Kaca Ambulan
Betapa lelahnya aku saat ini. Sore tadi selepas shalat ashar aku mendapat telepon, ada korban kecelakaan yang harus segera dilarikan ke rumah sakit. Bergegas aku ambil kunci ambulan dan mengantar korban ke rumah sakit. Alhamdulillah dia segera tertolong meski kepalanya terus saja mengucurkan darah segar dan kakinya patah. Sepeda motor yang dia kendarai rusak parah di bagian lampu dan roda depan setelah menabrak truk yang terparkir di pinggir jalan.
Baru satu jam yang lalu aku sampai di rumah dan menyempatkan shalat magrib berjamaah di masjid, gawaiku kembali berdering. Ada pasien gawat darurat di puskesmas tempatku bekerja. Pak Anton, dengan penyakit asma yang dideritanya ditambah jantung yang semakin melemah serta tekanan darah tinggi di usianya yang tak lagi muda membuat dia semakin lemah tak berdaya hingga harus dirujuk ke rumah sakit kota.
Aku nyalakan sirine, kecepatan di atas seratus sepuluh kilometer mengendarai ambulan itu seperti masih saja terasa lambat. Aku ingin segera sampai di rumah sakit agar kakek yang kukenal baik ini segera mendapatkan pertolongan. Perjalanan lima belas menit dengan jarak tempuh dua puluh tujuh kilometer akhirnya kulalui tanpa kendala.
Sesampainya di rumah sakit, pak Anton segera ditangani. Aku sungguh merasa lega. Dengan badan yang cukup lelah, aku menuju mini market terdekat, membeli susu UHT cokelat dingin untuk menghilangkan lelah dan kantuk yang mulai mendera.
Aku baru ingat telah meninggalkan ponsel di dalam mobil ambulan hingga aku memutuskan kembali ke dalam mobil itu. Malam yang begitu dingin membuatku malas keluar mobil dan sejenak aku duduk di kursi kemudi sambil membalas chat, membuka media sosial dan menyeruput susu yang terasa begitu menyegarkan. Ah sebentar saja, aku ingin duduk disini. Tiba-tiba saja Pak Anton mengetuk kaca mobil sebelah kanan. Aku kaget, badannya yang tadi terasa begitu lemah, kini berjalan hingga ke mobil ambulan sendiri. Aku turunkan kaca mobil dan mendengarkannya berbicara.
"Terima kasih ya, Mas Andre sudah antar bapak. Ayo kita pulang," kata kakek berusia enam puluh dua tahun itu.
"Loh, sudah sehat, Pak?" tanyaku padanya yang tetap heran namun takjub dengan kesehatannya yang begitu cepat membaik.
"Dre... Pak Anton sudah gak ada," Shandy mengagetkanku yang tiba-tiba saja datang dan berbicara dari kaca ambulan sebelah kiri.
"Dia meninggal barusan," katanya melanjutkan cerita.
Aku kaget dan langsung menoleh ke arah kaca kanan. Tak ada siapapun disana, termasuk pak Anton yang baru saja kulihat sedang berbicara.
Bondowoso, 12 November 2021
#TantanganMenulis30Hari
#Harikelima
Komentar
Posting Komentar