Spiderman

Suara ustaz Amar dan derap kakinya yang tergesa-gesa semakin mendekati kamarku. Dadaku berdegup kencang. Semakin lama, suaranya semakin jelas terdengar memanggil namaku dengan nada marah. Aku memutar otak bagaimana caranya kabur. Hanya ada satu pintu di kamar berukuran enam kali delapan ini dan jika aku melewati pintu lalu berlari kencang, pastilah ustaz Amar dan para santri akan mengejar dan menangkapku. Aku harus menemukan cara lain. 


Ya, bersembunyi di dalam lemari. Aku tinggal duduk dan menekuk kakiku dan menutup pintu lemari dari dalam. Tapi ah, ternyata lemari kecil yang penuh sesak pakaian ini tak mampu menjadi tempat perlindungan bagiku yang bertinggi seratus tujuh puluh sentimeter. 


Aku keluar lemari, melompat ke atasnya dan hap! Aku sudah berada di atas plafon. Tubuh tinggiku ini jelas menyulitkanku untuk bergerak menjauh dari lubang plafon tempatku naik tadi. Kepalaku tetap menyundul genteng meski sekuat tenaga aku menekuk tubuhku. Perlahan tangan kananku meraih penutup plafon, menutupnya dengan rapat. Sedangkan tangan kiriku berpegangan pada kayu atap rumah agar aku tetap seimbang berjongkok di kayu plafon yang hanya lebar sepuluh sentimeter.


"Ris... Haris! Dimana kamu?" Terdengar suara ustaz Amar berteriak di dalam kamarku. 


"Haris gak ada, Ustaz. Mungkin dia masih di mushola." Suara Kamil juga terdengar memasuki kamarku. 


"Loh ya gak mungkin. Dia gak ikut shalat zuhur berjamaah kok, makanya saya cari kesini. Sembunyi dimana dia?"


Aku semakin gugup. Lututku gemetar bukan hanya takut tapi juga karena kesemutan terlalu lama dalam posisi tidak nyaman di atas plafon. Aku menggeser kakiku beberapa senti, berharap kesemutan berkurang. 


"Braaaakkk!"


Kayu plafon tempatku berpijak patah, mungkin rapuh dimakan usia. Aku jatuh ke lantai tepat di hadapan ustaz Amar dan Kamil yang kaget serasa mereka melihat Spiderman yang kehilangan kekuatan jaring laba-labanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga