Demi Minyak, Demikian
Tatik hampir terlelap ketika gawainya berbunyi bertubi-tubi. Merasa terganggu dengan suaranya yang berisik, Tatik pun membuka chat grup yang begitu riuh itu. Ternyata perbincangan didominasi oleh para emak, teman seangkatannya saat SMA. Mereka heboh membahas minyak goreng yang sedang terjun payung harganya. Selisih dua belas ribu dari harga normal membuat kantuk Tatik seketika menghilang.
"Mas Gilang, yuk ikut mama ke Indahapril." Tatik membangunkan anak sulungnya.
"Duuuh... Mama. Orang enak tidur dibangunin." Kata Gilang yang tak mau melepas guling apek kesayangannya.
"Eeh... Ini Mama mau minta tolong bantuin Mama belanja kok. Kamu juga bangun Dan. Dan... Danu!" Tatik gigih membangunkan kedua anaknya.
Danu duduk di tempat tidurnya tapi tak mau membuka mata.
"Lagian tadi katanya disuruh tidur siang, gak boleh kelayapan, main bola juga dilarang, nunggu sorean biar gak tambah gosong karena minggu depan acara nikahannya mbak Dini. Lah kebagian sudah ngorok aja dipaksa bangun." Si bungsu menggerutu.
"Pokoknya ikut Mama belanja! Kalau kalian berdua ikut, wifi malam minggu gak akan Mama matikan sampai jam dua belas malam." Tatik memberikan penawaran. Dan ternyata ampuh. Kedua anaknya yang sudah duduk di kelas sebelas SMA dan sembilan SMP langsung memiliki energi baru untuk naik ke atas motor dibonceng sang ibu tanpa sempat mencuci wajah.
Sesampainya di Indahapril, antrian mulai mengular. Mereka bertiga bergegas masuk dan langsung melaksanakan titah sang ibu, menenteng dua pouch minyak goreng refill ukuran dua liter. Tak mudah, butuh perjuangan ekstra untuk melesak diantara kerumunan.
Berhasil! Ibu dan kedua anaknya itu bisa meraih minyak goreng yang jumlahnya kian menipis diserbu banyak pembeli. Namun ternyata sang ibu belum puas. Dia masih ingin mendapatkan dua pouch minyak goreng lagi meski sang petugas minimarket sudah mengumumkan bahwa pembelian minyak hanya boleh dua kemasan per orang.
Mata elang sang ibu menyapu seluruh minimarket. Dan akhirnya orang yang ia harapkan terlihat. Sang suami selalu membeli rokok di minimarket tersebut setiap siang. Dengan kecepatan Bolt, sang ibu menggapai dua liter minyak goreng yang hanya tersisa satu pouch saja di etalase. Tak ayal ibu lain yang tangannya kalah cepat hanya mampu berkata, "Yah... Habis deh!"
Satu pouch yang sangat berharga itu ia serahkan kepada sang suami yang tak tahu tentang kehadirannya sedari tadi.
"Loh, Mama. Tumben belanja siang gini. Eh ini apa kok minyak dikasih ke papa?" Kata sang suami heran.
"Udah diem. Antri aja sana di kasir, bayarin sama rokok papa ya. Ini minyak sistem rebutan kayak lomba cerdas cermat."
Sang suami hanya mengangguk patuh meski tak paham dengan apa yang dimaksud istrinya. Sambil mengantri, Tatik terlihat sangat bahagia membayangkan keuntungan yang akan ia peroleh jika ia menjual kembali minyak-minyak itu. Maka ia pun mengajak anak-anak dan suaminya untuk mendatangi Indahapril di tempat yang berbeda. Ia punya firasat bisa mendapatkan minyak lagi dalam jumlah banyak.
Semesta mendukung, Tatik dan keluarga bisa membeli delapan pouch minyak lagi dari mini market itu. Mereka pulang dengan wajah kelelahan bukan hanya karena sibuk berebut minyak tapi juga karena beratnya membawa banyak minyak dengan mengendarai sepeda motor.
Sesampainya di rumah, Tatik mempromosikan minyak murahnya di grup WA warga kompleks. Tak lupa ia memberi embel-embel stok sangat terbatas. Tatik mengambil keuntungan dua ribu rupiah saja untuk setiap pouch.
Para ibu berdatangan membeli meski harganya lebih mahal dibanding yang ada di Indahapril karena stok minyak di minimarket itu sudah habis di setiap tempat. Tatik hanya membatasi pembelian satu kemasan per orang. Si bungsu sibuk membantu sang ibu melayani pembeli di rumahnya.
Rona bahagia terpancar dari wajah sang ibu yang berhasil menambah uang belanja untuk keluarga.
"Ma, Danu laper nih. Boleh minta telur dadar gak buat upah udah bantuin?" Rayu sang bungsu.
"Boleh donk. Tunggu ya." Tatik menjawab dengan penuh senyuman.
Sesampainya di dapur, ia mencari minyak goreng refill yang sengaja ia pisahkan untuk dipakai sendiri.
"Dan... Minyak goreng di dapur mana ya?"
"Oo tak jual juga tadi, Ma. Untung Danu lihat ada di dapur. Kalau nggak ya, gak ikut kejual deh tu minyak. Kan sayang." Sahut Danu santai.
"Apa?! Lha terus Mama mau masak pakai apa nanti? Ihhhhh.... Dasar anak terlalu pinter! Kok gak tanya dulu ke Mama! " Tatik terkejut dengan jawaban Danu lalu ia mengambil sapu dan mengejar Danu yang baru menyadari kesalahannya.
Di dekat minimarket fenomenal, 19 Januari 2022.
Komentar
Posting Komentar