Memendam Rindu

Arkan berjongkok dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya gemetar sambil mencengkeram kedua pahanya. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Ia ketakutan. Tiga orang kakak kelas enam berdiri mengelilinginya. Mereka mulai memalak Arkan di lorong belakang sekolah.


Tiba-tiba saja, seorang perempuan dengan rambut panjang lurus seperti sapu lidi berdiri berkacak pinggang muncul di tengah-tengah mereka. Badannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan keempat orang anak laki-laki itu membuat ia terlihat memiliki kepercayaan diri lebih. Tera, sang ketua kelas lima yang cerdas, cantik dan terkenal pemberani. Deretan piala kejuaraan taekwondo yang diraihnya semakin membuatnya disegani di kalangan teman-teman sekolahnya. 


"Heh, kalian ngapain ganggu anak kelasku?!" Hardik Tera kepada tiga anak laki-laki itu. 


"Eh, ada Tera. Ndak kok, kami cuma tanya apa nanti sore Arkan mau main bola bareng. Iya kan, Kan?" Jawab salah satu anak kelas enam itu. "Ok deh, karena kamu sibuk, kapan-kapan aja ya mainnya." Lalu ketiga anak laki-laki itupun pergi. 


"Kan, jangan diem donk kalau diganggu. Lawan gitu!" Kata Tera pada Arkan. 


"Makasi ya, Ra." Arkan tetap tertunduk lalu segera berlalu. 


Sejak hari itu, rasa kagum dalam hati Arkan pada Tera terus saja bertumbuh. Baginya, Tera adalah gadis kuat dan pemberani. Label anak tunggal yang manja tidak berlaku bagi Tera. Tapi tak seperti anak laki-laki lain yang berani menulis surat cinta pada Tera, Arkan memilih diam, memendam sendiri cinta monyet yang sedang ia alami. 


Di hari perpisahan sekolah, Arkan memberi sebuah gelang manik-manik sebagai kenang-kenangan untuk Tera. Salah satu manik itu memiliki ukuran lebih besar dibanding manik-manik yang lain dan tampak berbeda, ia berwarna kuning emas. Sedangkan manik-manik lain terdiri dari tiga hingga empat biji yang berwarna sama, merah, hijau, biru dan ungu. Gelang beraneka warna itu terlihat manis dipakai di pergelangan tangan sebelah kiri Tera. 


Tera dan Arkan berpisah sekolah. Arkan pindah ke Jawa Timur, sebuah kota kecil bernama Bondowoso menjadi tempat tinggal barunya. Sang ayah dipindahtugaskan ke kota kecil yang terkenal dengan sebutan Republik Kopi itu, sedangkan Tera ikut orang tuanya yang bertransmigrasi ke Nunukan. 


Tahun-tahun berlalu, Tera yang telah tumbuh dewasa mengikuti tes CPNS dan lolos dengan penempatan di Bondowoso, kota Arkan. Teringat teman lama yang biasanya hanya mengobrol di grup WA saja, Tera menghubungi Arkan secara pribadi dan bercerita bahwa ia menjadi pegawai negeri sipil di Bondowoso. Janji temu pun disepakati.


Siang itu, di jam istirahat makan siang, Tera menuju salah satu cafe tempat ia akan bertemu Arkan. Dengan mengandalkan google map yang kadang memang tak selalu bisa diandalkan, Tera memacu motornya perlahan sambil mendengarkan arahan melalui earphone. Peta petunjuk online ini tak jarang salah jalan, mengarahkan untuk melewati gang tikus yang berakhir kesasar. Tera hanya menarik nafas dalam-dalam karena ia sadar betul, sebagai penghuni baru di kota itu yang tak mengerti arah, ia tak punya pilihan selain menuruti perkataan si mbak online. 


Sang penunjuk arah itu akhirnya berkata ia telah sampai di tujuan. Sebuah cafe bergaya vintage telah tampak di depan mata. Bunga-bunga plastik berwarna pastel di dalam pot-pot keramik tertata cantik di dinding cafe itu. Tempat parkir yang tak begitu luas namun terasa teduh dengan Lee Kwan Yew yang menjuntai membuat siapapun yang memarkir kendaraan tak akan khawatir sadel motornya panas meski terik siang mencapai tiga puluh dua derajat celcius. Tera segera memarkir kendaraannya setelah ia memastikan nama cafe yang terpampang sesuai yang ia cari. 


Tera mendorong pintu cafe model push pull itu. Matanya mulai menyisir para pengunjung cafe yang jumlahnya tak sedikit di jam makan siang. Sulit rasanya menemukan laki-laki kurus dengan tinggi yang mungkin tak sampai seratus enam puluh sentimeter. Tera masih saja celingukan mencari sosok Arkan yang tak mengatakan warna pakaian yang sedang ia kenakan. 


Delapan meter dari pintu, seorang laki-laki muda melambaikan tangan. Tera hanya menoleh ke belakang, mungkin ada orang lain di belakangnya yang sedang disapa laki-laki itu. Tapi ternyata tak ada siapapun. Tera beranggapan laki-laki itu iseng ingin menggodanya yang begitu cantik tapi tampak kebingungan. 


Tera meraih gawainya. Ia menghubungi Arkan tapi HP nya tak aktif. Ia pun memutuskan untuk duduk di kursi panjang kosong dekat pintu masuk berharap Arkan nanti tak kebingungan mencarinya saat datang. 


"Hei, Tera. Kok aku dicuekin?" Laki-laki muda yang tadi melambaikan tangan duduk di sebelah Tera. "Maaf ya, HP ku lowbat."


"Loh? Arkan tah?" Tera bingung karena tak mungkin Arkan lebih tinggi dari Tera yang berpostur seratus tujuh puluh sentimeter. Lalu dia sadar itu benar-benar Arkan setelah melihat lesung pipit yang membuatnya selalu manis sejak kecil. 


"Iya, ini aku Arkan. Ahaha. Apa kamu pikir aku masih imut dan gak lebih tinggi dari kamu?" Arkan mampu menebak isi kepala Tera.


Mereka pun bercerita begitu seru sambil makan siang. Hingga saat Tera pamit untuk kembali ke kantor, Arkan melihat gantungan kunci Tera yang merupakan gelang manik-manik pemberiannya dulu. Tera jadikan gantungan kunci karena sudah tak cukup muat di tangannya. Gelang itu Arkan beli menggunakan uang tabungannya dengan harga yang tak murah untuk ukuran anak SD dan terdapat bukaan di manik berwarna kuning emas untuk menyelipkan kertas. Tertulis kalimat "Aku suka kamu dari dulu" di dalamnya yang baru Tera temukan saat dia SMP. Sejak saat itu Tera sadar, cinta monyetnya pada Arkan tak bertepuk sebelah tangan.


Bondowoso, 8 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga