Setangkai Mawar Merah (pentigraf)

Setangkai mawar merah berdiri kokoh di dalam sebuah botol kaca. Dengan sedikit air di bagian dasar botolnya, mengisyaratkan sang pemilik tak ingin ia cepat layu dan mengering. Warna merah sang mawar begitu kontras dengan kamar tempat ia berada. Dinding bercat putih salju, kelambu dan sprei polos berwarna biru langit dan taplak meja berwarna putih membuat sang mawar tampil dominan diantara semuanya. 


Mawar itu datang dua hari yang lalu di siang gelap dengan petir dan hujan deras. Teddy tergopoh-gopoh turun dari sedan tuanya lalu masuk ke dalam rumah dan memberikan setangkai mawar merah itu kepada Mayang, istrinya. Beberapa hari sebelumnya Mayang merengek karena sang suami tak bisa romantis, tak pernah sekalipun dia menerima mawar bahkan sejak dulu mereka berpacaran. "Ini, Bun, mawar merah untukmu. Nah, apa aku sudah bisa dibilang suami romantis sekarang?" Dia tertawa keras lalu menuju meja makan untuk makan siang. Sang istri bahagia tak terkira. Setangkai mawar merah di tengah hujan deras dan petir, betapa indah seperti di film India. 


Tak sampai tiga puluh menit, Teddy pamit untuk kembali ke kantor, pekerjaan di akhir tahun cukup banyak menyita waktunya hingga ia harus lembur seperti sehari sebelumnya. Ia mengecup mesra kening sang istri dan segera pergi diantara hujan yang semakin deras dan suasana yang begitu pekat. Kecupan itu adalah salam perpisahan. Kecelakaan tunggal merenggut nyawa Teddy. Sang suami romantis meninggalkan mawar merah sebagai kenangan terakhir dan hati yang teriris menyesali rengekan setangkai mawar.


Bondowoso, 20 Desember 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga