Afgan KW

Sepulang dari mengaji sore di surau, Vigo disambut oleh ibunya di depan pintu. Setelah memastikan anak sulungnya yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar itu masuk kamar, sang ibu lalu pergi ke belakang untuk memandikan anak bungsunya yang masih berusia delapan bulan. Tak lama setelahnya, Vigo berjalan pelan ke luar rumah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti James Bond yang sedang beraksi agar tak ketahuan musuh. Tak lupa ia membawa uang sepuluh ribu yang sebelumnya ia dapatkan dari mencungkil celengan ayam di kamarnya.


Sesampainya di teras, Vigo langsung berlari kencang ke luar gang rumahnya. Di pintu masuk gang, seseorang yang menjadi idola barunya telah standby. Ya, Hamim sang penjual siomay yang baru satu minggu berjualan ini tengah viral di kalangan warga. Tentu saja karena rasa siomay yang benar-benar menggugah selera dan wajah sang penjual yang mirip Afgan. Tak sedikit gadis SMA bahkan ibu-ibu di perkampungan itu yang menjadi fans setianya. 


Vigo riang bukan kepalang. Ia langsung menyeruak diantara para pembeli siomay, dia tak mau mengantri. Sontak saja hal ini menuai banyak protes dari para pembeli siomay yang lain. 


Saat kegaduhan mulai terjadi, tiba-tiba saja sosok yang tak diinginkan hadir. 


"Hmmm... Vigo! Sudah dibilang jangan beli makanan melulu, entar seragammu gak muat lagi. Masa tiap tahun ganti seragam? Kegendutan sih!" Kata ibu Vigo yang langsung saja mengomel mengetahui anak sulungnya  berburu makanan dari sang ayah yang kebetulan melihat. 


"Loh, Dek Faroh? Ini anakmu tah?" Suara Afgan KW membuat ibu Vigo terperanjat. Ada desir halus di dalam hatinya ketika mantan kekasih yang telah lama tak dijumpainya itu hadir di depan mata. 


Bondowoso, 8 Desember 2021


#TantanganMenulis30hari

#HariKetigapuluh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga