Memilih Bahagia (Bagian 7)

Butiran-butiran air dari langit tak lagi jatuh. Angkasa menjadi sangat cerah, seolah tak ada jejak gerimis yang mencumbunya. Bulan sabit terlihat jelas, tak ada awan yang menutupi pesonanya. Seperti pesona Erma yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam hati Hendra tanpa ia sadari. 


Berbicara dengan Erma adalah hal yang menyenangkan, santai dan renyah, itulah yang Hendra rasakan sejak dulu. Mereka tetangga yang cukup akrab dan dekat. Beberapa kali Erma dan Hendra pergi bersama saat mempersiapkan acara selamatan desa atau sama-sama menjadi panitia agustusan saat masih sekolah. Terpaut usia tiga tahun, mereka tak canggung satu sama lain. 


Tak terasa perut mereka bertiga mulai protes karena antrian tahu tek yang cukup lama. Lima belas menit sudah, tapi makanan yang mereka pesan belum juga tersedia. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di tempat sambil menikmati suasana yang nyaman. 


Hendra yang duduk berhadapan dengan Erma, melirik jari manis perempuan dua puluh satu tahun itu. Tak ada cincin pertunangan di sana. Erma melepas cincin itu saat ia mengurung diri di kamar setelah acara pertunangan. Ia meninggalkannya di rumah, di laci kamarnya. Cincin itu adalah sebuah beban baginya. Beban hidup yang tak tahu sampai kapan bisa ia lepaskan. Namun ia yakin, semua akan berlalu saat ia berhasil membuat Hendra dan Nelly bersatu.


Hendra sadar, tak mudah bagi Erma yang sudah memiliki kekasih untuk jatuh cinta padanya yang selama ini ia anggap sebagai teman sejak kecil. Hendra menyanggupi permintaan kakeknya untuk dijodohkan dengan Erma setelah ia patah hati karena pengkhianatan Nelly. Hatinya yang hancur, merasa tak ada cinta sejati di dunia maka perjodohan bukanlah masalah. Sedangkan sang kakek yang mengincar tanah seluas dua hektar milik ayah Erma, begitu bersemangat menjodohkan cucu satu-satunya dengan anak tunggal haji Parto itu karena dua tahun sebelumnya haji Parto menolak dengan halus untuk menjual tanahnya pada kakek Hendra. Kakek Hendra yang memiliki bisnis peternakan ayam di sebelah sawah ayah Erma merasa perjodohan Hendra dan Erma adalah cara jitu untuk mendapatkan tanah tersebut.


Sepulang dari makan bersama, Hendra meminta Erma untuk berbicara berdua di depan kosan. Erma yang sudah lebih santai setelah mengisi perut menuruti permintaan Hendra. 


"Dek Erma, saya minta maaf kalau dek Erma masih gak nyaman dengan hubungan kita. Saya akui memang gak mudah merubah hati dari teman jadi cinta. Saya gak memaksa dek Erma untuk cepat berubah. Semua memang butuh waktu." Kata Hendra sambil memandang Erma yang sibuk memainkan gantungan pompom di dompetnya. 


"Mas," Erma menatap mata Hendra. "Jujur saja, dalam hati mas juga gak ada saya kan? Mbak Nelly yang ada di sana. Saya gak tau kalian berdua ada masalah apa tapi apa mas yakin gak mau memperjuangkan mbak Nelly? Ikhlas dia dengan yang lain?"


"Jadi... "


"Pssttt... Jangan dijawab sekarang. Jawab dalam hati saja. Pikirkan dulu, yakinkan hati mas. Minggu depan, mas bisa hubungi saya lagi. Sebelum hari itu, jangan hubungi saya ya, mas perlu pikir mateng-mateng. Ok? Sudah malam, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut." Erma tersenyum lalu masuk ke dalam kosan. 


Hendra pulang. Ia mengendarai Fortunernya dengan pelan. Pikirannya menjelajah mengingat perkataan Erma. Apa mungkin ia benar-benar ikhlas melepas Nelly? Sedangkan Nelly dan Robby hingga kini tak bersama. Kabarnya Nelly meninggalkan Robby begitu saja. Sedangkan Robby, ia tak mampu mengucap maaf pada Hendra. Persahabatan mereka berubah menjadi kekakuan. Robby tak lagi berkunjung ke rumah Hendra setiap hari seperti dulu. Mereka seolah tak saling mengenal, tak bertegur sapa saat bertemu di jalan namun tak berseteru untuk saling adu menang. Mereka hanya diam, merenungi perasaan masing-masing.


Hendra tak pulang ke rumah. Ia ingin sendiri, menenangkan diri. Ia memilih bermalam di rumah yang dua tahun lalu ia beli. Rumah yang terletak di perumahan elit itu ia pilih bersama Nelly. Dulu, mereka punya impian untuk tinggal di sana bersama keluarga kecil mereka nanti. Impian indah yang ternoda pengkhianatan itu membuat bayang-bayang Nelly seolah tak pernah sirna dari rumah itu. 


Hendra memarkirkan mobilnya di garasi. Rumah  tak berpagar itu tetap tampak bersih, jauh dari kesan suram karena setiap dua hari sekali ada bu Ju yang membersihkan rumah. Namun betapa kagetnya Hendra, seseorang sedang duduk di kursi teras rumah. 


Nelly, selarut ini apa yang ia lakukan di sini? Satpam tak akan mengusirnya karena sudah terbiasa melihat Nelly berkunjung ke rumah ini. 


"Nel, kamu ngapain jam sebelas malam duduk di sini?" Hendra turun dari mobil tergesa dan menghampiri Nelly. 


"Kamu nutup telepon aku tadi padahal aku belum selesai bicara." Nelly tetap duduk sambil menatap Hendra yang keheranan dengan kehadirannya. "Kenapa? Kamu kaget aku datang?"


"Kamu senekat ini sekarang, Nel. Sebaiknya kamu segera pulang. Kamu bawa mobil?" Hendra berbicara tanpa melihat wajah Nelly sekarang. Ia tak sanggup dengan debar jantungnya yang semakin berdegup kencang. Ia merogoh kunci rumah dari dalam tasnya. 


Nelly berdiri lalu menarik tangan Hendra dengan keras. Ia memandangnya lekat. Mata mereka saling bertemu. Lalu Hendra membuang muka. Ia kembali mencari kunci di dalam tas selempangnya. Nelly membalikkan badan Hendra ke arahnya lalu memeluknya erat. Hati Hendra berdesir. Ia kembali mengingat sentuhan itu, kehangatan yang telah lama ia rindukan, aroma rambut Nelly dan parfum DKNY Fresh Blossom favorit perempuan berdarah China Jawa itu. Untuk beberapa detik, tubuh Hendra luluh. Nelly tahu Hendra mulai takluk. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Hendra. Jarak wajah mereka tak kurang dari sepuluh sentimeter. 


Bondowoso, 5 Maret 2022

Komentar