Rindu

Gerimis masih saja menetes setelah hujan deras mengguyur sejak siang tadi. Daun-daun mangga mulai rontok, berserakan di halaman yang ditutupi batu kerikil untuk mengurangi genangan air saat hujan deras datang. Paralon di samping rumah masih saja mengeluarkan air sisa hujan dari atap, konsistensinya menyuburkan lumut yang tumbuh di sekitarnya. Suasana dingin menyeruak masuk ke dalam ruang tamu berukuran empat kali lima meter melalui jendela krepyak kaca yang telah pecah beberapa bagian. Gorden bunga berwarna hijau yang tampak lusuh dengan beberapa tambalan berwarna senada menutupi sebagian jendela. 


Di dalam ruang tamu, tampak seorang perempuan duduk bersila seorang diri di atas sebuah kursi rotan yang tak lagi rapi anyamannya. Sehelai kain sarung usang menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Matanya yang sayu menatap sendu ke luar jendela, ada gurat kesedihan yang jelas terlihat di wajahnya yang masih belia. Terkadang senyum tipis terbentuk di bibirnya saat melihat beberapa orang di gang berkendara dengan anak-anak mereka. Jauh di dalam hatinya, ada keinginan untuk bertamasya bersama keluarga seperti sebagian besar orang di setiap tanggal satu Januari. Tapi apalah daya, dia dan sang ibu tak bisa melakukan itu. Sang ibu sibuk bekerja setiap hari mencari barang rongsokan dan baru pulang saat azan magrib berkumandang. 


Tiba-tiba saja, seorang laki-laki paruh baya berjalan memasuki halaman rumah. Sebuah tas ransel disandangkan di bahu kanannya sedangkan tangan kirinya memegang sebuah jaket berwarna hitam. Sosok itu sungguh tak asing, hanya jenggot panjang yang membuatnya tampak sedikit berbeda.


Gadis di ruang tamu terperanjat. Ia berdiri lalu segera berlari ke arah laki-laki itu. Ialah sang pemilik sarung usang, dia juga orang yang selalu dirindukan. 


"Ayaaaahhh....!" Sang gadis berlari memeluk laki-laki yang baru saja menginjakkan kakinya ke teras rumah, meleburkan rindu yang telah dua tahun dipendam. Sang ayah akhirnya pulang setelah mendapat remisi di tahun baru. Ia bertekad kuat untuk tak mengulang kesalahan di masa lalu. 


Republik Kopi, di penghujung tahun.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga