Memilih Bahagia (Bagian 2)
Mata Erma masih bengkak. Isak tangisnya belum juga reda meski sepuluh menit telah berlalu. Soto babat dan soto ayam yang tersaji di meja tak juga disentuh. Aromanya yang tajam dan tampilan kuah pekat serta koya yang berlimpah serasa tak mampu membangkitkan selera dua insan itu.
Cerita Erma membuat Uki terkesiap, tak ada komentar yang mampu dia ucapkan, tak ada bayangan kalimat atau bahkan kata yang tepat untuk menenangkan hati Erma sekaligus hatinya sendiri. Lama, hingga adzan isya hampir berkumandang, teh botol dingin di genggaman mereka akhirnya diteguk namun dinginnya tak mampu menjernihkan pikiran kacau yang sedang mendera keduanya. "Ayo kita makan lalu lanjut pulang. Perjalanan kita cukup jauh." Hanya kalimat singkat dan sangat sederhana ini yang mampu diucapkan Uki.
Dalam perjalanan pulang, tak ada canda tawa diantara kedua insan itu. Mereka sibuk dengan pikiran dan rencana masing-masing. Uki merasa masih ada kesempatan untuk meyakinkan keluarga Erma. Beberapa bulan sebelumnya ia pernah bertemu orang tua tambatan hatinya itu dan Erma memperkenalkannya sebagai kekasih. Tak ada isyarat buruk, senyum sinis, maupun kata yang menusuk dari orang tua Erma. Itulah yang membuat Uki percaya bahwa selama ini mereka menerima Uki seutuhnya. Sikap seseorang kadang memang tak terlihat di depan mata.
Dua pekan telah berlalu. Persiapan acara tukar cincin hampir rampung. Tak ada tanda-tanda diundur maupun dibatalkan meski entah berapa kali Erma meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia tak bisa meninggalkan Uki. Penolakan orang tua Erma logis, mas Hendra punya kehidupan yang mapan. Selain profesinya sebagai karyawan sebuah bank swasta, statusnya sebagai anak tunggal dari seorang petani tebu kaya dengan tanah berhektar-hektar tak akan membuat Erma dan anak-anaknya kelak hidup menderita. Sedangkan Uki, dia hanyalah seorang mahasiswa semester lima yang belum jelas masa depannya. Hal ini pulalah yang membuat Uki kehilangan muka untuk menemui orang tua Erma meski dia tak ingin perjodohan Erma terjadi.
Sore itu selepas gerimis, mas Hendra menemui Erma di rumahnya. Padu padan kaos maroon berkrah dan celana jeans, ditunjang tubuh tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter dengan wajah tampan dan kumis tipis itu mampu membuat banyak perempuan tersihir dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi itu tidak berlaku bagi Erma. Meski Uki tak setampan mas Hendra tapi Erma selalu merasa nyaman berada di sisinya.
"Dek Erma, saya minta maaf ya sampai satu minggu menjelang acara pertunangan kita, dek Erma masih belum bisa tersenyum bahagia. Saya tahu kalau ada orang lain di hati dek Erma." Mas Hendra memulai pembicaraan serius dengan sang calon tunangan.
"Kan mas sudah tahu, tapi kenapa masih mau melanjutkan acara ini?" Jawab Erma sambil menatap tajam pada mas Hendra.
"Ya karena saya suka sama dek Erma. Gak papalah hari ini dek Erma masih belum suka sama saya tapi saya yakin seiring berjalannya waktu setelah dek Erma mengenal saya, rasa suka itu akan muncul."
"Duh, mas kok naif! Kan rasa suka gak bisa dipaksa, gak perlu juga dicoba-coba. Hayuklah kita batalkan saja acaranya. Saya yakin banyak perempuan yang ngantri di luar sana untuk dipinang sama mas," Erma mulai ketus.
Mas Hendra hanya tersenyum. Dia lalu pamit pulang, meninggalkan Erma yang semakin kesal dengan sikap tetangganya itu.
Bersambung.
Bondowoso, 17 Desember 2021
Komentar
Posting Komentar