Pertemuan Kedua
Lima belas menit lagi apel pagi akan dimulai. Nita baru saja memijakkan kakinya di dalam sebuah bis kota tua yang dindingnya mulai berkarat. Terlihat jelas karena sudah tak ada lagi pelapis kulit sintetis yang membalutnya. Bisa dipastikan, kecepatannya tak bisa mengalahkan motor Komeng yang mampu memporak-porandakan rambut ber-pomade. Tapi Nita tak punya pilihan, motornya mogok pagi ini.
Setelah berdiri berdesakan selama beberapa menit, akhirnya beberapa orang penumpang turun di pasar dan tersedia kursi kosong. Bergegas Nita duduk dan memijat kakinya yang mulai lelah dengan hak sepatu tinggi. Ia lupa tak menggantinya dengan sepatu flat tadi sebelum berangkat. Sekilas, ia melirik sepatu penumpang yang duduk di sebelahnya.
Sepatu Converse Chuck Taylor All Star Split berwarna putih dan celana jeans biru gelap membuatnya tampak santai dan modis. Nita makin penasaran. Ia lanjut melihat pakaian yang laki-laki itu kenakan. Kaos Gap abu-abu muda serta tas Eiger hitam melengkapi penampilannya yang bertubuh atletis. Topi hitamnya tak bisa menyembunyikan matanya yang bulat dan berbulu mata lentik. Hidungnya yang mancung dan wajahnya yang manis membuat Nita tak sadar telah memandangi laki-laki yang sejak tadi menikmati pemandangan di luar itu selama beberapa saat.
"Mbak, turun dimana?" Suara kondektur yang menagih ongkos bis mengagetkan Nita.
"Eh... Anu, turun di dinas pertanian." Nita menjawab sambil membuka tasnya. Ia bingung, dompetnya tak ditemukan. Jantungnya semakin berdegup kencang setelah ia ingat dompet merah itu ada di tas biru yang kemarin ia pakai. Ia merogoh saku seragam kerjanya, hanya tersisa uang logam seribu rupiah.
"Ya Allah, maaf, Mas. Dompet saya ketinggalan di rumah. Gimana kalau gini saja, nanti sesampainya di depan kantor dinas pertanian, tolong tunggu sebentar ya, saya mau pinjam uang ke satpam." Nita tiba-tiba saja menemukan ide cemerlang.
"Ini saja, Mas, sekalian saya bayar punya saya juga, turun di Jalan Patimura." Kata lelaki yang duduk di sebelah Nita. Nita kaget sekaligus malu.
"Eh biar aja, Mas, gak usah, terima kasih." Kata Nita dengan wajahnya yang mulai memerah.
"Gapapa, Mbak. Uang saya lima puluh ribu, jadi sekalian saja." Kata lelaki itu santai.
"Terima kasih ya, Mas. Mas kerja dimana? Maaf maksud saya, biar saya bayar hutang ini segera." Nita masih merasa tak nyaman.
"Oh gak usah, Mbak, gapapa beneran." Lelaki itu tersenyum lalu turun dari bis karena sudah sampai di tempat tujuan.
Nita mulai memperhatikan daerah itu. Deretan kantor dan pertokoan di sisi kanan dan kiri membuatnya semakin penasaran dimana kira-kira lelaki itu bekerja.
Di kantor, Nita tak punya camilan di atas meja kerjanya. Padahal biasanya wafer, permen bahkan kerupuk dan keripik selalu setia menemaninya bekerja. Dompet tertinggal adalah alasan ia tak membeli makanan apapun hari ini.
"Nit, yuk makan siang di cafe Floris. Rame-rame sama bu Yanti dan bu Anis juga. Kamu kan belum pernah ke sana sejak cafe itu dibuka dua bulan yang lalu." Ajak Vina, teman sekantor Nita.
"Hmmm... Udah deh, kamu tak traktir. Masa gara-gara dompet ketinggalan kamu gak mau makan siang." Kata bu Anis yang merupakan senior Nita di kantor. Nita sangat bahagia mendengar perkataan dari sang pahlawan makan siangnya itu.
Cafe yang terletak sekitar satu kilometer dari kantor tempat Nita bekerja itu terlihat begitu ramai. Bukan hanya karena rasa makanannya yang enak tapi juga suasana cafe yang nyaman. Banyak bunga dan tanaman hidup di dalam cafe yang menyejukkan mata. Tatanan ruangan yang unik dengan jendela-jendela besar dan wallpaper bernuansa vintage tak jarang membuat pengunjung betah berlama-lama dan berfoto cantik untuk dipajang di media sosial.
Namun Nita kurang memperhatikan. Ia hanya fokus pada capcay, nasi dan udang asam manis yang dihidangkan. Ia sibuk melahap semua makanan itu karena sejak pagi tak ada camilan yang menyapa ususnya.
"Hei, Fredy!" Suara cempreng Vina membuat laki-laki yang sedang berdiri di dekat kasir menoleh. Lelaki itu kemudian mendekat. Nita yang belum selesai memuaskan perutnya yang sedang kelaparan itu langsung saja menghentikan makannya. Dia kaget. Makanan yang masih memenuhi mulutnya segera ia kunyah dan telan. Secepat kilat ia mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
"Nit, kenalin. Dia ini Fredy, pemilik cafe ini." Vina dengan penuh semangat memperkenalkan laki-laki itu kepada Nita, laki-laki tampan yang membayar ongkos bisnya tadi.
Nita dan laki-laki itu saling melempar senyum saat berjabat tangan. Namun dalam hati, Nita merasa malu setengah mati karena laki-laki itu tahu ia sedang tak membawa dompet tapi bisa makan dengan lahap.
Bondowoso, 28 Januari 2022
Komentar
Posting Komentar