Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Sayup - Sayup Rindu (Pentigraf)

Tenda jingga di pinggir jalan menuju arah kota Malang itu semakin ramai menjelang pukul sepuluh malam. Di dalamnya, para pemuda mengobrol santai sambil menyantap gorengan, berbagi rokok bersama teman atau hanya sekedar meneguk segelas Arabika. Sedangkan Ipung, dia asyik dengan pikirannya sendiri. Dua batang rokok belum mampu memberinya jawaban atas sikap Rinda yang tiba-tiba saja mengiriminya pesan setelah dua tahun mereka berpisah. Hanya kata, "Mas". Tapi mengapa baru sekarang pesan itu datang saat Ipung mulai membuka hati untuk perempuan lain. Mengapa tak sedari dulu saat Rinda memutuskan menerima perjodohan dari orang tuanya. Rokok ketiga telah dinyalakan. Mata Ipung menengadah, memandangi setiap kepulan asap rokok yang menyembur dari mulutnya. Samar-samar, asap itu membentuk wajah manis Rinda yang dikenalnya dulu begitu teguh pendirian. Namun tak disangka dia menjadi luluh, menyerah untuk memperjuangkan cintanya bersama Ipung demi melunasi hutang kedua orang tuanya dengan...

Pertemuan Kedua

Lima belas menit lagi apel pagi akan dimulai. Nita baru saja memijakkan kakinya di dalam sebuah bis kota tua yang dindingnya mulai berkarat. Terlihat jelas karena sudah tak ada lagi pelapis kulit sintetis yang membalutnya. Bisa dipastikan, kecepatannya tak bisa mengalahkan motor Komeng yang mampu memporak-porandakan rambut ber-pomade. Tapi Nita tak punya pilihan, motornya mogok pagi ini.  Setelah berdiri berdesakan selama beberapa menit, akhirnya beberapa orang penumpang turun di pasar dan tersedia kursi kosong. Bergegas Nita duduk dan memijat kakinya yang mulai lelah dengan hak sepatu tinggi. Ia lupa tak menggantinya dengan sepatu flat tadi sebelum berangkat. Sekilas, ia melirik sepatu penumpang yang duduk di sebelahnya.  Sepatu Converse Chuck Taylor All Star Split berwarna putih dan celana jeans biru gelap membuatnya tampak santai dan modis. Nita makin penasaran. Ia lanjut melihat pakaian yang laki-laki itu kenakan. Kaos Gap abu-abu muda serta tas Eiger hitam melengkapi pena...

Hadir Dalam Diam

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam saat tiba-tiba listrik padam tanpa ada pemberitahuan. Di luar, angin berhembus kencang disertai hujan yang masih tertahan. Ratna terbangun dari lelap tidurnya yang belum sampai satu jam. Hentakan keras jendela kayu kamar membuatnya tak lagi bisa menutup mata. Ia bergerak perlahan di tengah gelap, menyibak gorden putih yang melambai-lambai terkena angin lalu menutup jendela besar itu dengan rapat. Suara deritnya membuat suasana semakin mencekam. Malam ini Ratna hanya seorang diri. Ayah dan ibunya telah pulang sore tadi setelah bermalam selama seminggu selepas kepergian sang suami menghadap Ilahi. Ratna memilih tetap di rumah itu, sendiri meski rumah orang tuanya hanya di kota sebelah. Alasan dekat dengan kantor tempatnya bekerjalah yang membuat ia enggan meninggalkan rumah kenangan bersama suaminya tercinta. Ratna berjalan tertatih ke luar kamar. Kakinya yang masih cedera setelah kecelakaan bersama sang suami belum benar-benar pulih. Ratna tak...

Rasaku

Pada seutas rindu Kugantungkan pilu Ku rebahkan asaku meski hanya untuk menyentuh sehelai rambutmu Pada kabut di hatimu Ku titipkan pesan lewat gerimis berselimut ragu: Aku masih belum lelah menunggumu Bondowoso, 23 Januari 2022

Bukan Stan Pameran (Pentigraf)

Pagi itu saat Surti sedang asyik membantu sang ibu membuat sarapan, tiba-tiba saja gas habis. Surti pun menawarkan diri untuk membeli tabung melon itu di toko bu Yoyok yang jaraknya dua ratus meter dari rumahnya. Sebenarnya dalam hati Surti ada rasa enggan untuk berbelanja di toko itu mengingat sang pemilik selalu saja melontarkan kata-kata sindiran kepadanya dan sang ibu setelah sebelumnya Surti menolak lamaran anak wanita yang suka memamerkan juntaian perhiasan emas di leher dan tangannya itu. Sebagian besar perempuan di desa Surti memang tak sampai lulus SMP atau maksimal lulus SMA lalu langsung menikah. Pikiran itu tak ada di benak Surti sehingga ia dan keluarganya menolak lamaran anak bu Yoyok. Tapi apa boleh buat, hanya toko bu Yoyok lah yang terdekat di tempat tinggalnya yang berada di pelosok desa terpencil dan ia harus bermental baja setiap kali mendatangi toko itu.  Benar saja, sesampainya di toko itu kalimat-kalimat pedas terlontar dari bibir bergincu merah cabai bu Yoyo...

Demi Minyak, Demikian

Tatik hampir terlelap ketika gawainya berbunyi bertubi-tubi. Merasa terganggu dengan suaranya yang berisik, Tatik pun membuka chat grup yang begitu riuh itu. Ternyata perbincangan didominasi oleh para emak, teman seangkatannya saat SMA. Mereka heboh membahas minyak goreng yang sedang terjun payung harganya. Selisih dua belas ribu dari harga normal membuat kantuk Tatik seketika menghilang.  "Mas Gilang, yuk ikut mama ke Indahapril." Tatik membangunkan anak sulungnya.  "Duuuh... Mama. Orang enak tidur dibangunin." Kata Gilang yang tak mau melepas guling apek kesayangannya.  "Eeh... Ini Mama mau minta tolong bantuin Mama belanja kok. Kamu juga bangun Dan. Dan... Danu!" Tatik gigih membangunkan kedua anaknya.  Danu duduk di tempat tidurnya tapi tak mau membuka mata.  "Lagian tadi katanya disuruh tidur siang, gak boleh kelayapan, main bola juga dilarang, nunggu sorean biar gak tambah gosong karena minggu depan acara nikahannya mbak Dini. Lah kebagian sudah...

Kenangan Jingga

Para murid berkerumun dan tampak bahagia membaca buku kenangan SMA yang baru saja mereka terima bersamaan dengan pengumuman kelulusan. Keseruan semakin terasa saat mereka membaca motto hidup dari setiap orang di buku itu. Belum lagi foto diri yang kadang terlihat lebih menawan atau bahkan lebih lucu dari wajah aslinya karena tegang. Mereka saling meledek dan tertawa riang. Namun Rivan berbeda. Setelah menerima buku kenangan, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka kelas 12 IPS 1. Nama Naysa Kamilah yang pertama ia cari. Tertulis motto hidupnya disana, "Hidup bahagia dan menjadi salah satu kebahagiaan bagi pemilik payung jingga."  Tujuh bulan yang lalu menjelang magrib, hujan turun begitu deras. Naysa berdiri seorang diri di depan aula sekolah sambil memandang hujan. Semua temannya telah pulang selepas latihan menari. Untuk pertama kalinya ia lupa membawa payung. Padahal biasanya setiap hari payung lipat tak pernah alpa dari tas ranselnya.  Rivan yang baru saja selesai lati...

Perpisahanlah yang Aku Pilih (Pentigraf)

Mas Ozi datang dengan memakai batik tulis merah hati favoritku. Dia tampak gagah dan tampan. Ia tahu itu. Aku selalu memujinya setiap kali ia memakai batik itu. Mungkin inilah caranya merebut perhatianku dan berharap aku memaafkannya malam ini.  Tapi tidak, ia salah besar! Penampilannya memang mampu membuat jantungku berdegup kencang seperti saat berpacaran dulu. Namun kali ini aku merasa lelah. Cukup sudah aku membayar hutang belasan hingga puluhan juta akibat judi online yang dia lakukan. Aku merasa sudah cukup berusaha menyelamatkan mahligai pernikahan kami yang belum genap satu windu. Gajiku sebagai pegawai negeri sipil setiap bulan banyak aku habiskan untuk membayar hutang judinya. Ia berjanji akan berhenti berjudi, janji yang selalu ia ucapkan setiap kali ada penagih hutang datang mengancam. Aku muak! Terlalu sering ia berbohong padaku hingga pertengkaran tak bisa dihindarkan.  Malam ini aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini, di rumah orang tuaku bersama anak semata...

Tak Sanggup Melupakan (Pentigraf)

Sandra berjalan pelan. Sesekali dia berhenti dan melepas sepatunya yang berhak tujuh sentimeter. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluh sakit, kakinya lecet karena sepatu baru yang ia kenakan.  Di ujung koridor kantor ia berhenti, lalu duduk di kursi panjang seorang diri. Ia letakkan tumpukkan berkas yang hendak ia bawa ke gedung sebelah untuk ia serahkan ke pimpinan cabang yang sedang rapat di sana. Sandra hanya ingin istirahat sebentar, melepas sepatunya dan membiarkan goresan luka itu terkena angin. Ia lupa dan sering lupa bahwa sepatu baru selalu menggores kulit kakinya yang sensitif.  "Kenapa kamu selalu lupa? Tapi kenapa aku tak pernah lupa?" Seorang laki-laki berjongkok memasang plester di kaki Sandra yang terluka. Bayu, teman sekantor yang tak sanggup lupa pada Sandra meski hubungan mereka telah berakhir lebih dari tiga purnama.  Bondowoso, 12 Januari 2022

Memendam Rindu

Arkan berjongkok dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya gemetar sambil mencengkeram kedua pahanya. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Ia ketakutan. Tiga orang kakak kelas enam berdiri mengelilinginya. Mereka mulai memalak Arkan di lorong belakang sekolah. Tiba-tiba saja, seorang perempuan dengan rambut panjang lurus seperti sapu lidi berdiri berkacak pinggang muncul di tengah-tengah mereka. Badannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan keempat orang anak laki-laki itu membuat ia terlihat memiliki kepercayaan diri lebih. Tera, sang ketua kelas lima yang cerdas, cantik dan terkenal pemberani. Deretan piala kejuaraan taekwondo yang diraihnya semakin membuatnya disegani di kalangan teman-teman sekolahnya.  "Heh, kalian ngapain ganggu anak kelasku?!" Hardik Tera kepada tiga anak laki-laki itu.  "Eh, ada Tera. Ndak kok, kami cuma tanya apa nanti sore Arkan mau main bola bareng. Iya kan, Kan?" Jawab salah satu anak kelas enam itu. "Ok deh, karen...

Naif

Memagut rindu pada sebaris sapamu Seketika, penat yang bertabuh menjadi asa peluruh rapuh Naifnya aku,  Mengiba sapamu di bawah langit gemintang Sedangkan engkau tak pernah tahu inginku Karena pengecutnya aku hanya mampu memandangmu dari jauh Di bawah rembulan tanggal lima, Januari 2022

Salah, Itu Bukan Rindu

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun Gita belum mengantuk. Dia memilih melihat keluar jendela dari kamar hotel di lantai sepuluh. Gemerlap lampu kota di malam hari membuatnya betah berlama-lama memandang keindahannya meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian mengikuti pelatihan.  Sudah tiga hari Gita bermalam di kota ini. Kota tempat tinggal Fahri, sang mantan kekasih yang masih saja melekat di hati meski tahun-tahun telah berganti. Bukan karena tak laku, wajah manis Gita banyak menarik perhatian para lelaki tapi Gita tak sedikitpun membuka hati. Dia masih saja merasa bisa kembali merajut kasih bersama Fahri meski kesalahpahaman diantara keduanya belum diluruskan. Dua tahun lalu, di malam minggu selepas magrib. Tanpa memberi kabar sebelumnya, Fahri datang ke rumah Gita. Bermaksud memberi kejutan kepada sang kekasih setelah menempuh perjalanan selama satu jam dengan pesawat terbang, bukannya bahagia, Fahri pulang dengan rasa kecewa. Gita tengah kedatangan tamu lain yan...