Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Memilih Bahagia (Bagian 15)

Bulan sabit dan gugusan bintang menghiasi langit setelah sempat tertutup mendung dan gerimis magrib tadi. Lima menit sudah Hendra dan Nelly berbincang sambil menunggu jagung bakar yang mereka pesan.  Hawa dingin daerah pegunungan membuat Nelly semakin merapatkan jaketnya. Sesekali ia meniup dan menggosok telapak tangannya agar lebih hangat.  "Mungkin karena habis hujan ya, jadi tambah dingin." Hendra memperhatikan Nelly yang kedinginan.  "Mungkin." Nelly tersenyum.  "Alhamdulillah, akhirnya," Hendra tersenyum lebar saat jagung bakar sudah tersedia di meja kayu di hadapannya.  Ia mengambil piring yang berisi lima jagung bakar itu lalu duduk mendekati Nelly. Di bangku kayu panjang itu hanya ada mereka berdua. Sedangkan beberapa bangku panjang yang lain telah diisi oleh beberapa orang yang beramai-ramai duduk menikmati jagung bakar bersama.  Dari kedai jagung ini, pemandangan kota dengan lampu-lampu yang berkilauan tampak memanjakan mata. Jagung bakar dan kop...

Memilih Bahagia (Bagian 14)

Seorang laki-laki berpakaian casual tengah duduk di kursi kemudi. Rambutnya yang tersisir rapi ke arah kanan dan sorot mata setajam elang dengan alis tebal memperkuat karakternya yang tegas, kuat, berani dan dingin.  Laki-laki itu hanya memarkirkan mobil sport mewahnya di seberang jalan sebuah rumah bergaya Eropa. Netra kecokelatannya tak lepas memandang rumah berpilar raksasa, berharap sang pemilik rumah keluar halaman sekedar menghirup udara segar. Ia tak bernyali besar untuk datang berkunjung dan mengetuk pintu. Ia terlalu malu dan takut meski faktanya banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok yang menakutkan.  Sudah lebih dari sepuluh menit ia berada di sana tapi Zidan masih tak mampu bergerak satu sentipun mendekati pintu rumah Nelly, gadis pujaan hatinya. Kegiatan yang bagi anak buahnya itu membuang-buang waktu karena setiap hari Zidan melakukannya hingga bisa satu jam, namun pemikiran itu hanya dipendam oleh para anggota geng Zidan. Mereka tak berani mengusik hati san...

Cinta, Sampai Jumpa di Persimpangan Jalan --- Acting yang Sempurna

"Hei, maaf membuat kalian menunggu lama." Marcell menggeser kursi lalu duduk dekat dengan Jessica. Ia pura-pura tak melihat kekasihnya itu sempat berpegangan tangan dengan Nathan saat ia keluar sebentar untuk menerima telepon.  "Apakah atasanmu menelepon saat weekend? Oh, sungguh menyebalkan!" Jessica menggerutu.  "Ya, mendadak aku harus menyiapkan laporan minggu ini karena CEO akan datang berkunjung besok," Marcell berakting sedih memandang Jessica sambil membelai rambut panjangnya.  Gadis itu mencebik manja, "hmmm... akhir pekan yang lalu kita juga tergesa-gesa pulang saat bersantai di taman kota karena deadline pekerjaan telah menunggumu." "Maafkan aku, Jess. Aku berjanji akan mengajakmu berbelanja lusa sebagai pengganti hari ini," rayu Marcell.  "Benarkah?" mata Jessica berbinar, "baiklah kalau begitu." Marcell tersenyum puas, akhirnya ia bisa menghentikan rengekan manja Jessica yang memuakkan. Betapa tidak, suda...

Memilih Bahagia (Bagian 13)

"Syauqi Akmal. Ah beneran deh sesuai namamu, kerinduan yang sempurna," Erma berbicara sambil memandang foto Uki di tangannya, "aku kangen Uki! Kangeeenn!" Erma lalu menciumi foto itu bertubi-tubi sambil menghentak-hentakkan kaki di meja belajarnya. "Hmm... kalau kangen ya telepon. Ngomong sama foto mana bisa denger," Desti mencebik.  "Aku pake alasan apa ya, Des?" Erma serius meminta saran dari sahabatnya itu.  "Bilang aja kangen pake banget!" Goda Desti. Langsung saja Erma melempar bantal guling ke arah Desti yang berlari menjauh.  Tak berbeda jauh dengan Erma, dua hari sudah berlalu sejak pertemuannya dengan Erma, Uki merasa kembali merindukan gadis itu. Ia mencari cara untuk menemui Erma dengan alasan yang harus tampak alami. Lalu Uki menemukan sepasang sarung tangan milik Erma yang dulu tertinggal di kontrakannya. Ia pun langsung menghubungi Erma.  Setelah sepakat untuk bertemu, Uki memacu motor maticnya ke kosan Erma. Sesampainya d...

Kala Cinta Datang

"Kau baru pulang bersama James?" tanya Adam yang tengah duduk bersandar pada pagar besi. Gadis yang semula fokus mengubrak-abrik isi handbagnya untuk mencari kunci rumah itu menoleh pada sumber suara. Tubuhnya seketika menegang melihat pria yang sedang ia hindari tengah duduk di depan pagar rumahnya.  "Adam? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" suara Sandra sedikit tercekat.  Pria itu lalu berdiri. Temaram lampu jalan membuat bayangan hidungnya yang mancung terlihat jelas. Rambut bergelombang yang biasanya gondrong, kini terlihat pendek dan rapi, memamerkan rahang pipinya yang tegas. Alisnya yang tebal dan netra biru safir mampu menghipnotis siapapun untuk berkata, dia sempurna.  Adam Wilson, pria berusia akhir dua puluhan itu merupakan teman kecil sekaligus tetangga Sandra. Ia sering menunjukkan perhatian lebih pada gadis berambut cokelat itu namun gadis itu terlalu takut untuk mengakui bahwa di dalam hatinya ia pun menginginkan Adam.  "Aku hanya tak bisa mel...

Memilih Bahagia (Bagian 12)

Seperti cuaca, hati manusia tak bisa diprediksi perubahannya. Mendung yang pekat tak selalu berarti menyambut hujan yang lebat. Begitupun cuaca yang cerah, terkadang hujan deras datang menerpa tanpa ada aba-aba.  Hendra kalut. Dalam perjalanan pulang dari kosan Erma, pikirannya berkecamuk. Hatinya yang semula berusaha untuk fokus pada Erma, kini malah berubah memikirkan Nelly. Ia tak bisa mengikhlaskan Nelly menjadi milik Zidan. Mungkin saat ini Nelly belum bersedia menjadi pendamping si ketua geng brutal tapi Zidan tak bisa ditebak. Sepak terjangnya dalam memprovokasi lawan untuk mendapatkan keinginannya tak perlu diragukan. Selain karena para pengikutnya yang banyak, harta kekayaan yang ia miliki mampu menutupi tindakan kekerasan yang pernah ia lakukan. Itu artinya bisa dipastikan tak lama lagi Nelly akan jatuh ke dalam pelukannya meski dengan rasa keterpaksaan.  Tak bisa menunggu lebih lama lagi dalam kekhawatiran, Hendra menepikan fortunernya lalu berhenti di pinggir jalan...