Sesal

Azan subuh baru saja berkumandang tujuh menit yang lalu tapi Anas sudah mengakhiri zikirnya selepas shalat. Dia diburu waktu. Lima menit lagi biasanya bis antar kota akan melintas di depan rumahnya yang terletak di pinggir jalan raya antar kota. Dia tak boleh ketinggalan bis. Dia harus menaiki bis itu meski penumpangnya dipastikan penuh. Bis itu akan mengantarnya ke kota sebelah, tempat dia berkuliah di jurusan ekonomi. Motor yang biasa dia bawa, semalam mendadak mati, sehingga naik bis adalah cara terakhir yang diambil agar tak terlambat mengikuti kuliah pagi jam tujuh nanti.


Bis subuh itu sungguh penuh sesak. Lebih dari lima belas orang berdiri memenuhi bis mini berwarna merah muda itu. Sebagian besar adalah mahasiswa dan mahasiswi yang juga menuju ke kota sebelah. Anas tahu itu karena ini bukan kali pertama dia naik bis subuh. Tapi kali ini ada sesuatu yang menarik hatinya. Seorang perempuan berkerudung biru muda berdiri satu langkah berhadapan dengan tempat dia berdiri. Wajahnya begitu manis dengan lesung pipi dan tahi lalat di sudut mata kiri.  Perempuan itu berpegang erat pada holder yang tergantung di sepanjang lorong bis. Anas sungguh penasaran siapa namanya tapi dia tak bisa berkenalan meski pada akhirnya mereka menaiki angkot yang sama. Anas turun lebih dulu dan perempuan itu terus saja melanjutkan perjalanannya. 


Satu minggu berlalu, senin itu Anas kembali memutuskan untuk naik bis subuh dan meninggalkan motornya di rumah. Niatnya adalah agar dia bisa kembali bertemu perempuan itu sedangkan motornya, dia bisa kembali pulang di hari berikutnya dan menjemput motornya di rumah. Doanya diijabah. Perempuan itu kembali dilihatnya di bis meski dia duduk jauh dari tempat Anas berdiri. Di angkot pun sama, perempuan itu duduk di depan bersama sopir. Lagi-lagi Anas tak bisa mengikutinya sampai di tempat tujuan karena hari itu dia punya jadwal presentasi di kelas pagi, bolos bukanlah pilihan tepat. 


Senin subuh berikutnya, Anas menaiki bis yang sama. Tapi dia tak bertemu gadis itu. Begitu pula senin-senin berikutnya hingga dua bulan berlalu, gadis itu tak pernah dia jumpai lagi. Anas hanya berpikir mungkin gadis itu menaiki motor ke kampus. 


Satu minggu setelah pertemuan kedua Anas dengan gadis manis itu, langit dipenuhi awan berarak di sebuah siang. Matahari belum begitu tinggi. Burung-burung begitu lincah melompati pepohonan dan sekali waktu berkicauan serasa begitu bahagia. Tak seperti beberapa orang yang sedang berkumpul di bawah pohon, mengantar gadis belia ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan penuh kesedihan. Gadis berkerudung biru itu meninggal dunia dalam kecelakaan motor bersama temannya.


Republik Kopi, 23 November 2021


#TantanganMenulis30Hari

#HariKeenambelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga