Banjir Lokal
Raihan berangkat ke sekolah dengan bersungut-sungut. Bocah kelas tiga sekolah dasar itu masih mengantuk tapi sang bunda memaksanya berangkat pagi agar tak terlambat seperti kemarin.
Sesampainya di sekolah, Raihan masih saja merengut, apalagi Bagas, teman se-bangkunya belum datang. Ia hanya meletakkan tas sekolah di mejanya lalu berjalan ke halaman. Di sana, matanya melihat sesuatu yang menarik.
Kantong-kantong plastik bergelantungan di sebuah sepeda motor yang terdapat etalase kayu kecil di atasnya. Di dalam setiap kantong transparan itu terdapat seekor atau beberapa ekor ikan. Ada ikan mas koki, cupang dan nila. Raihan mendekat. Wajah masamnya memudar berganti senyum merekah.
Raihan merogoh kantong celananya. Uang saku sepuluh ribu dari sang bunda masih utuh. Bundanya hanya berpesan tak boleh dibelikan mainan. Ikan bukanlah mainan jadi Raihan membelinya. Seekor ikan cupang seharga uang sakunya berhasil ia dapatkan.
Khawatir wali kelas marah karena Raihan membeli ikan di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, maka menyembunyikan si cupang adalah kewajiban. Tapi dimanakah tempat yang paling aman?
Pelajaran tematik telah berlangsung selama empat puluh menit. Raihan merasa lelah setelah sibuk belajar berhitung. Dia bersandar pada kursi tempatnya duduk yang juga ada tas sekolahnya di sana.
"Tudddzzzz!" Suara letusan berasal dari dalam tasnya.
Semua orang di dalam kelas menoleh. Air mengalir dari dalam tas Raihan. Tas dibuka, si cupang telah mati terhimpit beberapa buku di dalamnya.
Raihan bersedih. Dia menundukkan wajahnya bukan hanya karena kehilangan teman barunya tapi juga karena matahari yang menyengat seiring dia menjemur tas sekolah dan semua buku di dalamnya. Wali kelasnya tentu tak tinggal diam. Bu Tutik itu tentu saja mengomel sambil membantu Raihan menjemur semua peralatan sekolahnya dan mengepel lantai yang mengalami banjir lokal.
Bondowoso, 2 Desember 2021
#TantanganMenulis30hari
#HariKeduapuluhlima
_Diambil dari kisah nyata pagi tadi_
Komentar
Posting Komentar