungkin dia merasa risih padaku yang sempat menyatakan rasa suka padanya dua hari yang lalu? Ah sepertinya tidak begitu karena pagi tadi dia tetep bersikap ramah padaku seperti biasa.  Rapat belum juga usai meski sudah tujuh puluh menit berjalan. Pak Dan, sang kepala pemasaran masih memaparkan hal-hal penting terkait persiapan promo baru di akhir tahun. Tapi mulutku serasa tak sanggup lagi menahan tanya pada sahabat SMA ku ini. Kucolek lengan kirinya, "Kamu gak apa-apa?" Dia tampak kaget, menoleh ke arah ku dengan wajah sedikit pucat lalu memaksa tersenyum, memamerkan dua lesung pipinya. "Aku dilepen, Fan..." katanya dengan pel...

Deras

Alhamdulillah akhirnya siang tadi hujan setelah entah berapa bulan langit gak menurunkan air yang melimpah ruah. Senang banget pasti. Apalagi aroma tanah di hujan hari pertama. Hmmmm... Rasanya menenangkan, syahdu, bikin kangen, nyess di hati mengalahkan aroma parfum pacar pas ketemuan nunggu bis, ahahaha. Itu dulu.  Sekitar satu kilometer dari rumah ada acara pernikahan. Ndilalah kok sering ya acara nikahan itu bareng dengan hujan gede sak petir-petirnya. Banyak loh kejadian pengantin diungsikan ke dalam rumah karena kuade tergenang air hujan. Jelas ini kejadian kalau acara nikahan di area rumah. Kalau acara di hotel ya gak ngefek lah ya. Saya akhirnya jadi mikir, apa mungkin langit dan semesta ikut bersuka cita atas pernikahan dua sejoli dan mereka mendoakan kebahagiaan untuk pasangan itu dan akhirnya mencurahkan hujan yang begitu lebat. Jelas hujan itu memang dari Allah tapi semesta dan langit pun saya yakin deh punya rasa bahagia juga. Dan itulah curahan emosi bahagia mereka....

Sibuknya Malaikat

Dewa Eka Prayoga, biasa dipanggil Kang Dewa. Seorang interpreneur muda yang sukses luar biasa. Omset dari bisnis yang digelutinya milyaran rupiah setiap bulannya. Masya Allah, luar biasa!  Tapi tak banyak yang tahu tentang jatuh bangunnya Kang Dewa di masa lalu. Pernah tertipu rekan bisnis, didatangi para penagih hutang setiap hari karena hutang yang lebih dari satu milyar. Kabur? Tentu saja tidak. Dia berjuang untuk melunasi hutang-hutangnya dengan upaya yang dia bisa. Menulis. Ya, dia menulis buku. Yang bahkan itupun dicibir banyak orang karena dia menulis buku tentang efektivitas salah satu media sosial dalam mengembangkan bisnis. Cibiran orang tentu saja, "Lha wong bisnis mu saja gagal, kok kepedean buat buku tentang bisnis!" Kang Dewa tak gentar. Dia tetap mempromosikan bukunya dengan sistem pre order. Tulisannya yang menarik, sinopsisnya yang mampu membuat orang penasaran, membuat buku itu akhirnya terjual sangat banyak. Membludak orderan! Padahal sebenarnya, di balik p...

Duka.

 Pagi ini seperti biasa saya berjalan kaki menuju sekolah. Perjalanan sejauh hampir dua kilometer ini biasanya saya tempuh selama dua puluh menit. Tapi hari ini berbeda. Setengah jam, barulah saya sampai di sekolah.  Dalam dua minggu ini ada beberapa orang yang tak lagi saya temui, tak lagi saya sapa sepanjang jalan, tak lagi saya lihat senyumnya.  Dimulai dari Bu Jun yang biasa menyapu di rumah Bu Rin. Sapaan ramahnya yang selalu berkata, "Ngajar sambil olahraga, El?" Perempuan paruh baya itu biasanya memegang sapu lidi diantara kebulan debu halaman. Bu Jun meninggal tak sampai seminggu setelah sakit dan disusul kepergian bu Rin tiga hari setelahnya.  Tak sampai dua puluh meter dari rumah bu Rin, saya biasa menyapa dan disapa mas pemilik bengkel. Dia terkenal sangat ramah. Perawakannya yang tinggi dan berisi seolah tak terlihat bahwa dia sering sakit dan bolak balik menutup bengkelnya. Kini bengkel itu tutup selamanya . Dia kembali kepada Rabb nya yang kemudian disu...

Ibu

Setiap kali kuucap nama itu Ada buliran yang mengalir tak terasa di sudut mataku Ibu...  Jika rindu ini terus ku tabuh Hatiku semakin bergemuruh Saat ikhlas ini ku taruh, serasa cumbu getir menggelayut.  Lalu doa kulangitkan, penuh Penuh harap Engkau kan menungguku di pintu surga dengan kerutan tipis di sudut matamu Dan pelukan hangat bercampur aroma melati yang biasa kau balurkan di sajadah panjangmu Ibu... Aku rindu Bondowoso, 21 September 2021 #TugasPuisi #MenulisAsyik #GriyaLiterasiBondowoso _Sketsa oleh Bu Diana_

Terima Kasih (pentigraf)

Sejak pandemi ini, aku sering mendengar omelan Giyatri istriku, setiap pagi. Entah karena si sulung yang tak bisa menghitung angka-angka pada pelajaran matematika, si bungsu yang tak mampu mengeja kata ataupun si kucing, Kitty yang mungkin semalaman tak menemukan jalan keluar dan memilih buang kotoran di ember baju bersih. Semua omelan itu jelas merusak mood pagiku sebelum berangkat kerja. Ah serasa ingin bergegas keluar rumah dan segera menemui para penjual di toko kelontong saja.  Iya, aku adalah seorang salesman motoris produk kebutuhan sehari-hari. Aku menawarkan produk yang ku jual pada toko-toko kecil langganan ku. Hari ini pun tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Hanya saja saat aku mendatangi toko pak Bayu, tokonya tetap tutup sejak lima hari belakangan. Aku pun bertanya pada orang yang melintas, mungkin mereka tahu apa yang terjadi. Dan betapa kagetnya aku setelah tahu bahwa pak Bayu yang selama ini hidup menduda setelah istrinya meninggal dua tahun yang lalu dan ta...

Malam Jumat

Tangan Voni sibuk membalas chat sambil menidurkan ketiga anaknya. Meski dia membalas dengan teks singkat, partner chat nya ini tetap saja mengirim pesan seakan tak kehabisan kata untuk ditulis.  Setengah jam berlalu, seseorang tadi akhirnya sampai rumah, bergegas mandi, pakai parfum, shalat lalu menyapa Voni yang terlelap setelah berhasil menidurkan ketiga anak mereka.  "Yank, ayo. Anak-anak sudah tidur semua." Bisiknya ke telinga Voni, pelan.  Sang istri kaget suaminya sudah datang tanpa dia tahu. Dan belum juga mengucap satu kata, bibir lembut itu sudah mencium pipi Voni yang merah merona.  "Maaf mas, aku kedatangan tamu." Jawabnya sambil tersenyum.  "Ya sudah, makan kripik saja yuk, itu di dalam tas kerjaku." Sang suami mundur teratur.  Voni membuka tas kantor sang suami. Tak hanya menemukan sebungkus kripik, dia juga melihat tisu berkotak hitam di dalamnya. Bondowoso, 15 Juli 2021

Media Sosial

Seperti yang sebagian besar kita tahu bahwa dahulu masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Hal ini banyak sekali dituliskan dalam lirik-lirik lagu pada masa itu.  Tapi sejak media sosial booming di Indonesia, sebutan itupun bergeser menjadi "Namanya juga warga +62" ataupun "Nyinyir is a habit". Sebutan-sebutan ini tentu bukan berasal dari warga asing tapi dibuat dan diperuntukkan untuk masyarakat Indonesia sendiri.  Bagaimana tidak, tak jarang kita membaca komentar negatif dari oknum masyarakat Indonesia tentang hal-hal yang mungkin tak sesuai dengan pemikirannya, sesuka hati atau malah dengan kalimat yang kasar dan menyakitkan dengan tujuan melukai hati orang yang dituju. Sebagai contoh seorang artis yang memajang foto dirinya di akun instagram pribadinya dengan berpakaian mini di pinggir pantai. Bagi artis tersebut, itu adalah hak nya karena dia lah sang pemilik akun. Bagi para penikmat instagram yang mampir ke akun artis tersebut d...

Ulang Tahun

 Menutup bulan kelahiran Indonesia, saya jadi teringat untaian doa para netizen. Ada yang mendoakan Indonesia kuat dan hebat dalam menghadapi pandemi. Tak sedikit juga yang mendoakan Indonesia semakin jaya dan bahagia masyarakatnya. MasyaAllah, semua doa itu sungguh indah dan menguatkan.  Berbeda dengan hari ulang tahun negeri tercinta, doa untuk ulang tahun anak dari para orang tua ada yang sedikit berbeda. Umumnya orang tua mendoakan kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan dan keberlimpahan rezeki untuk anak. Tapi ada juga orang tua yang meminta sesuatu dari anaknya, bukan mendoakan. Bagi orang tua tersebut, saya yakin itu adalah doa yang baik. Tapi apa benar itu baik? Sebagai contoh kalimat "semoga menjadi anak yang membanggakan orang tua".  Kalimat itu bisa diartikan "selama ini sebagai orang tua, saya belum bangga pada anak saya karena dia belum menjadi apa yang saya mau". Bisa karena sang anak masih kecil, belum bisa menjadi profesi A, B, atau C seperti kemauan ora...

Amarah

 Marah adalah bagian dari rasa. Ia memiliki energi. Seperti yang kita tahu, sifat energi adalah tidak dapat diciptakan hanya bisa berubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya ataupun disalurkan. Karena itulah marah tak bisa dihilangkan, ia harus disalurkan.  Tak sedikit orang yang menyalurkan amarah dengan mengomel, dengan kecepatan seribu bayangan tapi tak banyak orang yang mampu menyalurkan amarahnya dengan aman dan nyaman. Aman dan nyaman disini adalah tidak meninggalkan rasa negatif lain setelah disalurkan dan tidak menyakiti benda lain dalam penyalurannya. Nyaman artinya dia merasa lega setelah disalurkan dengan sehingga dia menjadi tentram.  Karena setiap orang itu unik, maka penyaluran emosi marah ini pun berbeda. Cara seseorang menyalurkan emosi ini menunjukkan karakter asli orang tersebut. Seseorang dengan karakter keras meledak - ledak tak mungkin hanya diam saja saat marah. Dia bisa berkata kasar untuk menyerang orang lain, untuk semakin menyakiti ataupun memper...

Wajah

Pagi tadi saya mengajar kelas delapan putri. Beberapa menit sebelum bel pergantian jam berdering, salah seorang murid nyeletuk.  "Miss, sudah hampir dua tahun diajar tapi saya gak tau wajah miss seperti apa. Buka sebentar donk miss masker nya. Bentaaaar aja. Apalagi kami kan pake masker, jadi aman," katanya sambil tersenyum menautkan kedua tangannya.  "Iya miss, ini sekelas gak ada yang tau wajah miss, ihihihi... " kata yang lain menimpali.  Saya cuma tersenyum dari balik masker double yang saya pakai.  "Biarlah mbak, gapapa... Yang penting tiap rabu ketemu pelajaran saya, denger suara saya." "Atau gini aja dah miss, lihat foto miss di HP aja dah, pingin tau, ehehehe.." Anak lain memberi ide.  Lah jujur saja, saya gak punya foto saya di HP. Saya gak suka selfie, adanya cuma foto anak-anak dan suami saja. Maklum, saya suka diam-diam foto suami. Di mata saya, dia masih cakep seperti waktu zaman sekolah dulu, ahahaha.  "Yah, bhurung lah paggun ...