Bintang (Bagian II)

"Ayo masuk saja, tunggu di dalam. Dinda sebentar lagi siap." Katanya  menyadarkanku yang tertegun entah berapa lama. 


"Oh iya, Bu."


Aku memasuki ruang tamu dan duduk di kursi kayu panjang berwarna cokelat pekat yang terdapat ukiran indah di bagian sandarannya. Bantalan duduk berwarna merah tua, senada dengan warna taplak meja yang dihiasi sebuah vas dengan beberapa bunga hidup di atasnya. Bunga mawar merah dan kuning, seperti yang ada di teras depan. Di sudut ruangan ada sebuah lemari buku dengan tinggi sekitar dua meter. Buku-buku tebal dan tipis berjajar rapi di dalamnya. 


Bu Siti tidak menemaniku di ruang tamu tapi aku malah memikirkannya. Apa hubungan bu Siti dengan Dinda? Ibu dan anakkah? Jika benar, betapa malunya aku. 


Teringat dulu saat kelas dua belas, aku sering ke ruang BK menemui bu Siti, bercerita tentang orang tuaku yang bertengkar hampir setiap hari karena perselingkuhan ibuku yang berakhir dengan perceraian kedua orang tuaku. Betapa bencinya aku pada ibu saat itu. Bu Siti adalah satu-satunya orang yang tak pernah menyuruhku bersabar ataupun menasehatiku untuk menghilangkan rasa benci pada ibu. Bu Siti yang bermata sipit itu mengizinkanku menangis tersedu-sedu di hadapannya, mendengarkan semua keluh kesahku, memahamiku yang berkata membenci ibu hingga tak ingin menerima telepon atau menemuinya lagi. Bu Siti akan tetap diam, mendengarkanku dan baru berbicara ketika aku menanyakan pendapatnya. Baginya, membenci adalah manusiawi sedangkan memaafkan hanya bisa dilakukan oleh orang yang berhati luas dan menganggap Tuhan selalu memberi hal baik pada manusia. Perkataannya itu lambat laun menyadarkanku bahwa rasa cinta ibu kepada pria itu adalah manusiawi. Aku tak bisa memaksakan hati ibu dan mengikhlaskan ibu memilih jalan bahagianya sendiri. Tapi jujur saja, proses itu tidaklah sebentar. Gejolak emosiku naik turun saat itu ditambah Resti memutuskanku tepat satu minggu setelah perceraian orang tuaku. Dengan cerita yang sama, dia meninggalkanku karena ada laki-laki lain di sisinya. Saat itu aku semakin merasa tidak berharga hingga dua perempuan penting di hidupku meninggalkanku dengan cerita yang sama, pengkhianatan.


"Yuk, Bin. Kita berangkat." Dinda membuyarkan lamunanku. 


"Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut ya, Bin. Kamu nyetirnya masih pelan seperti dulu, kan?" Kata Bu Siti. 


"I.. Iya, Bu." Jawabku gugup. Ternyata Bu Siti masih mengingat kebiasaanku. 


"Aku kaget loh, Bin. Ternyata kamu murid mama. Mama juga baru tahu pas kamu ketuk pintu barusan."


Deg! Mama... Duh malunya aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga