Secret Admirer

Nita terkejut. Sepucuk surat beramplop merah muda kembali tergeletak di atas meja tempatnya duduk, kejadian yang sama seperti dua minggu yang lalu. Dia mulai melihat ke sekitar, belum ada satu muridpun yang datang. Dialah orang pertama yang datang karena memiliki jadwal piket hari itu. 


Seperti tebakannya, surat itu berisi pengakuan kekaguman dari seseorang yang belum mau menunjukkan dirinya. Kali ini suratnya juga berisi ucapan selamat atas prestasi Nita yang baru saja memenangkan olimpiade sains tingkat provinsi. Nita tak habis pikir, kenapa pengagum rahasia ini tak berani mendatangi dirinya langsung seperti Gafur dan Willy, anak kelas sebelah ataupun Fadil, adik kelas sebelas. Mengapa dia tetap bersembunyi dan tak bernyali untuk tampil? Padahal surat merah muda itu mengusik hatinya. Nita terbuai dengan kata-kata biasa, cerita biasa yang dituliskan di dalamnya, tanpa puji-pujian yang melambung tinggi. Isi surat pertamanya yang bercerita tentang bagaimana dia dengan sederhana menyukai Nita, memperhatikan Nita yang lupa membawa payung dan kehujanan menunggu bis dua minggu yang lalu.


Surat-surat itu intens datang setiap hari rabu, tepat di hari Nita memiliki jadwal piket. Tiap rabu itu pula, Nita seperti memiliki semangat baru untuk berangkat lebih awal, membaca selembar surat yang mampu membuatnya terhibur di tengah kesibukan belajar menghadapi ujian kelulusan sekolah.


Satu tahun berlalu, hari kelulusanpun tiba. Sang pengagum rahasia menuliskan di surat terakhirnya bahwa dia akan mendatangi Nita ke rumahnya dan memperkenalkan diri. Dia tak meminta Nita membalas perasaannya. Dia hanya ingin berkunjung, sebelum Nita pindah ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di sana. Selama setahun ini pula, Nita hanya bisa membaca cerita-cerita sederhana darinya tanpa bisa membalas karena tak tahu akan dialamatkan kemana. Dalam hati, Nita pun mulai mengaguminya meski dia tak tahu siapa orangnya. 


Malam itu, Nita menunggu kedatangan sosok misterius yang mampu membuatnya berdebar setiap membaca surat-suratnya. Dengan balutan dress panjang sebetis berwarna violet dan rambut panjang terurai, Nita terlihat semakin manis. Seperti hatinya yang juga dipenuhi dengan hal-hal yang manis. 


Bel berbunyi. Bergegas Nita membuka pintu kayu berukir wayang Jawa itu. Laki-laki tegap bertinggi seratus delapan puluh sentimeter mengenakan kemeja distro kotak-kotak merah maroon dan hitam, sepatu kets abu-abu dan jam tangan Alba tengah berdiri di pintu dengan senyum manis yang begitu khas. Senyum ramah itu selalu membuatnya betah berlama-lama di kelas bahasa Inggris. Mr. Erzhan, guru bahasa Inggris yang baru mengajar setahun di sekolah Nita dan menjadi idola para gadis di SMA menyapanya dengan ramah, "Assalamu'alaikum."


Bondowoso, 27 November 2021


#TantanganMenulis30Hari

#HariKeduapuluh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga