Hujan Memang Tak Pernah Berkabar
Menjelang azan magrib berkumandang, Honda Brio merah berhenti di depan rumah kos elite bergaya Eropa. Sebagian besar penghuninya adalah anak para pejabat maupun para pengusaha kaya yang berkuliah di kampus bergengsi yang terletak hanya tiga ratus meter jauhnya. Dara, sang pengendara Brio merupakan anak seorang pengusaha konstruksi di kota itu. Dia mengantar pulang sahabatnya, Mona, yang merupakan anak seorang petani kaya raya di kota sebelah. Mereka berdua seharian tadi berbelanja di mall dan melakukan perawatan di salon kecantikan. Meski sudah beraktifitas seharian, kelelahan tak tampak di raut wajah keduanya, mereka tetap ceria dan penuh semangat.
Mona turun dari mobil setelah berpamitan. Ritual cium pipi kanan kiri sebelum perpisahan memang biasa mereka lakukan sejak mereka bersahabat di awal kuliah. Mereka sangatlah dekat, selalu bersama kemanapun pergi hingga seolah tak ada rahasia diantara keduanya. Setelah memastikan Mona masuk melewati pintu gerbang kosan, Dara langsung mengambil gawainya. Tak sabar ia menelepon Rizal, kekasihnya.
"Honey, aku langsung ke sana ya sebentar lagi. Ini Mona sudah kuantar ke kosan," Kata Dara dengan mesra.
"Maaf, Honey, aku gak bisa. Tadi Mona sudah WA duluan kalau nanti malam mau makan bareng."
"Iih... Emang dia gak capek tah udah seharian pergi sama aku? Ndak, pokoknya nanti kita makan malam bareng! Kamu sebentar aja sama Mona, bilang kalau ada tugas makalah untuk besok."
Satu jam setelah percakapan itu, Rizal makan bersama Mona di sebuah warung soto langganan. Rizal yang menyukai soto di sana biasanya menghabiskan dua mangkok soto. Maklum, porsi soto bisa dibilang sedikit bagi laki-laki namun cukup mengenyangkan bagi perempuan. Meski begitu, mereka sering berkunjung bahkan bisa dibilang tiap minggu. Rasa soto ayam maupun soto babat yang begitu gurih dengan telur ayam dibelah dua, kuah pekat cokelat kekuningan, kentang-kentang goreng diiris tipis yang begitu kriuk, bihun yang tak berlebihan, potongan tomat pemicu rasa asam, tauge segar, sedikit taburan bawang goreng dan bumbu koya yang begitu melimpah membuat siapapun setuju, soto di Warung Bang Sodiq benar-benar memanjakan lidah pecinta kuliner.
Namun malam itu Rizal harus menahan diri untuk menambah satu porsi lagi. Permintaan Dara untuk makan bersama di rumahnya tak bisa ia tolak. Apalagi Dara ingin menunjukkan citarasa resep masakan yang baru ia praktekkan. Alasan makalah yang belum rampung membuat Mona menurut untuk segera beranjak dari warung soto langganannya itu.
Setelah mengantar Mona kembali ke rumah kos, Rizal segera memacu Lexus ke rumah Dara. Di sana, Dara sudah menyiapkan makanan yang dia masak khusus untuk Rizal. Mereka makan bersama, menikmati kebersamaan dengan penuh nuansa bahagia seolah tak pernah ada Mona diantara mereka.
Jam sembilan lewat dua puluh menit, Rizal berpamitan untuk pulang. Di pintu, mereka saling bergandengan tangan seolah tak ingin berpisah meski hanya sejam. Senyum mesra keduanya dan mata yang saling memandang begitu lekat tiba-tiba terlepas ketika suara tak asing itu datang.
"Maaf Dara, aku kesini malam-malam. Aku antar setelan kaos fitnessmu, terbawa di tas belanjaku. Katanya mau kamu pakai besok pagi," Mona muncul tanpa diduga seiring derasnya hujan yang juga datang tanpa pernah berwarta. Ia begitu sempurna bersembunyi di malam yang gulita.
Bondowoso, 29 November 2021
#TantanganMenulis30Hari
#HariKeduapuluhdua
Komentar
Posting Komentar