Mama Cumlaude
Seperti biasa sebelum jam setengah enam pagi, pak Har sudah mangkal di depan rumah bu RT. Para ibu kompleks berkumpul untuk membeli sayur, daging dan bahan makanan lain untuk dimasak. Tak jarang juga pak Har membawa masakan yang tinggal dihangat saja di rumah agar sarapan pagi bisa ringkas tanpa sibuk memasak.
"Loh tumben, Bu Warso beli sayur lodeh hari ini?" Kata bu Yayak yang tangannya kalah cepat untuk meraih sayur lodeh yang hanya tersisa satu bungkus.
"Iya nih, lagi males buat kuah. Jadi tinggal goreng ikan nila saja." Kata bu Warso sambil memilih ikan nila segar.
"Iyalah ibu-ibu, sekali waktu gapapa dong kita beli masakan yang udah jadi, sedikit males gapapa asal gak tiap hari kayak bu Tofan itu." Kata bu Lia ikut nimbrung sambil berpura-pura memilih kemangi. "Ih, kok kemanginya banyak yang kurus sih, Pak, gak kayak badan saya."
"Eh bener banget kata bu Lia. Bu Tofan itu ya hampir tiap hari beli masakan jadi. Ya sayur lodeh, ya kuah gudeg, bumbu pecel, bumbu bali. Lha jadi perempuan kok males banget masak, apa ya memang gak bisa masak?" Bu Yayak menimpali.
"Masa sih gak bisa masak? Gak mungkin lah, wong dia itu pinter banget loh orangnya. Pas kuliah dulu aja dia dapat nilai kulot di UGM." Bu Lia semakin memperpanjang cerita.
"Kulot? Cumlaude kali, Bu. Lah iya, terus apa gunanya nilai tinggi sak langit tapi gak kerjo, kan eman. Ilmu gak dipake yo ilang. Setuju ora, Pak Har?" Kata bu Warso yang hanya dibalas senyum tipis oleh pak Har.
"Eh, Bu, kalau bu Tofan itu beneran orang berpendidikan kok anaknya yang sulung gak sekolah ya? Cuma las les las les piano melulu." Bu Toni ikut memanaskan suasana.
"Ho'oh loh. Anaknya yang nomor dua padahal sekolah. Apa ya nanti gak jadi ejekan adiknya, masnya gak sekolah. Aneh banget deh keluarga itu." Pernyataan bu Warso disambut anggukan para ibu yang lain.
"Hmmm... Opo ae seh yo, para bidadari dapur iki. Mrene bu Tofan, sampean sampek gak sidho belonjo ket mau." Kata bu RT yang membuat para ibu bergeser dan saling cubit-cubitan karena khawatir pembicaraannya tadi didengar bu Tofan.
Bu Tofan hanya tersenyum dengan terpaksa. Tak hanya sekali ini para tetangga membicarakan dirinya dan dia mendengarnya sendiri. Sakit hati dan kesal menjadi bahan gunjingan ibu-ibu perumahan hampir setiap saat mengganggu hari-harinya. Dia tak bisa membalas karena tak ingin bertengkar dengan tetangga. Bu Tofan biasanya menumpahkan kekesalannya dengan mencuci tumpukan pakaian kotor menggunakan tangan meskipun mesin cuci LG terbaru selalu siap sedia melayaninya.
Sesampai di rumah, bu Tofan masih merasa kesal. Pembicaraan para ibu itu serasa melekat di pikirannya. Ia pun bergumam seorang diri seolah sedang berbicara langsung dengan para ibu itu.
"Lah iya, aku selalu rangking satu dari SD sampek SMA. Aku dapat nilai cumlaude pas kuliah, terus aku gak kerja, emang kenapa? Salahku apa? Apa aku harus kerja dari pagi pulang malam baru bisa dibilang normal? Apa semua anakku harus sekolah sesuai kebiasaan masyarakat? Terus kenapa kalau mas Agung cuma les piano dan gak sekolah? Itu kan maunya dia untuk jadi pianis profesional dan jadi mata pencahariannya di masa depan." Bu Tofan menangis terisak di dapur. Air matanya menetes membasahi tempe dan sayuran yang baru saja dia beli.
Tofan, sang suami yang diam-diam berada di belakangnya hanya mampu terdiam tanpa berkomentar. Dia memang meminta sang istri untuk tidak bekerja dan fokus merawat anak-anak di rumah. Sedangkan urusan memasak, Tofan sering menyarankan istrinya untuk membeli masakan agar istrinya tak lelah karena sudah mengurus keluarga seharian. Sang istri tak keberatan, dia dengan senang hati menuruti permintaan Tofan.
Tofan memberanikan diri melangkah maju, dia memeluk istrinya dari belakang. Sang istri kaget. Dia membalikkan badannya dan menangis di pelukan suaminya.
"Maafin aku ya, Mama. Hari-harimu jadi berat sejak menjadi istriku. Tapi dengan begini aku jadi sadar, apa mungkin Mama mau kerja? Biar anak-anak kita carikan pengasuh yang bisa dipercaya." Kata Tofan yang juga bersedih mendengar istrinya menangis.
"Loh ndak, Pa. Mama yang minta maaf lagi sensi gini. Mama bahagia, bersyukur nikah sama papa yang baik banget sama mama dan anak-anak kita." Kata bu Tofan yang melepas pelukannya dan memandang sang suami.
"Tapi ya, Ma... Kalau dipikir-pikir para ibu itu bergosip kok detail banget. Sedangkan papa curiga, jangan-jangan mereka aja gak tau nama mama siapa, taunya bu Tofan aja." Tofan mulai menggoda istrinya.
"Ahahaha.iya loh, Pa. Mereka gak tau kalau nama mama itu Mitha tapi mereka berani sok tau tentang kehidupan kita." Emosi bu Tofan pun mereda. Dia tertawa bahagia bersama suaminya.
Bondowoso, 22 Desember 2021
Selamat hari ibu untuk seluruh perempuan Indonesia. Kita hebat apapun profesi kita. Kita adalah sekolah pertama anak-anak kita. Tetap semangat menebar kebaikan untuk semesta.
Komentar
Posting Komentar