Pria Tamagotchi

Pagi itu, lima belas Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, embun pagi yang begitu tebal membuat semua orang menggigil kedinginan. Ayu kecil yang sedang flu semakin sering bersin namun ia memaksa datang ke sekolah meski badannya juga sedikit demam.


Dengan memakai sweater Joger berwarna merah bata yang menutup seragam putih merah, gadis yang duduk di bangku kelas satu itu turun dari sepeda motor ayahnya. Bergegas ia masuk ke kelas dan mencari seseorang yang membuat tidurnya tak nyenyak semalam. Namun hingga bel masuk sekolah berbunyi, sosok itu belum datang juga. 


Bu Ratri, sang wali kelas memasuki ruang kelas. Sebelum memulai pelajaran, ia memberi pengumuman bahwa Dio, salah satu murid di kelas itu pindah sekolah ke Singapura. Semua anak di dalam kelas riuh bertanya, dimana itu Singapura. Sebagian dari mereka menjawab bahwa itu adalah tempat yang sangat jauh, tak bisa ditempuh hanya dengan angkot yang biasa lewat di depan sekolah. Diantara keriuhan para murid yang bertanya, hanya Ayu yang menangis tersedu-sedu. Bu Ratri mendatangi Ayu, memeluknya dan memintanya untuk tak bersedih dengan kepergian Dio yang tiba-tiba. Ayu tak menjawab, dia hanya bisa menangis keras, sesenggukannya pun tak bisa dihentikan. 


Ayu pergi ke sekolah meski sedang tidak sehat hanya karena Dio. Dio meminjam mainan tamagotchi milik Ayu dan berjanji untuk mengembalikannya di hari itu. Ayu mempercayai Dio yang merupakan sahabat dekatnya. Dia yakin Dio bisa menjaga tamagotchi miliknya dengan baik meski pada akhirnya Ayu tak bisa nyenyak tidur karena memikirkannya. Dengan kepindahan Dio, Ayu tahu tak mungkin lagi dapat merawat hewan di dalam tamagotchi itu. Sedih, kecewa dan marah bercampur menjadi satu di dalam hati Ayu. Dia tak menyangka Dio, bocah keturunan Tionghoa itu pindah tanpa berpamitan padanya. 


Tahun-tahun berlalu, seiring waktu akhirnya Ayu tahu kasus di tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan itu. Dio dan keluarganya pindah ke Singapura karena kerusuhan dan penjarahan terhadap etnis Tionghoa. Toko elektronik keluarga Dio tak luput dari penjarahan. Mereka sekeluarga pindah dan rumah keluarga itu kosong bertahun-tahun lamanya.


Jingga hampir menghilang dari cakrawala, pertanda magrib akan datang menjelang. Dokter gigi Ayu Prastika masih saja sibuk menangani pasien. Sore ini ada lebih dari dua puluh antrian pasien yang setia menunggunya. Pelayanannya yang ramah dan sabar dalam bekerja membuat banyak orang tertarik datang ke tempat prakteknya. 


Kali ini nomor antrian delapan. Seorang laki-laki muda, tinggi dan tampan mirip artis Korea memasuki ruangannya. Senyum dari bibir tipis itu seolah tak asing di mata Ayu. Dia pun segera menepis pikirannya lalu membalas dengan senyuman ramah. 


Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu duduk lalu menaruh benda kecil berwarna merah muda di atas meja konsultasi. 


"Hai, Dokter Ayu, apa kabar? Mohon maaf aku terlambat mengembalikan tamagotchimu." Kalimat yang diucapkan laki-laki itu membuat Ayu mengernyitkan dahi. Sepertinya dia tak salah mengenali. Dio sahabat masa kecil yang telah lama menghilang tanpa kabar. 


"Dio?" Ayu setengah berteriak. 


"Psssttt... Jangan rame, entar dipikir aku membuat keributan, ahaha." Pria itu tertawa lepas, bahagia. Sahabat lamanya masih mengenalinya. 


Dia semakin senang melihat Ayu menjadi dokter sukses dan cantik. Dan yang paling penting, dia masih menjomblo, sama seperti dirinya. 


Bondowoso, 21 Desember 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga