Guru Honorer

Tanggal tua di akhir tahun seperti saat ini, sebagian besar orang telah memiliki rencana untuk berlibur ke luar kota, tapi tidak bagi Rasyid. Jangankan untuk bertamasya bersama keluarga, beras untuk makan besok saja dia tak punya. Sang istri sudah beberapa kali mengingatkan bahwa tak ada stok beras yang tersisa. Rasyid meminta istrinya untuk bersabar, mungkin saja hari ini ada keajaiban rezeki untuk membeli beras. 


Sebagai seorang guru honorer dengan gaji yang tak sampai tiga ratus ribu sebulan, Rasyid berjualan bensin eceran di depan rumahnya untuk menambah penghasilan. Namun tiga hari ini berbotol-botol bensin itu belum laku terjual. 


Di tengah kegalauannya menunggu uang datang, tiba-tiba seorang teman menelepon memberi kabar bahwa tunjangan guru honorer sudah masuk rekening dan bisa segera dicairkan. Mendengar kabar yang sangat membahagiakan, Rasyid bergegas menyalakan motor Astreanya lalu menuju bank. Nomor rekening itu tidak dilengkapi kartu ATM sehingga mengecek saldo yang tersisa hanya bisa melalui teller. 


Dengan penuh percaya diri, Rasyid menyerahkan buku rekening dan KTPnya. 


"Saya ambil semua ya, Mbak saldonya, satu juta." Kata Rasyid kepada teller bank yang tampak cantik dengan setelan biru yang dikenakannya. 


"Mohon maaf, Pak, saldonya masih nol." Kata sang teller sambil mengecek saldo di layar komputer. 


Rasyid tersenyum malu lalu segera meninggalkan bank itu. Di halaman bank, ia menelepon temannya yang memberi kabar tadi. 


"Waduh, sepurane Pak, barusan dapat kabar lagi dari Pendma kalau itu salah paham. Ternyata yang cair itu untuk gelombang kedua, kita dulu kan gelombang pertama. Jadi tunjangan September sampai Desember ini masih menunggu kabar berikutnya dari kanwil, tapi entah ada atau tidak nantinya." Sang kawan menjawab penuh penyesalan karena telah membuat temannya datang ke bank.


Rasyid tertawa geli. Ternyata sebegitu berharapnya ia akan kedatangan uang hingga tubuhnya yang tadi sedikit lemas tiba-tiba saja menjadi penuh semangat. Ia pun bersyukur sempat merasa bahagia mendengar kabar tentang uang itu meski pada akhirnya semua masih tertunda. Tentang beras untuk makan besok, dia tak lagi menganggapnya sebagai masalah. Masih ada ketela pohon yang bisa ia cabut di belakang rumah. Tinggal direbus saja lalu dibaluri garam, rasanya sudah enak luar biasa. 


Bondowoso, 24 Desember 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga