Jamaah Terakhir (Pentigraf)

Pak Tohar pulang lebih akhir selepas shalat isya berjamaah di masjid yang berjarak dua ratus meter dari rumahnya. Dia tak sendiri. Masih ada Pak Burhan yang juga masih betah di masjid menyelesaikan zikirnya. Mereka akhirnya pulang hampir bersamaan. 


Menyadari keberadaan pak Burhan di masjid, Pak Tohar bergegas memakai sandalnya dan segera pulang. Dia khawatir pak Burhan mendekatinya dan menyampaikan keinginan untuk meminjam uang lagi seperti minggu lalu. Pak Tohar tak meminjamkan uang saat itu dengan alasan uangnya masih dipakai untuk perpanjangan SIM motor kesayangannya. Kali ini dia bingung harus menggunakan alasan apa lagi jika Pak Burhan berkata ingin meminjam uang. Kabur adalah jalan terbaik.


Pak Tohar mempercepat jalannya, mengangkat sedikit sarungnya dan melebarkan langkahnya. Tapi entah kenapa pak Burhan tetap saja mengikutinya, bahkan pak Burhan setengah berlari mengejar Pak Tohar dan memanggil namanya. Pak Tohar tetap tidak menoleh, pura-pura tidak mendengar meski akhirnya ia terkejar juga. "Duh... Pak Tohar, sampean jalannya kok cepet banget? Saya sampai ngos-ngosan. Ini loh saya mau nukar sandal. Sampean salah pakai sandal saya." Kata pak Burhan yang membuat pak Tohar jadi melongo. 


Bondowoso, 10 November 2021


#TantanganMenulis30Hari

#HariKetiga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga