Duh

Segelas besar potongan-potongan alpukat dipadu dengan durian montong kupas serta susu kental manis dan es serut di atasnya menemani siangku di cafe ini, sendiri. Aku aduk perlahan es yang memenuhi gelas besar ini agar tak tumpah dan mengenai tumpukan hasil ujian semester yang sengaja aku bawa untuk diselesaikan di rumah. 


Lee Min Ho belum datang juga padahal semestinya lima belas menit yang lalu dia sudah sampai di cafe ini. Tak seperti biasanya, dia terlambat dan tak memberi kabar. Aku hanya melihat keluar jendela sambil sesekali mengunyah es buah segar yang cukup fenomenal ini. 


Tiba-tiba Lexus hitam berhenti di depan cafe. Sang sopir sepertinya kesulitan memarkir mobilnya karena ada beberapa traffic cone yang tak beraturan tempatnya. 


Sopir Lexus itu akhirnya kehilangan kesabaran dan berkali-kali menekan klakson berharap petugas parkir segera memindahkan traffic cone tersebut. 


Kriiiiing... Kriiiiinggg... 


Aneh. Kenapa mobil mewah suara klaksonnya begitu? 


Kriiiing... Kriiiinggg... 


"Bu... Bu Nur. Sudah bel. Anak kelas lain sudah pulang. Apa kami juga sudah boleh pulang?" Rina murid kelas tujuh membuatku terjaga. 


Hah? Ternyata aku tertidur di kelas saat mengajar jam terakhir. Duh, malunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga