Bintang (Bagian III - selesai)
Aku dan Dinda berboncengan di tengah gerimis yang kembali turun. Kami tidak memakai mantel karena alasan yang sama, ribet. Apalagi bioskop tempat kami akan menonton sudah satu kilometer di depan.
Di bioskop, kami menonton film Eternals yang sedang booming. Seperti biasa, Angelina Jolie selalu sukses memerankan tokoh dalam setiap film yang diperankannya. Begitu juga kali ini dalam memerankan tokoh Thena yang terlihat kuat dan tangguh sebagai salah satu pahlawan super di karya Marvel ini. Dinda dan aku sangat menikmati film ini hingga akhir.
Setelah menonton, aku mengajak Dinda makan di sebuah rumah makan franchise. Aku mengantri di depan kasir untuk memesan makanan. Saat orang di depanku berbalik setelah memesan menu yang diinginkan, betapa kagetnya aku.
"Ibu? Mau makan di sini?" Tanyaku serasa tak percaya bertemu ibu yang sedang bergandengan dengan suami barunya.
"Loh, Nak. Makan di sini juga? Sama siapa?" Kata ibu sambil menyentuh lengan kananku.
"Papa?" Dinda yang baru saja muncul di belakangku seolah tak kalah heran.
"Oh, Bintang bareng Dinda, ya? Teman kuliah ya?" Kata suami baru ibu yang Dinda panggil sebagai papa.
Aku dan Dinda saling menatap, bingung, mata kami saling bertanya tapi mulut kami hanya menganga tanpa sepatah kata. Aku tak percaya kebetulan ini. Aku tak percaya takdir ini. Ini terlalu mengangetkan.
Aku dan Dinda mengurungkan niat untuk makan malam meski perut kami rasanya berteriak kencang untuk diisi ayam goreng yang terpajang begitu renyahnya di etalase kasir. Kami memutuskan untuk pulang.
Di atas motor, kami tak berbicara sepatah katapun. Aku sibuk dengan monolog dalam pikiranku. Mungkin Dinda pun sama. Rasa benci pada ibu yang telah lama hilang, malam ini serasa hadir kembali dalam bentuk yang berbeda. Mengapa ibu harus menjalin kasih dengan papa Dinda? Mengapa bukan laki-laki lain? Atau mungkin memang aku yang salah? Aku salah mencintai seseorang yang keluarganya hancur karena perbuatan ibuku.
Dua minggu berlalu setelah kejadian malam itu. Aku tak pernah sekalipun menghubungi Dinda, diapun sama. Kami seolah saling menyembuhkan luka dalam diri. Kami belum bisa berbagi kenyataan yang harus dihadapi. Hingga gawaiku berbunyi. Nomor yang sudah lama tak terlihat di layar ponselku itu, kali ini muncul dengan begitu berani.
"Bin, apa kabar? Aku mau ketemu kamu sebentar. Kamu bisa?" Kata Dinda di ujung sana.
"Hai, Din. Kabarku baik. Oke, kita ketemu di kantin kampus saja. Aku ada kuliah nanti sore dan selesai jam empat," jawabku yang sebenarnya sangat gugup menerima telepon darinya.
Di kantin, Dinda sudah menungguku dengan es teh di atas meja yang masih penuh. Dia terlihat manis dengan tunik polos berwarna biru benhur, celana jeans cokelat muda dan sepatu Adidas biru tua. Rambutnya digelung santai khas remaja dengan jepit bunga kecil untuk menyangga poninya yang terkadang terburai. Dari jauh, senyumnya yang menawan sudah bisa jelas kulihat. Andai ada orang lain di sebelahku, pastilah dia bisa mendengar suara detak jantungku yang begitu kencang.
Kopi latte sudah terhidang di hadapanku. Tak mampu kusentuh meski sudah dua menit berlalu. Mataku hanya bisa melihat ke sekitar. Para mahasiswa yang begitu riuh mengobrol sambil menikmati minuman favorit mereka dan sekali waktu mengupas kuaci yang serasa menjadi candu untuk menemani obrolan.
"Bin, tentang papaku... Aku minta maaf, ya. Papa sudah buat kamu dan keluarga sakit hati. Sebenarnya akupun sama. Mama dan aku awalnya gak sanggup menerima tapi akhirnya kami sadar, bahagia punya berbagai cara yang berbeda," Dinda memulai pembicaraan yang sedari tadi tak sanggup untukku mulai.
"Din... Aku juga minta maaf untuk semua kejadian ini. Tapi kita gak bisa menyalahkan diri sendiri, ataupun menyalahkan orang tua kita. Ini memang kisah unik yang begitu istimewa hingga hanya kita yang punya." Kata-kata ini keluar dengan lancarnya dari mulutku tapi aku merasa tak bisa lancar mengucapkan kata-kata lain setelahnya.
"Dua minggu aku gak menghubungi kamu. Aku takut sakit hatimu belum pulih. Tapi maafin aku ya, Din. Aku suka sama kamu. Aku gak ngarepin kamu balas perasaanku karena situasi kita yang... Ya seperti ini."
Wuh... Ternyata aku berani juga. Telapak tanganku terasa sedingin es meski sedang menyentuh kopi latte yang masih panas.
"Aku juga suka kamu, Bin." Jawab Dinda sambil tersenyum lalu meminum es teh yang sudah kehilangan es batunya.
Kami tertawa bersama. Bahagia. Dan suasana tegang itu mencair seketika.
Tamat.
Bondowoso, 14 November 2021
#TantanganMenulis30Hari
#HariKetujuh
Komentar
Posting Komentar