Mantra

Bondowoso pagi ini mendung, semuram wajah Tyas, istriku. Tak ada rona ceria di wajahnya meski ini tanggal muda. Padahal biasanya setiap awal bulan begini online shop nya sangat ramai pembeli hingga dia terlihat sangat bahagia mendengar riuhnya transferan melalui  notifikasi  gawainya. Dia pun begitu antusias membantu para karyawan membungkus pesanan di ruang sebelah yang memang kusediakan khusus untuknya. Aku tak mengizinkan Tyas bekerja di luar rumah, biarlah dia mengurusku dan anak semata wayang kami, Chandra yang baru berusia empat tahun. Akupun selalu memastikan semua kebutuhannya tercukupi.


"Yank, gak enak badan tah?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya yang sedang membungkus paket pesanan.


"Ndak," jawabnya ketus.


"Habisnya kamu kayak surem gitu. Sayang dong wajah cantik tapi merengut," godaku dengan sedikit berbisik.


"Ih...apa sih?" Dia malah duduk menjauh dariku.


Akupun berpikir keras tentang kesalahan apa yang mungkin telah kuperbuat. Mungkinkah aku melupakan tanggal penting ulang tahun, hari pernikahan atau adakah janji yang belum kutepati? Tapi tetap saja, tak ada jawaban yang melintas di benakku.


"Udah dong, Yank ngambeknya. Aku ini sebenarnya mau cerita kalau barusan mendadak ada telepon. Aku harus survei proyek di Malang. Acaranya besok, sehari aja. Aku tuh pinginnya kamu dan Chandra ikut jadi besoknya kita bisa sekalian jalan-jalan..."


Belum selesai aku menjelaskan, Tyas langsung tersenyum lebar dan menggaet lengan kiriku.


"Hayuk, Yank. Jam berapa berangkat? Aku packing dulu ya." Katanya dengan antusias dan langsung berlari ke kamar, sibuk menyiapkan keperluan yang akan kami bawa.


Aku heran, mantra apa yang baru saja kuucapkan hingga dia berubah begitu drastis. Ah... aku sungguh lupa mantranya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga