Perpisahanlah yang Aku Pilih (Pentigraf)

Mas Ozi datang dengan memakai batik tulis merah hati favoritku. Dia tampak gagah dan tampan. Ia tahu itu. Aku selalu memujinya setiap kali ia memakai batik itu. Mungkin inilah caranya merebut perhatianku dan berharap aku memaafkannya malam ini. 


Tapi tidak, ia salah besar! Penampilannya memang mampu membuat jantungku berdegup kencang seperti saat berpacaran dulu. Namun kali ini aku merasa lelah. Cukup sudah aku membayar hutang belasan hingga puluhan juta akibat judi online yang dia lakukan. Aku merasa sudah cukup berusaha menyelamatkan mahligai pernikahan kami yang belum genap satu windu. Gajiku sebagai pegawai negeri sipil setiap bulan banyak aku habiskan untuk membayar hutang judinya. Ia berjanji akan berhenti berjudi, janji yang selalu ia ucapkan setiap kali ada penagih hutang datang mengancam. Aku muak! Terlalu sering ia berbohong padaku hingga pertengkaran tak bisa dihindarkan. 


Malam ini aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini, di rumah orang tuaku bersama anak semata wayang kami. Aku tak akan pernah pulang. Cukuplah surat gugatan perceraian yang akan datang ke rumah kami sebagai pengganti kehadiranku. Lalu akan kubiarkan ia menangis tersedu meratapi kepergianku dan rumah yang tak lama lagi akan disita bank. 


Di bawah rembulan yang hampir sempurna, 13 Januari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Jingga