Duka.
Pagi ini seperti biasa saya berjalan kaki menuju sekolah. Perjalanan sejauh hampir dua kilometer ini biasanya saya tempuh selama dua puluh menit. Tapi hari ini berbeda. Setengah jam, barulah saya sampai di sekolah.
Dalam dua minggu ini ada beberapa orang yang tak lagi saya temui, tak lagi saya sapa sepanjang jalan, tak lagi saya lihat senyumnya.
Dimulai dari Bu Jun yang biasa menyapu di rumah Bu Rin. Sapaan ramahnya yang selalu berkata, "Ngajar sambil olahraga, El?" Perempuan paruh baya itu biasanya memegang sapu lidi diantara kebulan debu halaman. Bu Jun meninggal tak sampai seminggu setelah sakit dan disusul kepergian bu Rin tiga hari setelahnya.
Tak sampai dua puluh meter dari rumah bu Rin, saya biasa menyapa dan disapa mas pemilik bengkel. Dia terkenal sangat ramah. Perawakannya yang tinggi dan berisi seolah tak terlihat bahwa dia sering sakit dan bolak balik menutup bengkelnya. Kini bengkel itu tutup selamanya . Dia kembali kepada Rabb nya yang kemudian disusul istrinya beberapa hari setelahnya. Oh betapa cinta bisa dibilang sehidup semati kalau begini.
Beberapa meter dari bengkel, di seberang jalan ada warung Ponorogo yang jarang sepi pelanggan. Pemesanan pesan antar pun selalu ramai. Mbak Susi nama pemiliknya. Meski mbak Susi dan suami adalah pendatang tapi kemasyhuran masakannya sudah terdengar hingga ke kecamatan lain. Keramahan pemiliknya mungkin juga menjadi salah satu sebab keramaian selain rasa masakan dan harganya yang murah. Saya sudah mengenal mbak Susi empat tahun lalu, sebelum dia membuka warung di tempat strategis itu karena anak semata wayangnya adalah murid di tempat les saya. Kini semua tinggal kenangan, mbak Susi meninggal tiga hari yang lalu setelah sempat di rawat di puskesmas.
Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan lebih cepat. Waktu sudah hampir jam tujuh, saya khawatir terlambat. Tapi sesampainya di depan kios degan, saya kembali mengenang Pak Jus, kakek yang begitu semangat berjualan degan ijo di depan rumahnya. Setiap siang sepulang sekolah, biasanya saya melihat beberapa orang berjajar membeli degan. Ya, degan semakin banyak diburu apalagi degan ijo di masa pandemi begini. Tapi Pak Jus tak lagi bisa menyediakan minuman segar itu. Beliau meninggal dunia sepuluh hari yang lalu setelah terjatuh di kamar mandi.
Di seberang jalan rumah Pak Jus, ada warung bebas yang menjual berbagai menu termasuk nasi pecel yang ketika saya berangkat sekolah sudah buka. Nasi pecel yang dulu sering saya beli saat santai pagi tidak ada jam mengajar kini tak bisa saya nikmati lagi. Sang penjual, mbak Hos meninggal tak sampai seminggu yang lalu setelah sakit yang dideritanya. Kenangan ini membuat saya tak sadar berdiri termenung di depan gerobak dagangannya beberapa saat.
Oh sungguh kepergian orang-orang yang saya kenal ini membuat saya sadar bahwa dunia adalah sebuah perjalanan. Saya menemui banyak orang, ditemani banyak orang dalam perjalanan saya dan pada akhirnya kami berpisah karena setiap orang memiliki waktu sendiri untuk sampai di garis finish perjalanannya. Semoga saya, Anda dan semua yang membaca kisah ini semakin menyadari untuk selalu bersyukur atas perjalanan di dunia dan mampu memberikan senyum manis pada setiap orang yang kita kenal dalam perjalanan ini. Semoga husnul khatimah untuk semua yang telah berangkat terlebih dahulu pada Rabb nya dan saat giliran kita nanti semoga kita meninggal dalam keadaan baik, dengan senyum terbaik kita. Aamiin.
Cindogo, 4 Agustus 2021.
Komentar
Posting Komentar