Memilih Bahagia (Bagian 9)

Setelah sempat terkesiap dengan kedatangan Hendra, Nelly lari mengejar Hendra yang sudah sampai di luar pagar hendak memegang gagang pintu fortunernya. Nelly meraih tangan Hendra agar menoleh padanya. 


"Dra, jangan salah paham dong. Biar aku jelasin dulu kedatangan Robby ke sini." Nelly memandang Hendra dengan serius. "Kami sudah lama gak ketemu. Kami putus sehari setelah kita berdua putus." Hendra menepis tangan Nelly. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Ia hanya menatap ke dalam mata gadis cantik itu, berusaha menemukan kejujuran di sana. 


Jika Sri Rama meminta Dewi Shinta untuk masuk ke dalam bara api demi membuktikan kesuciannya setelah lama hidup bersama Rahwana, lalu bagaimana cara Hendra membuktikan cinta yang katanya masih ada di dalam hati Nelly? Sedangkan Nelly dengan pasrah hati mau diculik hatinya oleh Robby, tak seperti istri Sri Rama itu.


"Itu bukan urusanku. Aku cuma mau balikin jepit rambut. Kamu mau ngapain aja sama Robby, aku gak mau tau!" Suara Hendra mulai meninggi. 

"Kamu cemburu. Kamu gak sadar itu?" Nelly memegang erat kedua lengan Hendra kemudian mengguncangkannya. 

"Cemburuku sudah habis. Gak ada yang tersisa untukmu!" Hendra melepaskan kedua tangan Nelly. 

"Bohong! Aku bisa lihat itu. Erma pasti juga tau kalau masih ada aku di hatimu, iya kan? Dengar ya, aku masih merahasiakan rencana keluargamu untuk menguasai tanah bapak Erma." Nelly berbicara sambil menekankan jari telunjuknya di dada Hendra. "Tapi kalau kamu tetap gak mau mutusin perempuan itu, terpaksa aku angkat bicara."

"Heh, kamu ngancam aku, Nel?" Hendra mengangkat kedua alisnya. "Jangan sok tau tentang urusan keluargaku!"

"Aku gak sok tau, Dra. Gak penting aku tau info ini dari siapa. Tapi yang jelas, aku bisa senekat itu untuk dapetin kamu lagi."

"Gila kamu! Kamu berubah, Nel!"

"Harus. Aku harus berubah. Aku gak suka kalau milikku direbut orang lain." Mata Nelly mulai berkaca-kaca. 

"Milikmu? Aku bukan milikmu, Nel! Ingat, kamu yang gak setia, kamu yang ninggalin aku, bukan aku, Hendra Pratama!" Laki-laki berkaca mata itu semakin geram. Ia segera berlalu dengan mobil yang dipacu kencang. 


Gemuruh dalam dada Hendra tak mampu ia kendalikan. Ia tak hanya mengebut, sesekali ia memukul setir mobilnya dan mengumpat. Benar kata Nelly, Hendra sedang cemburu. Ia yang terkenal over protective tak bisa melihat perempuan yang dicintainya didekati kembali oleh Robby. 


Sesampainya di rumah, Hendra langsung mandi. Berharap kecemburuannya mereda. Tapi ternyata ia salah, setelah mandi ia masih bolak-balik melihat layar handphonenya, berharap Nelly menghubunginya kembali, tak peduli kata-kata apa yang akan gadis itu katakan, yang penting ia bisa mendengar suara Nelly kembali. Jika tidak, artinya Nelly sedang menikmati kebersamaannya bersama Robby. 


Asisten rumah tangga Hendra mengetuk pintu. Ia menyampaikan ada seorang tamu datang. Hendra melompat cepat dari tempat tidurnya. Ia yakin Nelly datang dengan nekat ke rumahnya yang juga dihuni kedua orang tuanya. 


Namun kecewa tak dapat disembunyikan dari mimik wajah Hendra. Bukan Nelly yang datang, melainkan Robby dengan wajah yang tenang sedang menunggunya di teras.


"Maaf, Bro, ganggu kamu di rumah." Robby melihat ke arah Hendra yang sedang menarik kursi teras sedikit menjauh darinya. 

"Ada apa?" Jawab Hendra datar. 

"Aku sadar, telat banget untuk minta maaf. Aku memang salah, ganggu kamu dan Nelly." Robby berbicara sambil menunduk, memainkan kunci mobilnya. "Terlepas dari kamu maafin aku atau nggak, aku mau bilang maaf." Hendra tetap melihat lurus ke arah jalan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. 

"Aku tau persahabatan kita hancur gini karena aku. Mungkin juga gak bisa balik seperti dulu tapi setidaknya aku jelasin tentang kedatanganku ke rumah Nelly tadi." Robby melirik ke arah Hendra yang tetap bergeming. 

"Intinya, Nelly dan aku gak balikan. Dia masih ngarepin kamu, Bro. Dulu hubungan kami sebatas pelarian Nelly dari kamu yang dia anggap terlalu mengatur segalanya. Sedangkan aku berharap lebih dari dia. Tapi ya tetap saja, di dalam hatinya cuma ada kamu."

"By, kita temenan sudah lama." Hendra mulai merespon Robby. "Aku gak nyangka kalian berkhianat di belakangku. Kamu bisa bayangin kecewanya aku kan waktu itu? Terus sekarang kamu bicara seolah belain Nelly, seolah cuma kamu yang salah. Kalian berdua gak ada yang bener!" Nada bicara Hendra mulai meninggi.

"Ya, kami salah. Tapi kamu juga salah, Dra kalau cuekin Nelly padahal kamu masih sayang sama dia." Robby mengerutkan keningnya. 

"Sok tau, kamu!" Hendra mengelak. 

"Tanyakan saja sama hatimu, gimana perasaanmu yang sebenarnya. Tapi jangan terlalu lama. Ada laki-laki lain yang juga menyukai Nelly. Kamu tau Zidan kan? Dia salah satunya. Dan kamu pun tau gimana Zidan  dan gengnya berulah kalau mereka menginginkan sesuatu. 


Hendra terperangah. Zidan yang masih ada hubungan saudara dengannya dari pihak ibu, sering menggunakan kekerasan untuk mencapai keinginannya. Hendra sadar, Nelly dalam bahaya. 


Bersambung...


Bondowoso, 11 Maret 2022

Komentar