Pangeran Kodok

"Claraaaaa.... Aku cinta kamu!" Teriak Radit di depan kelas. Suaranya mampu membuat seisi kelas bertepuk tangan sekaligus tertawa terbahak-bahak, ingus kental kuning kehijauan mengalir dari kedua lubang hidungnya. Ia pun langsung mengusapnya dengan lengan kanannya. Merasa risih, ia pun kembali membalurkan tangan basahnya itu ke seragam putih merah yang ia kenakan. 


"Hiii... Jijiiiik!" Teriak Clara sambil berlari ke luar kelas.


Godaan Radit pada Clara, adik kelasnya tak berlangsung lama. Ia pindah sekolah ke luar kota mengikuti ayahnya yang merupakan kepala bidang pemasaran produk roti nusantara. 


Kejadian sembilan tahun yang lalu itu masih melekat di ingatan Clara. Ia masih tertawa geli mengingat anak laki-laki tambun berlepotan ingus yang begitu setia mengunjunginya setiap jam istirahat ke kelas dan tak pernah bosan mengatakan cinta meski berulang kali Clara berteriak jijik padanya. Gadis manis keturunan Sunda - Madura itu sungguh penasaran seperti apa Radit saat ini yang ternyata menjadi seniornya di fakultas kedokteran. 


"Hai Clara, apa kabar? Masih ingat aku?" Sapa seorang laki-laki berkulit hitam manis memakai jas biru tua khas Universitas Jember. Dagu yang terbelah dua, bulu mata lentik dengan alis tebal dan rambut lurus itu tak lagi nampak menjijikkan. Ingus kental itu telah hilang, berganti kumis tipis yang membuatnya tampak manis dan berkarisma. Tubuh gendut seperti Boboho itu juga sudah berubah menjadi atletis bak model majalah Elle. Untuk pertama kalinya, Clara jatuh cinta pada pandangan pertama kepada orang yang berulang kali ia katakan jijik di masa kecilnya. Tag nama di dada kanannya, Fahreza Raditya Anggara. Bagai pangeran kodok yang muncul di dunia nyata. 


Republik Kopi, 5 Desember 2021


#TantanganMenulis30hari

#HariKeduapuluhdelapan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga