Kenangan Jingga
Para murid berkerumun dan tampak bahagia membaca buku kenangan SMA yang baru saja mereka terima bersamaan dengan pengumuman kelulusan. Keseruan semakin terasa saat mereka membaca motto hidup dari setiap orang di buku itu. Belum lagi foto diri yang kadang terlihat lebih menawan atau bahkan lebih lucu dari wajah aslinya karena tegang. Mereka saling meledek dan tertawa riang. Namun Rivan berbeda. Setelah menerima buku kenangan, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka kelas 12 IPS 1. Nama Naysa Kamilah yang pertama ia cari. Tertulis motto hidupnya disana, "Hidup bahagia dan menjadi salah satu kebahagiaan bagi pemilik payung jingga."
Tujuh bulan yang lalu menjelang magrib, hujan turun begitu deras. Naysa berdiri seorang diri di depan aula sekolah sambil memandang hujan. Semua temannya telah pulang selepas latihan menari. Untuk pertama kalinya ia lupa membawa payung. Padahal biasanya setiap hari payung lipat tak pernah alpa dari tas ranselnya.
Rivan yang baru saja selesai latihan musik lewat di depan aula dan mengajaknya pulang bersama. Tempat kos mereka searah. Malam hampir menunjukkan wajah gelapnya, Naysa pun setuju untuk pulang bersama, sepayung berdua sejauh empat ratus meter.
Selama perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan di bawah payung jingga itu. Namun jelas terdengar desir-desir kebahagiaan dalam hati Naysa yang tak pernah membayangkan bisa berjalan berdekatan dengan Rivan, orang yang selama ini ia kagumi. Hati Rivan pun tak jauh berbeda. Jantungnya berdegup kencang, otaknya tak mampu berpikir untuk mencari topik pembicaraan karena hatinya terlalu bahagia, bisa sepayung bersama Naysa, gadis yang selama ini ia cinta. Terlalu lama ia memendam rasa itu dan tak bisa mengungkapkannya karena sahabat karibnya, Eros juga menyukai Naysa. Eros dan Naysa memang tak memiliki hubungan asmara, tapi semua orang tahu Eros berulang kali menyatakan perasaannya pada Naysa meski gadis manis itu selalu menolaknya dengan lembut.
Motto di buku kenangan itu membuat Rivan terkesiap. Ia tak pernah menyangka Naysa memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Segera ia tinggalkan sekolah, memacu scoopy untuk menemui Naysa. Tak lupa, di jalan ia sempatkan membeli sekuntum mawar merah untuknya.
Di depan Naysa, akhirnya Rivan mengungkapkan isi hatinya.
"Nay, aku sayang sama kamu. Terima kasih banyak sudah punya rasa yang sama denganku. Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama untuk mendengar ini dariku. Bahagialah selalu."
Rivan tersenyum bahagia. Ia letakkan sekuntum mawar merah untuk Naysa di atas pusara yang masih basah. Naysa berpulang ke Tuhannya tiga hari yang lalu setelah berjuang melawan demam berdarah.
Di bawah langit jingga, 17 Januari 2022.
Komentar
Posting Komentar