Cinta, Sampai Jumpa di Persimpangan Jalan --- Acting yang Sempurna

"Hei, maaf membuat kalian menunggu lama." Marcell menggeser kursi lalu duduk dekat dengan Jessica. Ia pura-pura tak melihat kekasihnya itu sempat berpegangan tangan dengan Nathan saat ia keluar sebentar untuk menerima telepon. 


"Apakah atasanmu menelepon saat weekend? Oh, sungguh menyebalkan!" Jessica menggerutu. 


"Ya, mendadak aku harus menyiapkan laporan minggu ini karena CEO akan datang berkunjung besok," Marcell berakting sedih memandang Jessica sambil membelai rambut panjangnya. 


Gadis itu mencebik manja, "hmmm... akhir pekan yang lalu kita juga tergesa-gesa pulang saat bersantai di taman kota karena deadline pekerjaan telah menunggumu."


"Maafkan aku, Jess. Aku berjanji akan mengajakmu berbelanja lusa sebagai pengganti hari ini," rayu Marcell. 


"Benarkah?" mata Jessica berbinar, "baiklah kalau begitu."


Marcell tersenyum puas, akhirnya ia bisa menghentikan rengekan manja Jessica yang memuakkan. Betapa tidak, sudah lebih dari sepekan sejak ia mengetahui perselingkuhan Jessica, ia harus berakting agar semua tampak baik-baik saja, tak ada kemarahan ataupun kecemburuan. 


Lalu ia melihat ke arah Nathan yang sebenarnya sedang menahan kobaran api cemburu di hatinya, "Nathan, aku sungguh minta maaf. Kita belum bisa membicarakan bisnis yang kau tawarkan sore ini. Tapi aku berjanji untuk menghubungimu segera saat kesibukanku selesai."


"Baiklah, tidak masalah." Nathan berusaha tersenyum tulus. 


"Jadi kita akan pulang sekarang?" tanya Jessica, tersirat nada tak ingin pergi. 


"Oh tidak. Kau bisa tetap melanjutkan obrolanmu bersama Nathan. Aku hanya harus pulang segera untuk menyelesaikan ini," Marcell tersenyum manis, "dan Nathan, maukah kau mengantar Jessica pulang nanti?" Marcell mulai memberi umpan. 


"Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat," Nathan meyakinkan. 


Marcell tahu, bukan hanya selamat sampai di rumah yang akan Jessica dapatkan tapi juga cumbu rayu dari pria yang merupakan teman sekolah gadis berambut cokelat keemasan itu. 


Dua bulan, bukanlah waktu yang sebentar untuk berselingkuh. Ini bukan lagi kesalahan yang tak disengaja tapi sudah menjadi candu. Marcell tahu ia sudah dicampakkan meski Jessica belum memutuskan hubungan mereka. Marcell pun sebenarnya tak tinggal diam. Laki-laki yang sudah satu tahun menjadi kekasih Jessica itu tengah menyiapkan balas dendam terbaiknya.


Setelah berpamitan, Marcell meninggalkan restauran tempatnya bertemu dengan Nathan. Tentu ia pergi sendiri dan meninggalkan Jessica bersama pria yang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. 


Tangan Marcell mengepal kuat, amarahnya belum mampu ia redakan. Baginya, Jessica merupakan gadis yang nekat. Ia memperkenalkan Marcell pada Nathan yang ingin mengajak berbisnis bersama. Entah itu tujuan sebenarnya ataukah ada tujuan lain yang direncanakan pria berpostur seratus delapan puluh tiga sentimeter itu. Marcell belum tahu pasti. Ia masih terus menyelidiki. Yang pasti, Nathan tidak berasal dari London. Ia benar-benar teman Jessica dulu di York yang kini bekerja di salah satu perusahaan finansial teknologi di London. 


Marcell memacu kencang mobilnya. Ia hendak menemui Ben di apartemennya.


Sesampainya di apartemen Ben, Marcell menekan tombol kunci rumah yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah pintu terbuka dan ia masuk ke dalam rumah, betapa kagetnya ia. Darah berceceran di lantai, memanjang hingga ke arah dapur dan kamar mandi. 


"Ben! Ben! Dimana engkau?" teriak Marcell, "apa yang sedang terjadi?" Marcell berlarian di dalam apartemen namun tidak menemukan Ben. Ia khawatir, bingung sekaligus takut hal yang buruk terjadi pada sahabatnya. 


Bersambung... 


East Java, 10 April 2022

Komentar