Dompet
Sebuah truk melaju kencang. Lalu, "Gubrak.... !"
Seorang pengendara sepeda ontel yang membawa keranjang makanan jatuh sekitar seratus meter di depanku. Truk itu menyerempet pengendara sepeda malang itu. Truk tak berhenti. Ia terus saja mengebut entah karena sang sopir tak tahu atau mungkin dia tak peduli. Tak ada satu orangpun yang menolong karena di kanan dan kiri jalan raya ini hanya sawah yang terbentang luas.
Aku percepat laju Innova, segera ku hampiri perempuan yang duduk di tengah aspal dengan keranjang tumpah dan makanan yang berserakan itu. Untung saja jalanan pagi ini begitu sepi, hingga perempuan muda itu aman meski tak segera beranjak dari duduknya. Aku membantunya berdiri. Dia tersenyum dan membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih. Aku lihat sebagian jubah panjang dan kerudungnya sobek terkena gesekan aspal, jari telunjuk dan jari manis di tangan kanannya juga terluka, lalu darah merembes dari lutut mengenai jubah biru muda yang dikenakannya. Dia berjalan tertatih ke sana kemari mengambil mika - mika berisi petulo yang berserakan di tengah jalan. Aku pun berasumsi dia seorang penjual petulo keliling.
Aku pikir semua petulo sudah masuk ke dalam keranjang. Aku memastikannya dengan kembali mencari di sekitar dan rimbunnya rumput di pinggir jalan. Bersih, tak ada petulo yang tercecer. Tapi entah mengapa perempuan itu masih saja terus mencari.
"Apa jumlahnya kurang, Mbak?" Tanyaku penasaran.
Dia tersenyum lalu mengambil gawai di saku jubah kirinya. Dia terlihat sibuk mengetik lalu menunjukkan padaku teks yang ditulisnya.
"Maaf mas, saya bisu. Dompet kecil saya berwarna kuning yang ada di dalam keranjang itu juga jatuh."
Deg! Aku kaget. Lalu segera tersadar dan membantunya mencari dompet yang hilang.
Komentar
Posting Komentar