Daisy Marc Jacobs

Sudah sepuluh menit aku duduk di kursi stainless ini menunggu giliran vaksin massal di kantor tempatku bekerja. Nomor antrian tiga puluh tujuh sudah dipanggil, artinya enam nomor lagi sebelum giliran ku. Agar tak bosan, ku isi dengan dengan bermain gim cacing yang begitu rakus memakan aneka makanan berwarna-warni di hadapannya. 


Tiba-tiba konsentrasi ku terpecah saat kucium aroma parfum vanilla berpadu dengan white woods dan sedikit musk. Hmmm... Ini Daisy Marc Jacobs, favorit mantan pacarku. Aromanya yang ringan tapi menyegarkan, melambangkan jiwa muda yang ceria. Ku toleh siapa yang memakainya hingga bisa merasuk ke hidungku yang tertutup masker. Oh, seorang nakes yang memakai double mask tapi bisa ku lihat mata cantiknya dengan bulu mata yang lentik. Ah siapakah namanya? Akan ku tanya nanti saat dia menyuntikkan vaksin padaku. Tapi sepertinya vaksin itu tak cukup kebal untuk menghindarkan rasa suka yang menginfeksi hatiku. 


"Heh, Bro! Tu cacingmu mati!" Agus benar-benar mengagetkan ku. 


"Dari tadi gak kedip sih liat nakes itu. Dia itu Sofia, mantan istri Pak Fadil, Kepala Seksi Penjamin Kualitas Data." 


Wuhhh... Entah kenapa nyaliku seketika ciut bagai balon yang terlepas ikatannya dan udaranya berhamburan entah kemana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga