Penolong Rahasia

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua belas menit. Suara pukulan tongkat Pak Dal ke tiang listrik besi terdengar lirih. Artinya dia sudah jauh melewati gang Borobudur enam. Suara tiang besi yang dipukul itu memang terasa menyeramkan, memecah kesunyian malam di area pinggiran kampus yang mulai lengang. Sosok pak Dal juga tak kalah seram. Sorot matanya yang tajam, berkumis tebal dengan jaket kulit lusuh dan training hitam serta topi hitam berbordir gambar pisau. Dia selalu tepat waktu, jam sepuluh malam memukul tiang listrik besi di sebelah pintu gerbang rumah kos Borobudur nomor satu.


Ketiadaan Pak Dal di depan kosan memang melegakan, artinya Desy tak perlu bertemu sosok menyeramkan itu sekaligus menimbulkan masalah baru, gerbang kos dikunci tepat pukul sepuluh malam. Desy harus mencari cara agar bisa masuk ke dalam rumah kos. Dia mencoba menelepon Fina teman sekamarnya, tapi tak ada jawaban. Mungkin saja dia sudah tidur lelap. Desy lalu menelepon Gina, teman kamar sebelah. 


"Gin, tolong bukain pintu dong, aku sudah di pintu gerbang nih, " Kata Desy dengan suara yang begitu pelan agar tak terdengar bu kos yang rumahnya membentengi tiga puluh dua kamar kos di belakangnya. 


"Duh, maaf ya, Des. Aku gak berani. Bu kos belum tidur kayaknya. Barusan aku liat kayak seliweran di ruang belakang," Kata Gina sambil mengintip dari kamarnya yang bersebelahan dengan ruang belakang bu kos. 


"Lah.. Terus aku mau tidur dimana? Barusan kuliah malam selesai jam sepuluh terus aku masih beli nasi, lapar," Kata Desy memelas. 


"Kamu pulang sama siapa barusan? Sama Rindy? Tidur di kos dia aja dulu," Gina memberi saran. 


"Hmmm ... Rindy sudah pulang, kebelet ke toilet dia. Aku gak berani jalan kaki ke kosannya jam segini, gelap loh jalan ke kosan belakang," Suara Desy terdengar akan menangis. Lalu dia menutup teleponnya. 


Tiba-tiba terdengar suara gembok dibuka. Mbak Verly, anak sulung bu kos berdiri tepat di gerbang tanpa sepatah kata. Desy terkejut lalu segera tersenyum dan menjelaskan bahwa kuliahnya baru saja berakhir. Dia mengucapkan terima kasih. Mbak Verly hanya tersenyum lalu pergi setelah mengunci kembali gerbang depan. 


Keesokan harinya ketika akan berangkat kuliah jam enam pagi, Desy bertemu mbak Verly yang baru saja membuka gerbang untuk memasukkan mobilnya ke garasi. 


"Darimana mbak kok pagi banget?" Sapa Desy. 


"Dari rumah Dreamland, Dek. Saya tidur di sana tadi malam karena capek habis ada arisan," Jawab mbak Verly dengan santai. 


Lalu Desy dengan wajah tegang dan merinding sekujur tubuh hanya tersenyum dan berjalan cepat menuju kampus. 


Bondowoso, 26 November 2021


_Diambil dari kisah nyata saat kuliah._


#TantanganMenulis30Hari

#HariKesembilanbelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga