Bintang (Bagian I)
Malam minggu ini aku memilih tak pulang karena ada janji nonton dengan gebetan baru, Dinda namanya. Dia teman beda jurusan tapi satu fakultas denganku di FKIP. Aku mengenalnya di kuliah umum dan kami berada di kelompok yang sama. Dari sanalah aku tahu dia anak yang sangat rajin dan bertanggung jawab. Selain itu, kulit nya yang sawo matang dan tahi lalat di sudut kanan atas bibirnya semakin mempermanis wajahnya, membuatku ingin lebih mengenalnya.
Selepas magrib, hujan reda. Bergegas ku rapikan rambut dengan pomade, menyemprotkan Bvlgari, memakai Casio di pergelangan tangan kiri, merapikan krah Lacoste dan merapatkan resleting jaket Eiger. Ku cek sekali lagi kumis dan jenggot ku, sudah bersih. Kulit pun lembab dengan Dear Klairs. Fix, aku cakep.
Tutwit... Gawaiku berbunyi.
"Bin, sudah berangkat? Hujan disini sudah reda." Pesan teks dari Dinda. Segera ku jawab, "Meluncur... " Disertai emoji senyum.
Ku berkaca sekali lagi untuk memastikan penampilan ku karena ini pertama kalinya aku ke rumah Dinda, pasti akan bertemu orang tuanya. Degup jantung ku terasa lebih kencang, membayangkan bagaimana cara menyapa orang tuanya. Ah sudahlah! Toh nanti akan mengalir begitu saja.
Kupacu Scoopy dengan kecepatan sedang. Ini saja sudah membuat tubuhku kedinginan. Lalu lintas Jalan Jawa yang begitu ramai dengan para mahasiswa yang menghabiskan malam minggu dan sesaknya lesehan di sisi kanan kiri jalan sepertinya tak mampu menghangatkan udara. Ditambah lagi sebagian jalan yang tertutup banjir, membuat kakiku terasa dingin terkena cipratan airnya.
Sepuluh menit perjalanan, aku sampai di rumah Dinda. Rumahnya yang berada di perumahan pinggiran kota terasa lengang. Rumah ini terlihat cukup besar, mungkin dua rumah yang digabung menjadi satu. Cat tembok berwarna biru muda, deretan tanaman hias di teras dan beberapa anggrek yang digantung serta kolam ikan koi menyambut kedatangan ku.
Bismillah. Ku tekan bell rumahnya.
Tingtung...
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu.
"Oh Bintang y? Silakan masuk."
Hah? Aku tertegun, tak mampu berkata ataupun menggerakkan kakiku.
Mengapa Bu Siti yang membuka pintu? Bu Siti guru BK di SMA ku yang sangat mengenalku karena seringnya aku ke BK menceritakan masalahku.
(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar