Memilih Bahagia (Bagian 4)
Erma memasukkan beberapa kotak kecil es batu ke dalam sebuah gelas kaca di atas meja makan. Susu UHT putih ia masukkan setelahnya, tak lupa espresso cair dengan aroma yang menggugah selera. Warna yang berpadu itu ia tatap lekat sambiI menempelkan dagunya ke meja makan. Erma tak mengaduknya dengan sendok, ia hanya mengguncangnya perlahan agar warnanya semakin berbaur rata. Setelah embun-embun es itu mulai terlihat di permukaan gelas, Erma menempelkannya ke dahi.
"Heh, kenapa wajahmu memelas begitu?" Suara Desti mengagetkan Erma hingga ia menoleh.
Desti menarik kursi di meja makan lalu duduk berdekatan dengan Erma. Erma tak merespon. Ia terus saja menempelkan espresso dingin itu ke dahi dan pipinya.
"Kamu besok pulang kan untuk persiapan acara minggu?" Desti melanjutkan pembicaraannya.
"Ini malah bahas acara pertunangan lagi. Pening nih kepala, puyeng. Siapa tau jadi dingin pikiranku kalau ditempel es begini." Jawab Erma lalu meneguk segelas espresso tanpa jeda hingga habis.
"Loh, aku gak dikasih? Teganya, Anda. Aku dekatin kamu itu biar boleh nyicip." Kata Desti sambil melirik gelas kosong dalam genggaman Erma.
"Tapi anu loh, Ma. Mas Hendra itu ganteng ya, ehehe. Masa kamu gak merasa? Gak papalah kamu jadi sama dia." Goda Desti.
"Hiss! Kamu aja deh tunangan sama dia kalau mau. Ganteng kan bukan jaminan, Des. Lagian aku nganggep mas Hendra sebagai tetangga yang baik, gitu saja. Gak ada pikiran untuk jadikan dia tunanganku, pegang tangan dia, terus... Hah! Geli aku bayanginnya. Jijik aku jadinya." Erma menggerutu.
"Tapi gak ganteng kan juga bukan jaminan." Desti menimpali lalu disambut dengan mata Erma yang melotot.
"Eh maksudku tuh, Uki memang manis tapi gak secakep mas Hendra meski aku cuma lihat di foto WA nya. Tapi ya mau gimana lagi. Uki gak ada kabar, parahnya nih gak bisa dihubungi, terus acara pertunangan hari minggu juga gak bisa kamu hindari. Jadi kamu gak punya pilihan dong, cukup belajar suka terus jatuh cinta ke mas Hendra." Kata Desti santai sambil membuka stoples keripik pisang.
Mata Erma menatap langit-langit ruang makan kosan berukuran tujuh kali enam meter itu. Tangannya ikut serta mengambil keripik dalam stoples meski Desti belum mempersilakannya. Ia memakan tiga iris keripik lalu mulai berbicara.
"Sebenarnya bisa saja aku minta tolong kamu atau teman-teman untuk telepon Uki ya, tapi ogah ah. Aku cukup menghargai keputusannya saja untuk menjauhiku. Aku tahu ini pasti juga berat untuknya."
"Aku salut sama kamu dan Uki yang punya kebiasaan saling menghormati gitu. Meski aku sebagai teman jadi gemes."
"Ya karena sikap kami yang mirip begitu, kami jadi jarang tengkar. Kalau lagi sebel cukup diem terus setengah jam kemudian minta maaf dan biasanya baikan dengan makan cilok anget. Gitu aja. Aku jadi kangen Uki." Bulir-bulir air mata Erma mulai menetes.
_____________
Hari yang tak diharapkan akhirnya tiba. Erma telah selesai dirias. Padu padan setelan kebaya biru muda dan make up berwarna pastel membuat Erma yang berkulit kuning langsat tampak semakin mempesona. Rambut Erma yang hitam pendek kini tak terlihat, tertutup kerudung berbahan sutra yang sengaja ia pilih untuk menutupi kebaya yang cukup lebar di bagian dadanya. Tapi entah kenapa ukuran kebaya itu terlihat cocok dengan tubuh Erma meski dia enggan untuk mencobanya beberapa hari sebelum acara.
Fotografer mulai mengarahkan Erma yang berdiri semakin menjauh setiap kali mas Hendra mendekat untuk memasang cincin. Tubuhnya serasa menolak bagaikan kutub sejenis yang tak mau didekatkan. Mulutnya tertutup rapat, jangankan memamerkan deretan gigi, tersenyum tipis saja seolah menjadi pekerjaan berat yang tak mampu ia lakukan. Sedangkan hatinya, tak ada yang tahu betapa rapuh dan hancurnya. Ia harus mengikuti kehendak orang tua yang selama ini ia anggap begitu menghargai segala keputusan Erma termasuk untuk berkuliah beberapa tahun yang lalu. Sang bapak yang awalnya tak setuju dengan jurusan kimia yang Erma pilih, pada akhirnya menyerah dengan keinginannya dan mengizinkan dengan ikhlas anaknya meraih impiannya. Maka betapa kecewanya Erma dengan orang tua yang tiba-tiba tak menghargai cintanya pada Uki dan memaksakan perjodohan dalam waktu yang begitu singkat.
"Mbak, tolong jangan geser lagi ya, jaraknya biar gak terlalu jauh. Terus juga biar pas di tengah backdrop." Sang fotografer yang mulai geregetan karena sinyal tangan yang ia berikan kepada Erma tak dihiraukan akhirnya berbicara dengan tegas.
Mas Hendra tersenyum lalu merangkul bahu Erma agar mendekat dan berdiri di tengah backdrop dekorasi. Badan Erma menurut tapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Mas Hendra mulai memasang cincin emas putih di jari manis Erma. Erma tak melihat jarinya, ia terlalu sebal untuk melakukannya. Matanya melihat ke ibu bapaknya yang berdiri di luar backdrop, lima meter di belakang mas Hendra. Namun tiba-tiba pupil matanya melebar saat ia melihat seseorang berdiri tak jauh dari makanan prasmanan.
"Ngapain dia di sini?" Tak terasa Erma berkata lirih.
Bersambung...
Bondowoso, 27 Februari 2022
Komentar
Posting Komentar