Peka (Pentigraf / Cerpen Tiga Paragraf)
Gendhis terlihat tak tenang duduk di sampingku. Dia terus saja menggaruk-garuk jempol tangan kirinya hingga kulihat memerah. Dia juga sering memegang perutnya, merapikan rok panjangnya dan bolak balik menggeser posisi duduknya, padahal kulihat tak ada yang salah. Duduknya juga sering condong ke arah Pak David yang berada di sisi kanannya. Apa mungkin dia merasa risih padaku yang sempat menyatakan rasa suka padanya dua hari yang lalu? Ah sepertinya tidak begitu karena pagi tadi dia tetep bersikap ramah padaku seperti biasa.
Rapat belum juga usai meski sudah tujuh puluh menit berjalan. Pak Dan, sang kepala pemasaran masih memaparkan hal-hal penting terkait persiapan promo baru di akhir tahun. Tapi mulutku serasa tak sanggup lagi menahan tanya pada sahabat SMA ku ini. Kucolek lengan kirinya, "Kamu gak apa-apa?"
Dia tampak kaget, menoleh ke arah ku dengan wajah sedikit pucat lalu memaksa tersenyum, memamerkan dua lesung pipinya. "Aku dilepen, Fan..." katanya dengan pelan. Ku berikan jaketku yang biasa ku taruh di sandaran kursi padanya, setengah berbisik, "Nih pake jaketku ke kamar mandi sana, ada minyak kayu putih di saku kirinya."
Komentar
Posting Komentar