Memilih Bahagia (Bagian I)
Pagi itu matahari belum begitu tinggi, masih jam sepuluh pagi. Erma turun dari kereta api Logawa dengan hanya menggendong sebuah tas ransel berisi dompet, mukenah dan satu kaos oblong. Berjalan tanpa semangat, dia menuju pintu keluar stasiun Gubeng lalu duduk di deretan kursi menghadap loket tiket.
Stasiun Gubeng begitu riuh, seramai pikiran yang membelenggu Erma. Dia tak tahu harus kemana, mau membeli tiket tujuan kota lain lagi kah atau cukup diam saja di Surabaya dan mencari hotel untuk bermalam nanti. Dia hanya ingin pergi, menepi dan menenangkan diri. Kedatangan orang tuanya kemarin ke Jember untuk memintanya menerima lamaran mas Hendra, tetangga yang sudah dia anggap seperti saudara bagai meluluh lantakkan harapannya untuk hidup bahagia bersama Uki, kekasihnya. Bapak ibu Erma hanya ingin dia bahagia bersama mas Hendra yang sudah mapan secara finansial sebagai seorang pegawai bank swasta.
Suara azan zuhur mengagetkan Erma yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia lalu menuju masjid yang terletak sekitar dua ratus meter dari stasiun. Setelah shalat, ia lalu punya semangat hanya sekadar untuk menyalakan handphonenya.
Notifikasi banyak bermunculan. Ada empat puluh tiga panggilan tak terjawab dari Uki termasuk lima belas pesan whatsapp darinya, belum lagi dari teman-teman kos Erma dan teman kampusnya. Mereka khawatir karena Erma tak berpamitan dan nomornya tak bisa dihubungi. Tak lama kemudian, Uki kembali menelepon.
"Kamu dimana?" Suara Uki terdengar tenang tapi jauh di dalam hatinya ada kekhawatiran yang sangat besar.
"Aku di stasiun Gubeng Surabaya," Jawab Erma.
"Tunggu di sana ya, aku jemput naik motor. Magrib mungkin aku sampai. Jangan lupa makan." Uki menunjukkan perhatiannya tanpa bertanya tentang apa yang terjadi. Yang terpenting baginya saat itu adalah segera bertemu Erma.
Tepat sebelum azan magrib berkumandang, Uki sampai di stasiun Gubeng dan bertemu Erma. Mereka lalu shalat magrib dan makan di warung makan yang berada di sekitar masjid.
"Ma, ayo makan dulu setelah itu kamu bisa cerita masalahmu. Siapa tahu aku bisa bantu," Suara Uki memecah lamunan Erma.
"Aku dijodohkan dengan mas Hendra. Tiga minggu lagi acara tukar cincin," Erma tak lagi bisa membendung emosinya. Dia menangis sejadi-jadinya.
Bersambung
#TantanganMenulis30hari
#HariKeduapuluhenam
Komentar
Posting Komentar