Media Sosial


Seperti yang sebagian besar kita tahu bahwa dahulu masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Hal ini banyak sekali dituliskan dalam lirik-lirik lagu pada masa itu. 


Tapi sejak media sosial booming di Indonesia, sebutan itupun bergeser menjadi "Namanya juga warga +62" ataupun "Nyinyir is a habit".


Sebutan-sebutan ini tentu bukan berasal dari warga asing tapi dibuat dan diperuntukkan untuk masyarakat Indonesia sendiri. 


Bagaimana tidak, tak jarang kita membaca komentar negatif dari oknum masyarakat Indonesia tentang hal-hal yang mungkin tak sesuai dengan pemikirannya, sesuka hati atau malah dengan kalimat yang kasar dan menyakitkan dengan tujuan melukai hati orang yang dituju.


Sebagai contoh seorang artis yang memajang foto dirinya di akun instagram pribadinya dengan berpakaian mini di pinggir pantai. Bagi artis tersebut, itu adalah hak nya karena dia lah sang pemilik akun. Bagi para penikmat instagram yang mampir ke akun artis tersebut dan merasa tidak suka, maka komentar negatif pun mereka lontarkan sesuka hati yang tak jarang dengan kalimat bullying. Tentu kita tidak tahu bagaimana perasaan sang artis, termasuk bagaimana puas atau tidaknya perasaan para pembenci yang menulis komentar itu. 


Sederhananya, akun media sosial seperti rumah kita. Kitalah pemilik rumah. Kita juga yang memiliki hak untuk membuka pintu rumah jika ada tamu yang ingin berkunjung. Tapi saat kita menerima tamu tersebut lalu tamu tersebut berkomentar tentang badan kita yang terlalu kurus seperti cacingan ataupun terlalu gemuk seperti punya niatan untuk menjadi atlet Sumo, atau juga mengomentari pakaian kita yang terlalu minim saat menerima tamu tentu kita sebagai tuan rumah merasa risih. Kita pun berhak meminta tamu tersebut untuk segera pulang atau malah mengusir mereka dengan keras. 


Di lain pihak jika kita sebagai tamu, apakah pantas berkomentar tentang seseorang yang berada di rumahnya sendiri? Jika kita tidak menyukai sesuatu dari orang tersebut, kita punya pilihan untuk tidak berkunjung ke rumah orang itu tanpa harus berkomentar. Kalaupun misalnya maksud kita baik untuk menasehati, maka bisa dilakukan dengan mengirim pesan pribadi, tanpa harus menuliskan kata-kata menyakitkan yang dapat dibaca semua orang. Itulah arti santun dan sopan yang sebenarnya. 


Semoga kita masih menjadi masyarakat yang sopan, santun dalam bersikap dan berbicara termasuk menghargai pilihan hidup setiap orang yang tentu tidak sama dengan kita. Selama itu tidak merugikan  kita, bukankah abai lahir batin lebih membahagiakan?


Cindogo, 23 Agustus 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga