Kurir (Pentigraf / Cerpen Tiga Paragraf)
Semua orang di sekolah tempat ku mengajar tahu kalau suamiku ganteng dan baik. Setiap pagi dia menyempatkan diri mengantarku dan anak-anak ke sekolah sebelum dia berangkat ke pabrik tempatnya bekerja. Tak pernah ku dengar dia mengeluh meski jarak dari sekolah ke pabrik sekitar dua puluh kilometer seringnya harus dia tempuh tak lebih dari lima belas menit. Waktu yang begitu singkat karena seringnya jam setengah tujuh aku baru selesai memasak.
Pernah suatu pagi aku kurang enak badan sedangkan di sekolah akan diadakan kegiatan maulid nabi besar-besaran yang akan diselenggarakan pada malam harinya. Kue sebanyak dua ratus buah yang sudah kubuat tak bisa ku antar ke sekolah. Suami yang sedang libur di hari minggu itu berniat mengantar kue ke sekolah tanpa perlu kutemani. Dia memintaku istirahat saja di rumah karena pusing ku belum juga reda meski koyo cabe sudah ku tempel di pelipis kanan dan kiri.
Setelah suami mengantar kue dan sampai di rumah, Bu Nana salah seorang guru yang baru mengajar seminggu di sekolah menelepon ku. "Bu Mel, terima kasih ya kuenya sudah kami terima. Semoga Bu Mel cepat sembuh. Oh ya, Bu. Kurirnya kok cakep ya, ehehe. Orang mana ya, Bu? Kenalin donk!" Waduh.... Aku terbahak. Aku hanya menjawab, dia anak tunggal mertuaku.
Komentar
Posting Komentar