Tentang Aku

Perkenalkan, namaku Bima. Usiaku belum genap dua tahun. Tak seperti Bima di tokoh pewayangan, aku lemah, kurus dan sering sakit. Tubuhku banyak sekali lebam akibat sentuhan ibu yang katanya sebagai ungkapan sayang padaku. Nyatanya, aku tetap tak mengerti mengapa sentuhan itu terasa menyakitkan. Sakitnya bisa berhari-hari. 


Siang ini aku terbangun dari tidur siangku. Aku mendengar ibu berteriak keras kepada ayah. Mereka bertengkar lagi. Ini terjadi hampir setiap hari. Ibu lalu menangis dan aku yang ketakutan juga ikut menangis. Ibu menenangkanku tapi dia tetap tak bisa menghentikan air matanya. 


Setengah jam berlalu, ibu menggendongku sambil menyuapiku nasi dan garam. Aku bosan. Rasanya tak enak. Aku tak mau makan. Aku menutup rapat bibirku dan menundukkan wajahku agar ibu tak memaksaku memakannya. Tapi ibu tak menyerah. Ibu kembali menyentuh paha dan betisku hingga ada luka dan lebam baru. Dia menekan kedua pipiku hingga mulutku terpaksa terbuka dan nasi asin itu masuk ke mulutku. Aku tak mau mengunyah tapi ibu semakin marah. Matanya nanar melihatku sambil berteriak yang membuat sakit telingaku. Aku takut. Aku menangis. 


Aku pikir tangisku akan membuat ibu mencium dan memelukku. Tapi aku salah. Ibu malah bergegas ke dapur dan mengambil kayu bakar di tungku yang sedang menyala. Dia menempelkan kayu itu ke betisku. Apakah kamu tahu bagaimana rasanya? Panas, panas sekali. Teriakan dan tangisanku rasanya tak mampu meredakan rasa panas itu. Kulitku mengelupas tapi ibu semakin keras berteriak dan menangis kencang. 


Tak lama, Bu Parto tetangga ibu masuk ke dalam dapur. Dia merampasku dari tangan ibu. Dia menggendongku dan membawaku dengan motor bersama suaminya. 


Aku tertidur karena kelelahan. Saat aku bangun, aku telah berada di sebuah kamar berdinding putih, tak seperti kamarku yang dindingnya penuh lubang besar karena terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk. Aku melihat sekitar, tak ada ibu. Dimana ibu? Aku hanya melihat Bu Parto dan Pak Parto yang menangis di sampingku sambil membelai tangan kananku yang terpasang selang infus. Ibu, dimana engkau? Aku sakit tapi aku tetap merindukan ibu. Apa ibu tidak merindukanku? 


Bondowoso, 21 November 2021


#TantanganMenulis30Hari

#HariKeempatbelas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga