Hadir Dalam Diam

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam saat tiba-tiba listrik padam tanpa ada pemberitahuan. Di luar, angin berhembus kencang disertai hujan yang masih tertahan. Ratna terbangun dari lelap tidurnya yang belum sampai satu jam. Hentakan keras jendela kayu kamar membuatnya tak lagi bisa menutup mata. Ia bergerak perlahan di tengah gelap, menyibak gorden putih yang melambai-lambai terkena angin lalu menutup jendela besar itu dengan rapat. Suara deritnya membuat suasana semakin mencekam.


Malam ini Ratna hanya seorang diri. Ayah dan ibunya telah pulang sore tadi setelah bermalam selama seminggu selepas kepergian sang suami menghadap Ilahi. Ratna memilih tetap di rumah itu, sendiri meski rumah orang tuanya hanya di kota sebelah. Alasan dekat dengan kantor tempatnya bekerjalah yang membuat ia enggan meninggalkan rumah kenangan bersama suaminya tercinta.


Ratna berjalan tertatih ke luar kamar. Kakinya yang masih cedera setelah kecelakaan bersama sang suami belum benar-benar pulih. Ratna tak ingat dimana ia menaruh gawainya tadi sebelum tidur. Yang ia ingat hanya lilin dan korek api yang selalu diletakkan di atas meja ruang tengah oleh sang suami. 


Klik! Korek api itu menyala lalu ia tularkan cahayanya ke lilin putih yang sudah tersisa separuh batang. Temaram sinarnya menyebar lemah di ruangan berukuran delapan kali enam. Saat sekelebat bayangan dan aroma Dior Sauvage favorit suaminya tercium tajam, Ratna tahu ia datang. 


Bondowoso, 26 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga