Terima Kasih (pentigraf)
Sejak pandemi ini, aku sering mendengar omelan Giyatri istriku, setiap pagi. Entah karena si sulung yang tak bisa menghitung angka-angka pada pelajaran matematika, si bungsu yang tak mampu mengeja kata ataupun si kucing, Kitty yang mungkin semalaman tak menemukan jalan keluar dan memilih buang kotoran di ember baju bersih. Semua omelan itu jelas merusak mood pagiku sebelum berangkat kerja. Ah serasa ingin bergegas keluar rumah dan segera menemui para penjual di toko kelontong saja.
Iya, aku adalah seorang salesman motoris produk kebutuhan sehari-hari. Aku menawarkan produk yang ku jual pada toko-toko kecil langganan ku. Hari ini pun tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Hanya saja saat aku mendatangi toko pak Bayu, tokonya tetap tutup sejak lima hari belakangan. Aku pun bertanya pada orang yang melintas, mungkin mereka tahu apa yang terjadi. Dan betapa kagetnya aku setelah tahu bahwa pak Bayu yang selama ini hidup menduda setelah istrinya meninggal dua tahun yang lalu dan tak lama berselang anak semata wayangnya pun dipanggil Sang Maha Kuasa, kini dia pun menyusul mereka. Oh ya Allah, aku terhenyak. Betapa aku kurang mensyukuri nikmat-Mu. Yang ku tahu hanya kesal setiap pagi mendengar Giyatri mengomel, melihat rumah berantakan dengan mainan anak-anak tak seperti rumah atasanku yang selalu rapi dan selalu bersungut-sungut setiap minggu saat istriku meminta diantar ke pasar selepas subuh. Oh ya Allah, sungguh aku tak tahu terima kasih.
Bergegas ku selesaikan semua pekerjaanku hari ini. Lalu ku sempatkan membeli sekotak pizza impian yang pernah diingankan istri dan anak-anakku. Sungguh tawa mereka saat melihat kardus cokelat pizza itu meleburkan egoku dan membuatku semakin bersyukur memiliki mereka di sisiku.
Bondowoso, 14 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar