Senandung Rezeki
Sore selepas hujan, masih terdengar suara tetesan air dari atap rumah Parjo yang bocor di beberapa sisi. Wadah-wadah penampung dari seng yang mulai berkarat membuat suara tetesan-tetesan itu semakin jelas terdengar, bersahut-sahutan menciptakan alunan merdu. Parjo menamainya senandung rezeki.
Sang istri membawa dua cangkir kopi lalu mendatangi Parjo yang sedang duduk di sofa panjang. Sofa hijau yang mulai lapuk dan robek sebagian kulitnya dimakan usia serta pincang salah satu kakinya hingga diberi kertas tebal agar berdiri seimbang itu merupakan tempat yang nyaman untuk duduk bersantai sepasang suami istri yang tak lagi muda.
Parjo asyik membaca koran yang dia pinjam dari sekolah tempatnya mengajar tadi. Sang istri penasaran, berita apa yang sedang sang suami baca hingga ia tak menyadari kedatangannya bahkan tak mencium aroma kopi yang menyeruak di ruangan berukuran lima kali tiga itu. Perempuan itu duduk di samping suaminya, mencondongkan tubuhnya ke koran lalu memicingkan mata karena kurang jelas penglihatannya. Buruh berdemo setelah putusan UMK dua ribu dua puluh dua diketok, itulah judul yang tertulis di sana.
Sang istri lalu mengambil kopinya, menyamankan posisi duduknya. Sambil menyeruput kopi yang masih mengepul, dia berkhayal. Apakah jika mereka tinggal di kota, suaminya akan menjadi buruh dan melakukan demo serupa meski gaji sudah lebih dari empat juta? Ya mungkin saja karena biaya hidup di kota yang tak murah. Lalu diapun sadar, itu jauh dari kenyataan.
Perempuan itu tahu pasti bahwa suaminya sangat mencintai dunia pendidikan tak peduli meski gaji yang ia terima tak lebih dari empat ratus ribu setiap bulan. Menggarap sawah milik Pak RT, berhutang ke saudara atau menggadaikan perabot rumah tangga yang masih layak tak jarang mereka lakukan. Semua demi kebutuhan hidup, makan sederhana dan biaya pendidikan anak semata wayangnya yang berkuliah di kota. Sertifikasi guru belum ia dapatkan karena ia baru mengajar menjelang tahun dua ribu sepuluh di usianya yang sudah berkepala tiga saat itu. Ia pun tak lolos tes PPG Kemenag tahun lalu yang dianggapnya tak mudah bagi mata tuanya untuk menatap layar komputer dalam waktu lama. Sedangkan menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK belum tersedia di kementrian tempat ia mengabdi.
"Dek, kenapa kok melamun? Rezeki dari Allah itu melimpah, sama seperti derasnya hujan yang meluber masuk ke dalam rumah meski kita sudah berusaha menghalau dengan menembel seng, toh tetap bocor juga. Rezeki ya begitu, gak terbendung. Bukankah kita sangat beruntung bisa menyeruput kopi sambil mendengarkan senandung rezeki?" Kata Parjo sambil membelai lembut tangan istrinya yang mulai keriput.
Bondowoso, 30 November 2021
#TantanganMenulis30hari
#HariKeduapuluhtiga
Komentar
Posting Komentar